Buy now

31 C
Semarang
Kamis, Mei 30, 2024
spot_img

Ngaret, Kebiasaan Buruk yang Membudaya

Sumber foto: Pixabay/Geralt

“Datang kesananya agak nantian aja, paling acaranya ngaret.”

Kalimat tersebut mungkin tak sengaja terbesit dalam diri kita saat akan bertemu dengan orang lain atau akan menghadiri suatu kegiatan.

Sesuai dengan asal katanya (karet), ngaret artinya melar atau molor yang biasa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang melar atau molor dari waktu yang telah direncanakan. Istilah ini mulai muncul bersamaan dengan maraknya bahasa gaul pada tahun 1970 dan menguat hingga pasca reformasi.

Baca Juga:Abid Hibanillah : Hobi Videografi Hingga Dirikan Komunitas Sendiri

Saat ini, ngaret sudah dianggap wajar. Mengapa demikian? Kebiasaan ngaret terjadi lantaran sikap indisipliner dan kurangnya rasa menghargai waktu orang lain.

Kebiasaan ngaret merupakan suatu kebiasaan buruk, tetapi dianggap sebagai hal yang lumrah. Sebab, di sekeliling kita banyak orang melakukan hal yang serupa, seolah-olah ngaret sudah menjadi sistem yang mengakar sehingga menjadi budaya yang sulit ditinggalkan.

Baca Juga: Ingin Jadi Mahasiswa Berprestasi? Simak Lima Tips Ini

Budaya Ngaret

Istilah ngaret pasti telah familiar di telinga orang Indonesia, atau mungkin sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Orang yang suka ngaret ialah orang yang suka merenggangkan waktu alias datang terlambat.

Tak jarang orang yang ngaret awalnya ialah orang yang suka datang tepat waktu. Namun, karena orang lain datang sesukanya dengan berbagai alasan, akhirnya mereka pun “balas dendam” dengan datang terlambat pula. Alih-alih orang yang ngaret bisa menjadi tepat waktu, malah sebaliknya.

Padahal kebiasaan datang terlambat berpotensi membuat sebuah kegiatan yang telah direncanakan menjadi molor dan tidak sesuai kesepakatan awal.

Inilah yang menjadikan orang lain yang telah berusaha datang tepat waktu merasa tak dihargai atas waktu yang telah diluangkan.

Nah, apakah kamu termasuk orang yang suka ngaret?

Baca Juga: Quarter Life Crisis atau Pertanda Lemahnya Iman?

Perihal Menghargai Waktu

Rasa menghargai waktu di Indonesia dinilai masih rendah. Keterlambatan seringkali dinormalisasi, dan alasan selalu dijadikan manipulasi.

Di negara lain, seperti Jepang, Swiss, Korea Selatan sangat menerapkan budaya tepat waktu. Terlambat satu menit dianggap tak menghormati orang lain. Berbeda dengan di Indonesia yang menganggap wajar akan hal itu.

Sebenarnya ada sebagian orang yang tidak mau terjebak dengan kebiasaan mengulur waktu atau ngaret. Mereka ialah orang-orang yang rela mengorbankan waktunya di sela-sela agendanya untuk orang lain.

Akan tetapi, orang lain dengan mudah mempermainkan waktunya. Dan parahnya, orang-orang yang ngaret terkadang tidak merasa bersalah ketika terlambat yang membuat orang lain menunggu.

Ada banyak budaya di Indonesia yang seharusnya dapat dilestarikan, namun mengapa kita lebih memilih untuk melestarikan budaya ngaret?

Semoga saja kita bisa menjadi manusia yang disiplin, bisa menghargai waktu, dan terhindar dari budaya ngaret.

Penulis: Indah Wulan
Editor: Haqqi Idral

baca juga

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0PengikutMengikuti
3,609PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

terkini