Berdamai dengan Keadaan di Masa Pandemi

Gambar oleh Avi Chomotovski dari Pixabay/ dok. lpmmissi.com

LPMMISSI.com – Tidak terasa sudah satu tahun pandemi Covid-19 melanda negeri kita. Sejak tanggal diresmikanya dua warga negara Indonesia yang terinfeksi virus corona pada tanggal 2 Maret 2020 oleh Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan saat itu, Terawan Agus Putranto di Istana Merdeka, Jakarta.

Corona Virus Disease 19 ( Covid-19 ) awalnya berasal dari Kota Wuhan di Tiongkok. Sejak awal ditemukannya pertama kali di kota tersebut diakhir Desember 2019. Virus tersebut terus berhasil menginfeksi beberapa orang lainnya dan menyebar ke beberapa negara di dunia. Hingga sampai saat ini di tanggal 13 Maret 2021, telah menginfeksi setidaknya 119 juta orang dengan total 2,64 juta orang meninggal dunia dan 67,5 juta orang berhasil sembuh dari wabah virus tersebut di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, pada awalnya keberadaan virus corona dan risikonya tidaklah ditanggapi serius oleh masyarakat bahkan tokoh publik sekalipun. Masyarakat menganggap virus corona sama seperti flu biasa pada umumnya sehingga tidak perlu penanganan khusus. Adalagi candaan dari Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang mengatakan Covid-19 tidaklah mampu menginfeksi penduduk Indonesia karena penduduk Indonesia memiliki kekebalan tubuh lantaran setiap hari gemar makan nasi kucing. Walaupun pada akhirnya candaan tersebut telah menginfeksinya.

Selama perjalanan Covid-19 di Indonesia, pemerintah terus berupaya mengatasi wabah ini agar tidak terus memakan korban. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan pemerintah daerah baik Provinsi maupun Kabupaten dan Kota telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Satgas tersebut dibentuk untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya mematuhi protokol kesehatan.

Baca Juga : Pemuda, Masa Gitu?

Adapun bentuk sosialisasi kepada masyarakat yaitu dengan cara 3M, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, memakai masker, dan menjaga jarak dengan orang di sekitar kita dengan jarak 1-2 meter. Selain itu, pemerintah juga mengupayakan dengan cara 3 T, yaitu testin ( tes covid-19 ), tracing ( penulusuran riwayat kontak erat ), dan treatment ( perawatan pada pasien covid-19 ).

Pandemi virus corona sangatlah jelas memporak-porandakan berbagai sektor kehidupan. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya berada di sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, budaya, pariwisata dan masih banyak lagi.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Tentu saja karena satu alasan karena virus tersebut menyebabkan penularan kepada orang-orang dilingkungan sekitarnya secara cepat dan sangat mudah tertular.

Apalagi Corona-19 sangat berisiko jika terjadi kondisi kerumunan di suatu kawasan. Lihatlah salah satu contohnya pada sektor pendidikan. Kegiatan belajar mengajar tatap muka baik di sekolah maupun kampus terpaksa beralih menggunakan metode daring sampai waktu yang belum ditentukan. Akibat hal tersebut, siswa ataupun guru harus dituntut lebih cakap dalam pengoperasian teknologi.

Pada sektor lain seperti ekonomi contohnya, APBN dan APBD harus dialihkan penggunaannya untuk penanganan covid-19. Anggaran tersebut dialihkan menjadi bentuk bantuan sosial tunai maupun sembako, pengadaan alat kesehatan, insentif tenaga kesehatan, dan bantuan modal para pengusaha ukm.

Pandemi ini juga mengakibatkan turunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 2,07% secara keseluruhan sejak
triwulan ke empat pada tahun 2020. Angka tersebut merupakan yang terburuk sejak krisis moneter tahun 1998.

Baca Juga : Sama Tuhan Kok Ngeyel

Upaya mengatasi covid-19 di Indonesia mulai menemui secercah harapan besar untuk benar-benar bebas dari pandemi sejak pemerintah Indonesia mulai melakukan pemesanan vaksin covid-19. Pada bulan Desember 2020, vaksin dari Sinovac Tiongkok tiba di Indonesia yang berjumlah 1,2 juta dosis. Pemerintah terus berupaya menjalin kerjasama dengan produsen vaksin, antara lain Sinopharm, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, dan Novavax.

Selain itu, di dalam negeri juga terus berinovasi untuk menciptakan vaksin merah putih dan vaksin nusantara. Beberapa vaksin tersebut akan datang secara bertahap dan didistribusikan ke seluruh pelosok tanah air. Proses vaksinasi juga telah dilaksanakan pertama kali pada 13 Januari 2021 di Istana Merdeka, Jakarta dengan Presiden RI Joko Widodo yang menjadi orang pertama yang disuntik vaksin dan dilanjutkan ke pejabat dan tokoh nasional lainnya. Selanjutnya, vaksinasi juga terus dilakukan secara bertahap kepada seluruh masyarakat Indonesia yang diprioritaskan mendapatkan vaksin di seluruh tanah air.

Sebagai manusia, kita hanya bisa berencana, tetapi semua hal Tuhanlah yang menentukan takdirnya. Sudah semestinya kita terus berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita agar pandemi ini cepat berlalu. Selain itu, penting bagi kita untuk meningkatkan imun dan iman.

Jangan lupa berdoa agar berbagai hambatan kita selama pandemi ini cepat teratasi. Sudah terlalu banyak duka selama setahun yang kita rasakan. Kita ingin bisa merasakan hidup normal kembali tanpa adanya batasan jarak diantara kita untuk hidup lebih baik lagi.
Berdamai dengan keadaan, tidak lantas terpuruk dalam jurang kegelapan dan tidak menyalahkan sesamanya, adalah sikap bijak ditengah kondisi pandemi yang masih melanda di negeri ini.

Penulis : Muhammad Zaky Ramadhani

One thought on “Berdamai dengan Keadaan di Masa Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us