spot_img
HomeCerpenSi Anak Nakal

Si Anak Nakal

Foto: Lpmmissi.com/ Doc.

Pagi ini jam pelajaran kosong. Kami batal ulangan matematika. Beberapa siswa SD yang mengenakan masker tampak sedang berlarian di tengah lapangan. Tak sungkan dengan tatapan tajam kepala sekolah di muka pintu.

 

Beberapa minggu yang lalu, kepala beliau sempat terkena bola kasti nyasar. Tapi tetap saja kepala sekolah tidak kapok memperhatikan siswanya dari sana.

 

“Boleh bermain, tapi jangan berisik dan jangan sampai keringatan saat jam pelajaran selanjutnya,” itu yang ia ucapkan kepada kami. Membuat kami anak laki-laki dan beberapa siswi yang suka olahraga meloncat-loncat saking girangnya.

 

“Yuk ke perpus, Za.” Ajak Kania. Ia menggamit lenganku, beberapa siswi yang memperhatikan kami tampak mencibir. Bukan secara harfiah, hanya saja begitulah aku mengartikan tatapan mereka.

 

Sesampai di perpustakaan. Kami menyapa ibu pengawas, menjelaskan jam pelajaran yang kosong ini begitu sayang dilewatkan jika tidak membaca. Kania yang aktif sekali, langsung mencari buku tentang pelajaran apapun. Ia pintar dan memiliki rasa keadilan yang tinggi. Adil yang justru bisa jadi kelemahannya pada saat tertentu, setidaknya begitulah menurutku.

 

Berbeda dengan Kania yang lebih suka berburu buku pelajaran alih-alih aku justru sedang mengitari rak buku fiksi. Mencari antologi cerpen yang tak sempat kutamatkan waktu itu.

 

Perpustakaan di sekolah kami cukup luas. Terdapat rak buku memanjang dengan banyak sekali buku-buku di dalamnya. ada fiksi, non fiksi, buku tentang kebudayaan di kabupaten kami dan tentu saja juga buku-buku pelajaran yang diberikan oleh pemerintah.

 

Setelah aku cari-cari bukannya antologi cerpen yang kutemukan malahan aku melihat sosok siswa yang terkenal nakal tengah duduk di salah satu kursi. Sebenarnya memang ada beberapa pengunjung lain selain kami tapi saat itu, aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di tempat seperti ini, si anak nakal ternyata sedang membaca buku. Aku tidak bisa untuk tidak menutup bibirku dengan tangan, terhenyak dan kaget.

“Ah, terciduk lagi kan kamu,” ujarku sambil mengembangkan senyum.”

 

Aku mendekati Si Anak Nakal dan penasaran dengan apa yang ia baca. Ternyata sebuah komik yang seharusnya dilarang di bawa ke sekolah.

 

“sejak kapan disini?” Tanyaku padanya.

 

“Sejak aku yakin kamu akan kesini.”

 

Sebetulnya aku penasaran di mana ia menyembunyikan komik itu saat membawanya ke sini. Tapi jawabannya barusan membuatku sedikit terguncang. Apa dia mencariku untuk meminjam uang? Minta diajarkan PR? Atau iseng doang? Tapi hatiku berkata, ia sebenarnya punya maksud lain. Maksud lain yang kupikirkan ini kulipat dan simpan rapat-rapat dihatiku.

 

“Aku mau minjam uang buat tugas prakarya boleh?”

 

“O gitu, okelah.” Aku mengeluarkan uang 10 ribu. Lebih dari cukup untuk membeli bahan prakarya tersebut.

 

“Ambil aja, gak usah bayar” kataku lagi, yang ia balas dengan tatapan tajamnya.

 

“Uang yang kupinjam dari kamu 67 ribu, ya”

 

*

 

“Faiza…”

 

Setengah berteriak, Kania datang dengan buku rumus matematikanya.

 

“Terima kasih untuk uangnya,” ucap Si Anak Nakal. Ia kemudian berlalu. Saat ia dan Kania berpapasan. Kania memberinya kemarahan.

 

“Balikin uang Faiza! malak anak gadis orang itu gak baik, mau jadi preman kamu, huh?” Tanpa memberikan respon, mengabaikan kemarahan yang ditujukan kepadanya, Si Anak Nakal melenggang keluar.

 

Entah sejak kapan, aku melihat komik Naruto yang ia baca tadi terselip di punggungnya, tepatnya di balik baju. Ia tempelkan pada sela-sela celananya yang tak ada ikat pinggang itu.

 

Si Anak Nakal telah pergi, menyisakan aku dan Kania dengan wajah kesalnya. Ia menghampiriku, lalu dengan kasar, menggenggam dan menarik tanganku hingga kami akhirnya sampai di depan perpustakaan. Pengawas perpus tak melihat kami, beliau sibuk dengan berita selebriti yang ia tonton di televisi kecil yang dipajang antara foto presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada dinding perpustakaan. Di atas televisi itu ada hiasan yang dibuat dari kertas minyak, sudah usang dan bertuliskan.”membaca adalah gudang ilmu”

 

“Ayo ke kantor sekolah” ajak Kania, memaksa.

 

Aku melepaskan genggaman tangannya dan merasa geli sendiri dengan tindak keadilannya yang selalu terburu-buru. Karena hal inilah ia disukai banyak guru. Tapi disisi lain, teman sekelas kami, apalagi geng cewek yang malas belajar dan sok cantik itu, tidak menyukai Kania. Tapi Kania bilang, selama ada aku sebagai sahabatnya, ia tak masalah dikucilkan.

 

Adakah ia tahu? akibatnya, aku juga tidak banyak memiliki teman di kelasku sendiri.

 

“Kenapa gak langsung ke kantor polisi aja” candaku.

 

“Kamu itu kenapa sih, sudah dua kali aku lihat Si Anak Nakal malak kamu, Za”

 

“Hahaha, malak? kamu tuh kadang lucu tahu gak!”

 

”Kebenaran bukan cuma dari yang kamu lihat, Nia, Si Anak Nakal gak sejahat yang kamu kira”

 

“kamu itu udah dipengaruhi dia, Za… dia itu cuma pengen duit kamu”

 

Sedikit kesal, aku mengalihkan pandanganku dari Kania. Kami sama-sama melipat kedua tangan kami di depan perut. Perdebatan antar sahabat yang entah sudah beberapa kali, sepertinya akan terulang kembali.

 

Tak ada habisnya, bahkan hingga kami dibuat bertengkar dan akhirnya menangis sambil berpelukan.

 

Sampai aku bisa meyakinkan anak yang keras kepala ini, dengan rasa keadilannya yang berlebihan itu. Aku tidak akan mengalah. Jika Kania sekeras kepala itu aku juga bisa kok.

 

“Kamu itu gak kenal dia orangnya gimana, jadi jangan nilai dia seremeh itu”

 

‘Kamu yang gak bisa nilai dia, kamu itu udah diguna-guna, makanya kamu suka sama dia”

 

Glek! aku tercekat. Tak menyangka Kania akan berkata begitu. Di kelas memang hanya aku anak perempuan yang berteman baik dengan Si Anak Nakal. Bukankah ini juga berlaku dengan Kania yang bahkan tidak punya teman selain aku?

 

Lagipula, kami hanya anak kelas 5 SD. Mana mungkin ada rasa suka semacam itu. Kurasa.. Tapi, Aku menghela napas, Kania sudah keterlaluan. kami memang hidup di desa, tapi aku tak menyangka Kania yang selalu berpikiran logis bisa mengada-ngada seperti itu. Diguna-guna? Sama sekali aku tak mengerti apa yang dipikirkannya.

 

“Asal kamu tahu… Si Anak Nakal itu cuma seorang anak yang dipaksa untuk mencari ikan di laut. Padahal ia gak pernah sekalipun diajarin berenang sama ayahnya.”

 

“Maksud kamu apa?” Kania mengerutkan dahinya, tak mengerti.

 

“Makanya, bukannya dapat ikan ia kadang malah ngebocorin perahunya sendiri sampai tenggelam”

 

“Terus kamu mau tenggelam juga bareng anak nakal itu, Za?”

 

“Enggak, aku gak bisa berenang. Aku cuma mau ngasih pelampung… karena itu yang ayahku ajarin.”

 

Aku kemudian menatap Kania yang terdiam dengan ragu. Bisakah ia mencerna apa yang ku ucapkan? atau jangan-jangan terlalu bertele-tele dan tidak nyambung? Entahlah, aku adalah anak dengan pemikiran yang rumit. saking rumitnya aku seringkali dibuat asik dengan duniaku sendiri. Dibuat sulit mengutarakan pendapatku pribadi.

 

“Faiza”

 

“Eh iya apa?”

 

“Kok kamu liatin aku dengan tatapan seram gitu, enggak lagi kesurupan kan?”

 

“Ishh, mana ada Nia” aku mengelak dengan perasaan malu. Kan, lagi-lagi aku terlalu banyak merenung.

 

“Udah ya, pokoknya kamu gak kenal Si Anak Nakal orangnya gimana… Jadi jangan pernah menilai dia dengan rumor yang belum tentu seperti itu,” jelasku.

 

“Aku kan gak naksir dia, buat apa aku harus tahu soal dia.”

 

“Ishh, bukan gitu Nia, sebenarnya itu gini… Tapi kamu jangan bilang ke siapa-siapa ya”

 

Aku kemudian memberi tahu Kania, bagaimana aku bisa mengenal Si Anak Nakal. Dia yang seorang anak yatim, dia yang bekerja di bengkel dan kadang terpaksa libur sekolah karena menemani ibunya yang sakit dan sungguh betapa jahatnya rumor yang beredar. Membuat dia yang awalnya bernama Muhammad di cap sebagai “Si Anak Nakal”. Dituduh mencuri, mencontek, merokok, salah pergaulan dan sebagainya.

 

“Tidak apa-apa, aku lebih suka ditatap dengan kebencian dibanding ditatap dengan kasihan, sudah nasibku begini,” ucap Si Anak Nakal saat aku bilang ingin meluruskan rumor yang beredar.

 

*

 

“J-jadi waktu itu yang kamu bilang benar, Si Anak Nakal gak mencontek?” Mungkin Kania teringat dulu pernah mencecar habis-habisan Si Anak Nakal dengan tuduhan mencontek saat ulangan.

 

Pertanyaan dari Kania kujawab dengan anggukan. Si Anak Nakal memang pemberontak, memang sering bertingkah nakal. Tapi ayahku bilang, itu karena dia yang ingin mendapatkan perhatian dari orang lain.

 

Si Anak Nakal yang tumbuh dengan kenakalannya bukanlah salah dia semata atau ketidakmampuan orang tuanya dalam mendidik. Tapi karena pengaruh orang-orang sekitar yang tidak memperlakukannya dengan baik.

Penulis: Ihsanul Fikri

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

PALING BARU

PALING POPULER