Buy now

31 C
Semarang
Kamis, Mei 30, 2024
spot_img

Rahasia Kelam yang Terkuak

ilustrasi:lpmmissi/Lina

Di sebuah tempat yang entah ada di mana, suasananya begitu aneh. Sejauh mata memandang, yang tersaji hanyalah gelap nan pekat. Suara keheningan seolah menjadi latar, terasa sangat mencekik.

Di bagian sudut ruangan gelap itu terdapat seorang perempuan yang sedang meringkuk ketakutan. Dirinya sedang berusaha sembunyi dari sesuatu yang tidak diketahui.

Sedetik, dua detik, tiga detik, seolah waktu merangkak begitu lama dan janggal. Hingga pada bilangan detik yang tak terhitung, atmosfer berubah menjadi lebih dingin dan mencekam. Tiba-tiba dari arah yang tak terduga, terdengar geram pelan namun mampu mendirikan bulu roma. Saat itulah perempuan tersebut sadar bahwa dirinya, sedang dalam bahaya.

Aku terbangun dengan badan yang bersimbah keringat, napas yang berkejaran, dan jantung yang berdetak lebih kencang. Ini bukan pertama kalinya diriku bermimpi aneh. Entah apa yang terjadi, dalam kurun waktu tiga minggu diriku sudah memimpikan hal yang kurang lebih hampir sama sebanyak tiga kali. Aku merasa ini sudah lebih dari tak wajar, namun aku tidak tahu harus mencari jawabnya ke mana.

(Kantin)

“Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini kok kena omel terus? Hati-hati loh, bu Endang orangnya gak segan-segan buat ngedepak siapa saja. Termasuk masalah Dina kemarin, padahal cuma perkara salah ukur kain satu centimeter doang kan,” ucap Tari menegurku.

“Iya aku tahu. Eh, si Linda kemana deh?” Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Itu orangnya. Bentar ya aku ambil pesanan dulu.” Aku hanya mengangguk seraya melambaikan tangan pada Linda yang berjalan santai ke arah meja kami.

“Eh mau ambil pesanan ya Tar? Tolong dong sekalian beliin aku orange juice sama somay.”

“Okedeh. Nitip Bella ya, tolong kasih wejangan biar nggak dapat surat PHK bulan depan.”

“Sialan lo!” Kataku pura-pura marah. Seketika meledaklah tawa kami bertiga.

“Kenapa kamu, mimpi buruk lagi? Keinget ortu atau masih ngerasa di kuntit sama seseorang?” Tanya Linda bertubi-tubi sesaat setelah dirasa Tari tak mendengar obrolan kami berdua.

“Gitu deh.”

“Gitu deh yang mana nih?” Kejar Linda tak sabar.

“Semuanya,” ucapku enggan untuk membahasnya.

“Hm, kalau kamu kayak gini gimana aku bisa bantu. Kamu bilang, kamu masih penasaran sama sebab musabab kematian orang tuamu. Kamu bilang akhir-akhir ini sering mimpi buruk yang bentuknya selalu serupa. Terakhir kamu bilang belakangan ini ada yang mengikutimu juga kan? Kamu nggak ngerasa ada yang salah dari itu semua?” Linda mencercaku habis-habisan, membuatku tidak enak hati untuk tetap bungkam.

“Iya, semalam aku mimpi lagi, kemarin malam aku juga ngerasa diikutin lagi,” Jawabku pada akhirnya. Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan siapapun, namun aku sudah terlalu banyak bercerita kepada Linda. Jika saja aku tidak menceritakan semua ini padanya. Namun apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur.

“Woi! Ngelamun aja sih. Fix banget, pokoknya aku harus menginap di kostmu malam ini. Itung-itung irit bensin, rumahku kan jauh, apalagi kan nanti pulang malam. Bahaya loh cewek pulang malam sendirian,” ucapnya sambil menampilkan mimik wajah ketakutan.

“Hah, ngapain? Alasan aja. Biasanya juga pulang sendirian malam-malam berani. Katanya jago bela diri, masa takut pulang sendiri?” Jawabku memanas-manasi agar Linda mengurungkan niatnya.

“Ayolah sekali ini aja,” Linda membujukku dengan raut wajah memelas.

“Mau ngapain sih?” Kataku, berusaha menolaknya.

“Ya buat jagain kamu lah.”
Saat aku ingin mendebatnya, tiba-tiba Linda memberikan isyarat dengan kedipan matanya sekejap. Tak lama dari itu Tari telah datang membawa pesanan kami bertiga. Tatkala mataku bertatapan dengan Linda, aku hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Aku tahu pasti Linda tentu bersungguh-sungguh dengan ucapannya tadi.

(Perjalanan pulang)

Pada akhirnya Linda benar-benar ikut ke kostku. Dirinya terlalu keras kepala jika ditolak kemauannya. Padahal aku sudah mewanti-wanti dirinya jika mungkin saja penguntit itu akan kembali melakukan aksinya. Namun dia terlalu percaya diri. Linda memang perempuan yang mandiri, kuat dan setia kawan. Hal seperti ini semata-mata dia lakukan karena dirinya tidak ingin aku melalui semua ini sendirian.

Aku terbangun dari lamunan saat Linda menggamit lenganku, seketika hatiku mencelus. Bagaimana tidak, tiba-tiba di ujung gang persis di perempatan jalan telah terdapat dua sosok yang berdiri di sisi kanan dan kiri jalan. Saat aku menarik Linda mundur dan menoleh ke belakang, di sana sudah terdapat seseorang yang berdiri di jalan menghadang, memisahkan gang dan jalan utama. Hatiku kebat-kebit dengan kenyataan itu. Meskipun kami berdua berbekal bela diri, namun aku tak yakin kami bisa menghadapi ketiga sosok itu. Pada akhirnya aku dan Linda hanya bisa saling memunggungi untuk menjaga serangan dari arah belakang.

Seakan semuanya masih belum cukup, tiba-tiba hujan turun begitu lebat. Tengah malam, gang sepi, hujan lebat, masih ditambah fakta dua perempuan melawan tiga sosok aneh dengan tampang mengerikan. Lengkaplah sudah, seakan semesta sedang berkonspirasi untuk menghancurkan kami berdua.

(Ruang gelap)

Aku terbangun tanpa adanya cahaya sedikitpun. Mulanya aku kira sedang bermimpi. Suasana yang gelap, tempat yang asing. Persis seperti bunga tidurku tiga minggu belakangan ini. Akan tetapi, fakta bahwa aku mampu merasakan ngilu dan kesakitan di seluruh badan, itu sudah cukup membuatku sadar bahwasanya aku tidaklah bermimpi. Perlahan-lahan ingatanku kembali pada kejadian sebelumnya, sontak air mataku meleleh tak terbendung lagi.

“Isabella.” Aku menoleh ke sumber suara. Jantungku rasanya hampir jatuh saat melihat Linda sudah dikuasai oleh lawannya.

“Lepaskan temanku!” Aku sangat marah sekaligus gelisah.

“Maaf Isabella. Tidak ada satu orang pun yang boleh tahu soal ini, kecuali kau. Yang lain lenyapkan! Begitu perintah tuanku yang agung.” Aku menjerit kuat-kuat tatkala dengan mudahnya sosok yang ternyata adalah seorang lelaki itu, memelintir leher sahabatku. Di tengah guyuran hujan, suara seperti tulang patah terdengar begitu kentara. Tanpa pikir panjang aku menerjang laki-laki tersebut. Namun dengan gampang, ia mengelak setelah sebelumnya melemparkan tubuh Linda yang sudah tak bernyawa. Tidak berhenti sampai di situ, ketika tubuhku terdorong ke depan akibat seranganku yang hanya menggapai angin, laki-laki itu mengayunkan tangan ke tengkukku hingga membuatku terjerembab.

“Tidurlah Isabella, waktunya hampir tiba. Sebentar lagi.” Itulah kalimat terakhir yang aku dengar sebelum kegelapan mengambil alih semuanya. Ketika aku sedang meratap, menangisi semua hal yang terjadi pada diriku, sekonyong-konyong aku mendengar namaku disebut.

“Bella, Isabella, anakku..” suara itu, mungkinkah?

 

Aku terus berlari cepat hingga tidak memedulikan suara-suara di belakang sana. Rasanya sungguh sulit dipercaya. Bagaimana bisa, orang yang telah mati hadir bahkan memberi pertolongan. Jika aku tidak mengalaminya sendiri niscaya aku tidak akan percaya.

Namun, ternyata semua itu benar. Suara itu memang milik dua orang yang meninggalkanku secara tiba-tiba, yang kepergiannya menyisakan tanda tanya besar. Merekalah orang tuaku.

“Bella, kemarilah anakku, ini bunda. Ikutlah bersama bunda, kita tinggalkan tempat ini, nak.”

“Kamu siapa!?” Aku menengok sana-sini, namun yang terlihat hanya kegelapan.

“Kita tidak punya banyak waktu, cepat tinggalkan tempat ini!” Ini suara ayahku yang begitu tegas. Tubuhku semakin bergetar tak karuan ketika mendengar suara itu. Bahkan diriku nyaris pingsan. Tiba-tiba tubuhku melayang ke atas sangat tinggi hingga sebuah atap di atas badanku terbuka dengan suara kencang, seolah ada yang mendobraknya.

Sesaat aku hanya bisa termangu. Aku tidak mengerti kenapa banyak orang di atas sini. Belum sempat aku mencerna semuanya, kembali terdengar suara lantang ayahku yang memintaku segera pergi dari tempat ini. Dengan buta arah, aku berlarian di bangunan ini yang ternyata cukup besar ukurannya. Setiap kali ada orang yang berusaha menahanku, entah bagaimana orang tersebut langsung terlempar begitu saja.

Aku terus berlari meskipun tubuhku sudah terasa begitu lemah. Pandanganku masih berkunang, namun aku tidak berani berhenti sedetik pun, bahkan takut untuk menoleh ke belakang. Ketika napasku hampir habis, akhirnya aku menemukan pintu besar yang kuyakini sebagai pintu utama. Setelah berhasil melewati pagar dan mendapati diriku sudah berada di jalan besar, terciptalah seulas senyum di bibir ini. Namun, belum sempat senyum itu merekah, terdengar suara klakson mobil yang memekakkan telinga dibarengi dengan benturan yang mengakibatkan tubuhku terhempas beberapa meter dari ruas jalan.

“Bella!!” Tiba-tiba ayah dan ibu telah berjongkok di hadapanku, jika semula aku hanya mendengar suara, kini aku benar-benar melihat keduanya. Tanpa terasa air mata kembali mengalir hingga membuat pandanganku menjadi berkabut.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang-orang itu, Bunda, Ayah? Kenapa orang-orang itu mengejarku? Apa yang terjadi pada keluarga kita, kenapa jadi kayak gini?” Ayah dan ibuku saling tatap untuk kemudian serempak menjulurkan tangan mereka menyentuh mataku. Dari itu semua, jawabannya seakan tergambar dengan jelas.

Aku melihat beberapa gambar reka adegan. Gambar pertama, memperlihatkan orang tuaku yang dulunya miskin seketika saja berubah menjadi miliarder. Gambar beralih saat mereka pindah ke kota, saat dua adikku terlahir lalu mati dengan cara yang berbeda, adik bungsuku tewas karena tenggelam, sedangkan adikku yang satunya lagi meninggal karena terpatuk ular. Gambar selanjutnya ada pada semacam gua, di sana duduklah seorang kakek renta. Kedua orang tuaku berniat untuk memutus perjanjian terkait pesugihan yang mereka lakukan. Gambar berubah kembali, saat rumah kami terbakar. Aku melihat di dalam kamar, kedua orang tuaku sudah menjadi mayat. Rupanya kebakaran itu hanya kamuflase untuk menghilangkan jejak.

Aku menggigil dengan kenyataan itu. Hatiku sungguh hancur. Rasanya aku ingin memaki, mengumpat sejadi-jadinya. Aku sangat jijik dengan keduanya, namun aku bisa apa? Di saat aku meregang nyawa seperti ini, tidak selayaknya aku menyakiti mereka. Bukankah keduanya telah menerima ganjaran atas dosa-dosanya?

“Ternyata benar, mau sejauh apapun aku berlari, jika sudah tiba waktunya, bahkan setelah kalian datang dan berupaya keras menyelamatkan diriku, maut memang tidak bisa ditawar. Apapun yang sudah terjadi pada kita semua, aku memaafkan kalian, aku tetap sayang ayah dan bunda.” Rasanya masih ada satu pertanyaan yang ingin ku utarakan. Tentang kenapa mereka membawaku ke tempat ini? Bukankah kedua adikku meninggal secara wajar? lalu kenapa mereka seperti ingin menangkapku hidup-hidup? Apa yang mereka mau? Tetapi apa boleh buat jika untuk sekedar membuka mulut pun aku sudah tidak sanggup lagi.

Selesai

Penulis: M.Amin Hambali

Editor: Aulia A. Putri

baca juga

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0PengikutMengikuti
3,609PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

terkini