Terlantar

Foto: Lpmmissi.com/ idntimes.com

“Tidak ada yang menginginkanku,” aku terus merintih menangisi  keberadaanku yang tidak diinginkan oleh kebanyakan orang. 

**

Kemarin aku menumpang di salah satu rumah warga yang cukup kaya, aku menyebut mereka “Majikan Jahat.” Tepatnya telah 4 bulan lebih 15 hari aku tinggal di sana. Sejak aku dilahirkan  dan ketika itu pula aku ditinggalkan oleh ibuku di rumah itu.  Rumah yang saat waktu menunjukan pukul 8 malam tidak ada satupun lampu yang menyala, seakan kegiatan manusia terhenti pada saat itu hingga fajar menyongsong. Aku suka rumah itu, aku suka kebiasaan orang-orang di dalam rumah itu yang menyelesaikan aktivitas sangat dini.  Majikanku adalah seorang perempuan berumur kira-kira 60 tahun lebih dengan suaminya yang kurang lebih seumuran. Mereka ialah Siti dan Budi, yang kesehariannya hanya menikmati masa-masa tua bersama, terkadang anak dan cucunya datang mengunjungi kedua majikanku. 

Malam hari, ketika semua majikan jahat itu terlelap, aku mulai melancarkan aksi untuk bertahan hidup, ya aku mencari makanan. Tidak sering aku menjumpai makanan lezat di sana, yah meskipun sering juga aku makan makanan sisa mereka. Meski demikian, aku bersyukur bisa makan dengan terjamin tanpa pernah merasa kelaparan. 

“ Wahh ini ada daging segar, aku harus mencicipinya,” dengan segera aku makan dengan rasa berbunga-bunga di hatiku. Seperti tertimpa durian runtuh, ketika melihat daging segar tergeletak di atas meja makan.  

“ Ahh akhirnya kenyang juga, kayaknya aku bisa hidup tanpa makan 2 hari, “ sembari berusaha melepaskan sisa-sisa daging yang terjebak di sela-sela gigiku. Yah tentu saja, tanpaku sadari aku tidak hanya mencicipi daging ayam itu melainkan hampir membabat habis. Yang semula daging penuh satu piring, kini menyisahkan beberapa potong saja. 

Dengan langkah penuh semangat aku kembali menuju tempat ternyaman di rumah ini, yaitu tempat tidurku. Tempat yang terletak dibagian belakang rumah ini, meskipun jauh lagi-lagi aku tetap bersyukur bisa tidur dengan nyaman terlebih tempatnya yang luas. Dengan alas tidur yang  hangat, aku bisa tidur hingga berjam-jam “Aku menyukainya,” sambil menguap. “Inilah hidup, saatnya istirahat..,selamat malam dunia,” seketika aku mulai terlelap. 

**

Pagi yang cerah menghampiriku, sinar matahari mulai terasa, di ujung telinga terdengar suara menyebalkan dari beberapa menit yang lalu. Benar itu suara hewan berkaki dua “Ayam”, aku benci mendengar ocehan ayam sialan. “Kenapa mereka bangun di pagi buta? Apa sih yang perlu mereka lakukan bangun sepagi ini? huhh aku benci mereka,” sayup-sayup aku terpaksa membuka kedua mataku sembari menghela nafas dengan berat.  “Apa kegiatanku hari ini? Ahh aku masih kenyang, “aku mulai bangun meregangkan tubuh yang mungkin bertambah 2 kg setelah hampir menghabiskan sepiring ayam. 

“Mungkin aku harus mencari cemilan untuk pagi ini” dengan langkah santai aku menuju tempat mata pencaharianku sehari-hari yaitu dapur. “Cemilan apa kali ini,” Dengan senandung kecil, aku melangkah dengan gembira. Samar-samar aku mendengar teriakan serta umpatan beberapa orang yang aku kenal. “Ahh mereka majikan dan menantunya, ada apa dengan mereka kenapa pagi-pagi mereka terlihat kesal?” dengan langkah santai aku menghampiri mereka. Terlihat majikanku Siti dan Ratih menantunya sedang berkacak pinggang di ambang pembatas ruang makan dengan pintu dapur. 

Dengan cepat kilat

“Buk… bukk,” pukulan keras tepat mendarat di punggungku. Aku sontak menjerit kesakitan “ Meowwwwwwwww…. Meowwwww”. Akibat pukulan itu membuat seluruh tubuhku memanas, tentu aku kesakitan. “Kenapa si mereka,“ batinku sambil melarikan diri dengan seluruh kekuatan yang ku punya, aku menjauh dari mereka yang marah-marah seperti sedang kerasukan. 

“Rasain Kucing sialan, makan sembarangan…ini ayam mau buat aku bikin soto kenapa dimakan!!!!“ terlihat sorot mata majikanku Siti yang mengandung kebencian menatapku, dengan masih memegang sapu di tangan kanannya. “Udah-udah bu, nanti aku sama mas beli lagi,”  ucap Ratih sambil mengelus pundak mertuanya. “ Yang penting sekarang jangan biarin kucing berkeliaran di rumah ibu,” tambahnya dengan nada tenang, mendinginkan mertuanya yang masih naik pitam. 

Aku terkejut ketika majikanku setengah berlari ke arahku yang otomatis aku lari ke pintu keluar “hush hush..hushh”.

“Pokoknya awas ya sampai berani lagi masuk rumah ini..hus hus sanaaaa,” Siti mengusirku dengan ancaman sapu ditangannya. 

Kini pintu rumah majikan yang tertutup rapat, tidak ada celah lagi untukku masuk ke dalam. Aku berusaha menghibur diri  meninggalkan rumah majikanku dengan berburu makanan di alam bebas, tentunya melewati beberapa rintangan bersaing dengan kucing liar lainnya untuk bertahan hidup. Tak banyak yang bisa aku makan, untungnya semalam aku makan lumayan banyak. Bahkan aku sempat melihat beberapa kucing liar yang terpaksa memakan rumput jalanan karena saking susahnya mencari makan “ Jangan-jangan aku akan bernasib sama seperti mereka, pokoknya aku ngga mau. Bagaimanapun caranya aku harus bisa masuk rumah itu lagi!” batinku dengan semangat membara aku kembali ke rumah majikanku. 

**

Malam hari tak seindaah malam biasanya aku berjalan menuju rumah yang sempat membuatku bermalas-malas ria akan kemegahan di dalamnya. Hembusan angin yang dingin, bulu-buluku serasa tidak lagi mampu menahan dinginnya malam ini “ Akhirnya sampai rumah,” dengan mengamati pintu rumah yang masih tertutup rapat, jendela yang sudah mendarat di tembok, dan lampu yang belum padam. “ Pasti mereka belum tidur,” sembari mondar-mandir aku memikirkan cara untuk masuk. 

Angin makin kencang menyapu seisi malam, hingga  awan tak sanggup lagi menampung beratnya beban akhirnya rintik-rintik hujan mulai turun. “ Apa yang harus aku lakukann…zzzzz kenapa mereka belum tidur..” dengan hawa dingin disertai percikan air yang menimpa tubuhku terus menerus hingga membuat tubuhku menggigil. “Aku harus tetap hidup,” langkah gontai aku mencari tempat berlindung untuk tubuhku yang mulai basah kuyup. Aku melihat beberapa tumpukan kardus yang terlihat di bawah kolong meja, segera ku menghampiri dan berlindung di sana. 

“ Kenapa tidak ada yang menginginkanku..TTTTTTTT,” aku mulai menjatuhkan air mata yang sedari tadi ku bendung. “ Orang tuaku menelantarkanku begitu saja..sekarang diusir, aku harus bagaimana TTTTT”.

“Untuk malam ini, tidak apa aku harus susah. Semoga pagi nanti ada manusia yang mau menampungku,” Air hujan terus menjatuhkan diri ke permukaan bumi, hingga akhirnya aku mulai terlelap. 

Akwim Latifah

2 thoughts on “Terlantar

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: