Penantian Semu Di Ujung Senja

Ilustrasi. courtesey https://pixabay.com/id/photos/matahari-terbenam-pohon-siluet-3156176/

Namun, Simuh, Agus dan yang lain begitu pandai menggoda. Mencari kerang lah, mengirim pesan ke laut lah atau membangun istana pasir yang tak pernah jadi sebab dirusak oleh musuh besarmu, Ridwan, yang katanya nakal itu. Tapi tahukah dirimu? dialah kelak yang akan melamarmu pada Ayah.

Saat senja, Kasih terduduk diatas beranda rumah. Kapankah Cinta akan datang? Aku tak tahu. Apakah Cinta akan pergi meninggalkan Kasih selamanya? Entahlah. Namun, sampai kapan Kasih akan menunggu?
tak sekalipun aku bertanya. Sebab pertanyaan itu juga berlaku untukku.

*
Ombak selalu setia, hanya saja Ia tak pernah berjanji akan membawanya padaku Barangkali ombak hanya ingin bermain, Kasih. Bukankah langkah kita tak pernah ragu menginjak bibir pantai. Merasakan butir-bulir pasir-air laut menyentuh kulit. Kaki yang gontai, tangan yang bersorak menyambut angin yang sorai. Tapi kini, sudah tak lagi. Debur ombak tak lagi berteriak. Riak air tak lagi mengecup jemari kakimu.

“Kasih, jangan bermain di pantai” Ia melarang

Namun, Simuh, Agus dan yang lain begitu pandai menggoda. Mencari kerang lah, mengirim pesan ke laut lah atau membangun istana pasir yang tak pernah jadi sebab dirusak oleh musuh besarmu, Ridwan, yang katanya nakal itu. Tapi tahukah dirimu? dialah kelak yang akan melamarmu pada Ayah.

“Tolong berikan ini pada Kasih, Paman” kata anak itu padaku. Bukankah dia yang menjadi buah bibir sebelum kau tidur? Bocah nakal yang bisanya cuma mengganggu. Seringkali kau ceritakan Ia bergelut dengan kawan-kawan yang lain dan yang lebih parah ada-ada saja caranya membuat tangis dimatamu.

Baca Juga : Terlantar

Tapi menurutku, itu caranya menarik perhatianmu, Kasih. Sadarkah kau anakku? Benih-benih cinta telah bertunas di langit hatinya juga hatimu. Ya, sudahlah, kalian memang masih terlalu bocah untuk cinta-cintaan. Saat ini, aku harus menjauhkannya darimu. Seperti yang Cinta bilang dan aku setuju. Ridwan hanya menjadi pengaruh buruk untukmu.

Secarik kertas dan botol aqua kosong yang jangan-jangan Ia ambil dari tong sampah. Ini cendramata pertama yang kau terima. Bahkan bertemu saja kau enggan dengan mereka apalagi dia, sudah empat bulan lamanya. Sudah empat bulan Cinta pergi meninggalkan kita.

Dari kedua matamu, kau lihat. Langit sedang merekah, Jingga atau merah, seolah sedang bertarung dan baskara menjadi wasitnya. Namun, malam keburu datang mengaburkan pandangan dan baskara telah tenggelam sebelum mengumumkan hasil pertandingan.

Setelahnya, kau berlalu ke dalam rumah. Aku mengikutimu dari belakang lalu menyentuh pundakmu yang telanjang. Ya, seperti anak pantai lainnya. Kau hanya mengenakan celana pendek dan kaus kutang. Kulitmu sawo matang, seperti Cinta. Rambutmu lurus setinggi bahu, seperti Cinta. Pokoknya kau perfect copy dirinya. Karena itulah sering kusebut-sebut kau Cinta keduaku dan itu benar adanya.

“Sayang, ini ada hadiah untukmu dari Ridwan”

Kau hanya menoleh, tapi tentu saja itu lebih baik. Aku yakin, suatu hari kau akan tertawa. Aku yakin kau akan bertemu kembali dengan Cinta. Dan penantian yang menyedihkan ini, kau yang terus-terusan murung di beranda rumah kita yang sederhana akan berguna pada akhirnya. Maka aku, takkan melewatkan satu kesempatan. Barangkali inilah rahasianya. Kesabaran. Kau yang menanti kedatangan Cinta. Aku yang sabar menanti terbit senyummu yang indah.

“Atau Ayah buang saja? Kata Ridwan kamu bisa bikin menulis surat buat Ibu dengan ini” tentu saja kata-kata itu bohong. Yang sebenarnya terjadi adalah segera ku sambar pemberian Ridwan dan pergi berlalu begitu saja. Lagipula, dia nakal bukan? Ia juga anak dari pak Syahrir, nelayan tua yang sok bijaksana. Telah melaut sejak seusia belia tapi tak kunjung kaya. Bersama Ridwan, masa depan Cinta akan seperti senja. Indah pada awalnya tapi sekejap lenyap ditunggangi awan malam yang muram.

Matamu berlinang menganak-sungai. Segera kau peluk aku dengan erat. “Kasih mau ketemu Ibu yah,” rengekmu.

Malam itu, aku menemanimu, Kasih. Anakku yang berumur enam tahun, sedang menulis surat untuk ibunya . Apakah dia bisa menulis? Tentu saja. Ada sebuah sekolah anak yang dibangun oleh mahasiswa yang mengabdi ke pulau kecil ini sejak lama. Kasih belajar huruf dan angka disana. Tapi apakah malam itu aku bisa membaca tulisanmu? Sayangnya tidak. Sepertinya inilah satu-satu bukti kau anakku. Kita sama-sama lambat dalam belajar. Suratmu itu, tak lebih hanyalah coretan-coretan belaka.

“Udah, yah. Kirim suratnya ke laut yah, buat Ibu,” ucapmu sambil memelas. Kau menyerahkan botol aqua yang berisi surat itu padaku.

Aku bilang, mengapa tidak besok saja? Nanti ada hantu laut, nanti ada penculik, nanti ada monster jahat. “Hiii ayah takut…” sambil bergidik ngeri. Hasilnya, kau berlinang air mata dan kembali memelukku. Memang terlalu kejam menakut-nakuti anak kecil yang berimajinasi tinggi. Tapi apa boleh buat? Kasih, kau keras kepala.

Baca Juga : Alina Tidak Akan Pulang

**

“Bu, aku berangkat ya… Tolong jaga Kasih” biasanya setiap berangkat kerja, aku mengecup kening Cinta. Tapi memang setiap orang tak pernah sempurna kan? Bisa kubilang Cinta begitu matrealistis. Harta memang titipan, katanya. Tapi mengapa Tuhan tidak menitipkan lebih banyak kepada kita?

Ia ingin pindah ke kota, mencari bahagia yang dipikirnya berada disana. Tapi bagaimana mungkin. Disini ada ibu, pekerjaanku dan segala yang berada disini kurasa cukup bagi kami. Tidak kekurangan, kami berkecukupan. Namun sepertinya ada angin yang lebih segar dibanding angin laut disini.

Aku mengecup tangan ibu, lalu kemudian Ia beralih mengecup keningku. Membelai bahuku, aku tahu Ia ingin mengucapkan sesuatu. Tapi aku tidak ingin mendengarnya. Sudahlah, biarkan saja. “Jemputlah Cinta, Mal… Kasihan kasih,” bisik Ibu.

Aku tersenyum kaku.

Tapi siapa sangka, setelah aku berangkat kerja. Cinta datang.

Empat bulan telah berlalu. Kulihat Kasih yang biasa tergugu di depan pintu kini begitu senang dan tak pernah jauh dari ibunya. Ibu pulang, teriak Kasih saat motorku terparkir di depan rumah.

Aku tak tahu apakah surat itu telah ia berikan Cinta. Kasih masih saja menggenggam surat botol itu. Yang kutahu, penantian Kasih telah berakhir. Kesabaran Kasih membuahkan hasil. Ia tertawa menggemaskan memakai baju baru, memainkan mainan baru dan segalanya memang lebih bagus dibanding yang pernah kuberi pada Kasih.

Apakah aku senang? Aku senang melihat Kasih berbahagia.

Namun, tanpa sepengetahuan Kasih, aku telah bercerai dengan Cinta. Banyak hal urusan orang dewasa yang tak perlu diceritakan pada anak-anak bukan? Anak seusianya bahkan tidak akan paham kalau kuceritakan. Tentu bagi Kasih Ibunya adalah Ibu yang sempurna. Tanpa cacat. Cantik, gesit, perhatian dan tahu semua kebutuhannya.

Sedangkan aku, tahu, sejak lama Ia telah menemukan suaka selain keluarga. Sebuah nama (tidak ingin kusebutkan namanya) menjadi orang ketiga. Cinta pergi begitu saja, mengangkut seisi hidupnya kecuali aku dan Kasih ke kota. Mengabaikan Kasih yang menjerit memanggil-manggil namanya, ia tetap saja pergi, apakah hati Cinta batu? Aku terlalu sakit untuk menerka-nerka.

Baca Juga : Pulang

“Minggu depan, aku akan menikah dengan Rizal” katanya. Setelah Kasih telah kabur dari rumah.

Aku tidak kaget dengan nama itu. Aku hanya terluka ketika mendengarnya. Saat kata itu akhirnya keluar dari mulut cinta. Aku bersumpah tidak akan menyebutkan namanya. Ya, aku cemburu. Aku masih mencintai Cinta, bagaimana pun akhirnya.

“Jangan bawa, Kasih” ucapku tegas.

“Tapi aku Ibunya, aku yang melahirkan Kasih. Bersamaku dia akan tumbuh menjadi lebih baik. Pindah ke kota akan membuat Kasih lebih bahagia, seperti yang aku rasakan…”

“Jangan egois Cinta!” bentakku.

“Abang yang egois!”

*

Saat senja, aku terduduk diatas beranda rumah. Kapankah Kasih akan datang? Aku tak tahu. Apakah Kasih akan pergi meninggalkanku selamanya? Entahlah. Namun, sampai kapan aku akan menunggu? tak sekalipun aku bertanya.

Pengarang : Ikhsanul Fikri

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: