spot_img
HomeBeritaFahruddin Faiz: Cinta sebagai Proses Mengembangkan Diri

Fahruddin Faiz: Cinta sebagai Proses Mengembangkan Diri

foto: doc. lpmmissi.com

SEMARANG, LPMMISSI.COM — Acara “Ngaji Filsafat” yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akidah dan Filsafat Islam (AFI) berhasil mendatangkan pengampu Ngaji Filsafat dari Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta, Fahruddin Faiz.

Bertajuk “Memahami Cinta untuk Menjadi Insan Sempurna”, penggelaran acara pada Sabtu (24/9) di Masjid Al Fitroh kampus 2 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang banjir peserta.

Di awal acara, Fahruddin mengaku bahwa ia sering mendapat ungkapan dari rekan dan koleganya bahwa ngaji seharusnya ya Alquran bukan filsafat.

“Dalam falsafah Jawa itu ada ungkapan, ilmu iku kalakone kanti laku. Sementara ngaji itu berasal dari kata aji, sebagai proses menuju kemuliaan. Jadi menurut saya ngaji itu tidak sebatas mengerti dan memahami mengenai sesuatu belaka,” ungkapnya.

Lebih lanjut, penekun filsafat tersebut turut membagikan resep dan karakter dari cinta itu sendiri. Menurutnya, cinta tak seharusnya hanya berhenti terhadap sebuah entitas belaka, kepada lawan jenis misalnya. Seyogianya cinta juga naik dan mengarah pada sesuatu yang lebih besar, maha.

“Tidak mungkin seseorang bisa hadir, dekat serta wusul dengan penuh khidmat kepada Allah, jika hatinya itu keras. Ciri-ciri hati yang keras yaitu tidak ada cinta di dalamnya, sementara hati bisa lembut jika dihuni oleh cinta,” jelasnya.

Menurutnya, meskipun jatuh cinta itu tidak bisa direncanakan akan tetapi upaya untuk membangun, merawat dan menghidupkan cinta itu harus terus ditempuh, standing in love.

Knowledge, memiliki rasa ingin tahu yang banyak terhadap apa yang dicintainya. Respect, menerima apa adanya dan tidak banyak menuntut. Serta care, kepedulian yang mendalam,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa energi yang dihasilkan dari cinta sendiri itu sangat luar biasa. Seseorang bisa sangat berkembang maju berkat cinta.

“Dengan responsibility, seorang pencinta itu dibuat untuk bertanggung jawab. Contoh kecil, misalnya sewaktu proses menggarap skripsi tidak hanya sebatas memberi semangat belaka kepada pasangan, akan tetapi juga terlibat langsung di dalamnya,” terangnya.

Di akhir pembicaraan beliau berpesan bahwa sebuah kekeliruan jika ada sepasang insan yang sedang membangun cinta, akan tetapi hal itu malah menghambat proses pengembangan dirinya.

Reporter : Fikri Thoharudin
Editor : Oktaviani Elly M

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

PALING BARU

PALING POPULER