Buy now

31 C
Semarang
Kamis, Mei 30, 2024
spot_img

Survei LPM MISSI: 99% Camaba UIN Walisongo Keberatan Harus Membayar UKT

 

Foto:lpmmissi.com/Indah

SEMARANG, LPMMISSI.COM – UIN Walisongo telah menerima mahasiswa baru (maba) pada 2023 melalui enam jalur, yaitu Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN), Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), Mandiri, dan Mandiri prestasi.

Sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), UIN Walisongo dianggap memiliki uang kuliah tunggal (UKT) yang terbilang murah, seperti perguruan tinggi negeri lainnya. Pandangan akan mendapatkan UKT yang cukup murah juga timbul jika lulus melalui SNBP, SPAN-PTKIN, SNBT maupun UM-PTKIN.

Namun, biaya kuliah murah itu hanyalah angan-angan belaka. Penetapan UKT yang didasarkan pada tingkat kemampuan ekonomi mahasiswa, orang tua mahasiswa, atau pihak lain yang membiayai, serta program studi yang dipilih, membuat calon mahasiswa baru (camaba) merasa keberatan dengan UKT yang harus dibayarkan. Hal itu muncul karena camaba menilai tidak sebanding dengan kondisi ekonominya.

Berangkat dari permasalahan tersebut, lpmmissi.com mengadakan survei terkait Ketepatan Nominal UKT Mahasiswa Baru UIN Walisongo 2023 untuk mengetahui keresahan camaba UIN Walisongo yang diterima melalui jalur SNBP, SPAN-PTKIN, SNBT, UM-PTKIN, Mandiri, dan Mandiri prestasi.

Survei tersebut mendapatkan 194 responden selama 6 hari, 13-19 Juli 2023. Berdasarkan data yang diperoleh, 99% mengaku keberatan dengan nominal UKT yang harus dibayarkan. Rata-rata mendapatkan UKT sebesar Rp. 4.973.428 atau setara dengan UKT Golongan 5 atau rentang Rp. 3.681.000 hingga Rp. 5.891.000. Dari hasil survei, diketahui ada 68 camaba UIN Walisongo 2023 yang mendapatkan golongan tersebut.

Pilih Mundur

Responden sebanyak 21 camaba memilih tidak melanjutkan setelah mengetahui besaran UKT yang harus dibayarkan. Keputusan ini diambil oleh Hana (bukan nama sebenarnya), camaba UIN Walisongo yang lolos seleksi melalui UM-PTKIN.

Ia kecewa karena impiannya kuliah di Jurusan Ilmu Falak harus ditanggalkannya.

“Sebenarnya saya masih ingin di UIN Walisongo dengan jurusan itu kalau UKT turun ke golongan 1 atau paling tidak 2,” ucapnya.

Dengan banyak pertimbangan yang dilalui olehnya, akhirnya Hana memilih untuk mundur dan berniat untuk mencari universitas lain yang menerimanya sebagai mahasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

“Karena UKT yang besar orang tua bilang nggak sanggup, sekarang saya daftar di universitas lain dengan jalur beasiswa,” imbuhnya.

Keputusan yang sama juga diambil oleh Nabila Desyika Irmawati, camaba UIN Walisongo yang lolos di Jurusan Biologi.

Ia mengatakan orangtuanya tidak sanggup membiayai kuliah bersama dengan saudara kembarnya.

“Orang tua yang kerja hanya bapak dan saya juga barengan dengan saudara kembar untuk masuk PTN. Sedangkan kebutuhan untuk sehari-hari juga membutuhkan biaya yang cukup banyak,” katanya.

Prihatin dengan kondisi perekonomian keluarga, Nabila dan saudara kembarnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari UIN Walisongo.

Sabar Saja, Ikhlas

Sementara itu 89,2% responden atau 173 camaba tetap melanjutkan pendidikan di UIN Walisongo. Responden sebanyak 59,8% orangtuanya memiliki penghasilan kurang dari Rp2.000.000. Sedangkan 31,4% responden orangtuanya berpenghasilan Rp2.000.000 hingga Rp4.000.000. Sisanya, 8,8% responden orang tuanya berpenghasilan lebih dari Rp4.000.000.

Syakira (bukan nama sebenarnya), camaba UIN Walisongo yang lolos seleksi di jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), menceritakan ketika memberi tahu biaya UKT kepada ibunya.

Syakira terkejut ketika mendapatkan UKT golongan 5. Sementara, pendapatan keluarganya hanya bertumpu pada ibunya yang seorang pedagang dengan pendapatan yang tak lebih dari Rp1.500.000.

Ia pun tidak langsung menyampaikan kepada ibunya.

“Khawatir nantinya jadi beban saat kuliah, bingung bagaimana bisa dapat uang segitu untuk bayar setiap semester,” kata perempuan asal Kediri, Jawa Timur itu.

Syakira baru menyampaikan sehari setelahnya. Sang ibu pun berusaha untuk membuat Syakira legawa.

“Ibu bilang, ‘sabar saja, ikhlas’,” ucapnya.

Ia juga menanggapi adanya himbauan untuk tidak membayar UKT yang disampaikan oleh Dema Sema UIN Walisongo. Namun, Syakira tetap kecewa karena keputusannya hanya perpanjangan waktu pembayaran yang ia nilai bukan solusi yang tepat. Kebijakan ini seolah-oleh “memaksa” camaba dan orangtua atau wali mencari uang untuk membayar UKT.

Meminjam uang demi membayar UKT dialami oleh Arsita (bukan nama sebenarnya), camaba yang lolos sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan. Pendapatan orangtuanya sebagai petani tidak cukup membayar UKT yang ia dapat, Rp5.881.000.

Demi melanjutkan pendidikan Arsita di UIN Walisongo, ia mengatakan keputusan orangtua dengan mencari pinjaman.

“Mereka harus pinjam ke tetangga bahkan bank. Hasil panennya saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sementara itu, Rahma (bukan nama sebenarnya), camaba jurusan Pendidikan Biologi, bimbang apakah harus melanjutkan kuliah atau tidak. Pasalnya ia mendapatkan UKT di golongan tertinggi sebesar Rp7.088.000.

Pendapatan keluarganya bergantung kepada ayahnya yang bekerja sebagai tukang galon dengan penghasilan sebesar Rp1.000.000 sampai Rp1.500.000 perbulan. Pendapatan itu digunakan untuk menghidupi keluarganya termasuk adik perempuannya yang masih sekolah setingkat SLTP.

Saat masih duduk di bangku Madrasah Aliyah, Rahma sangat menginginkan bisa masuk ke jurusan impiannya di perguruan tinggi tanpa melalui tes. Keinginannya tercapai saat lolos seleksi jalur SPAN-PTKIN setelah sebelumnya harus gagal di SNBP.

Namun, ia tak pernah membayangkan akan mendapatkan UKT dengan nominal yang tinggi. Ia mencoba peruntungan dengan mendaftar KIP-K, tetapi tertolak.

“Sayang kalau dilepas, saya harus mencari PTN lagi dengan jurusan yang mungkin kurang saya suka dan harus tes lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, sang kakek memintanya untuk tetap melanjutkan di UIN Walisongo. Hingga keluarga besarnya mengulurkan bantuan secara gotong royong kepadanya untuk melunasi pembayaran UKT.

“Saya tidak tahu ke depannya bagaimana. Apakah saya bisa tetap melanjutkan kuliah atau tidak,” tuturnya.

Harapan Camaba 2023 Soal UKT

Survei persoalan nominal UKT yang didapatkan Camaba UIN Walisongo 2023 yang dilakukan lpmmissi.com membuka kolom untuk menuliskan harapan terkait UKT. Harapan yang masuk pun beragam.

Seperti narasumber sebelumnya, harapan melanjutkan pendidikan ialah sebuah keinginan. Namun, soal biaya UKT yang dirasa memberatkan pun dikeluhkan.

“Tolong UKT-nya diturunkan karena terlalu membebani kami yang kekurangan. Ini harapan satu-satunya melanjutkan pendidikan, saya juga sudah gap year. Kalau gap year lagi berat.”

“Lebih memperhatikan lagi mengenai besaran UKT yang diberikan kepada mahasiswa karena pekerjaan orang tua dengan besaran UKT yang diberikan tidak sebanding, jauh dari perkiraan.”

Isu UKT yang dinilai “mencekik” pun diiringi dengan beredarnya dugaan untuk membangun Fakultas Kedokteran di UIN Walisongo.

“Seharusnya dalam memberikan UKT harus sesuai dengan apa yang telah diisi di data diri. Banyak yang awalnya ingin kuliah di sana, tapi harus memutuskan mimpinya untuk mengundurkan diri hanya karena UKT yang terlalu besar. Simpang siur UKT mahal karena membangun fakultas kedokteran, tapi seharusnya tidak dibebankan kepada para mahasiswa baru dengan menaikkan UKT.”

Selain itu, persoalan yang dihadapi camaba UIN Walisongo pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2023 ialah wajib ma’had. Program ini wajib diikuti oleh seluruh maba 2023 selama satu semester dan mengenakan biaya Rp3.000.000. Biaya tersebut pun belum ditemukan rincian fasilitas yang didapatkan.

“Dengan kebijakan UKT yang sebesar ini tentu saya dan orang tua saya sangat merasa keberatan, dan ditambah lagi dengan adanya program kegiatan wajib ma’had untuk para maba jelas menjadi kendala untuk saya dan keluarga.”

“Karna orang tua tidak sanggup untuk bayar sebesar itu, belum lagi bayar ma’had, belum nanti perbulan di ma’had, laundry yang wajib, dan biaya saya selama kuliah.”

Redaksi lpmmissi.com telah mencoba menghubungi Wakil Rektor II untuk menanggapi persolaan UKT Camaba 2023 pada 21 Juli 2023. Namun, tidak ada jawaban sampai berita ini diterbitkan.

Tim Redaksi

 

 

baca juga

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0PengikutMengikuti
3,609PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

terkini