Sastra dan Bucin

Sumber : pixabay.com . Dok. Lpmmissi.com

LPMMISSI.com – Istilah bucin (budak cinta) menjadi tren di kalangan anak muda. Belum bisa dipastikan kapan ditemukan pertama kali istilah tersebut. Namun, kata bucin menjadi populer setelah Andovi Da Lopez dan Jovial Da Lopez membicarakan di kanal youtubenya pada tahun 2015.

Populernya istilah bucin berdampak kepada beberapa hal, terutama berubahnya pandangan seseorang kepada orang lain ketika menuliskan kata-kata yang puitis. Pandangan itu selalu bermuara pada kata ‘dasar bucin’ atau ‘bucin banget sih’.

Atas permasalahan tersebut, LPM MISSI menyelenggarakan Diskusi Kamis Sore (Disko) pada (24/12) dengan mengangkat tema ‘Sastra Itu Bucin?’ dengan maksud ingin mengkritisi kebenaran dari makna sastra.

Sastra memang bisa terkesan lemah pemaknaan. Karena setiap kata-kata bernarasikan cinta selalu disebut sebagai bucin. Padahal, makna yang ingin disampaikan penulis belum tentu diarahkan kepada seorang kekasih atau orang istimewa. Dari permasalahan inilah, sastra dengan mudah dijustifikasi bucin oleh pembaca.

Baca juga : Domestifikasi Perempuan Dalam Bungkus Gerakan Dakwah

Selanjutnya, jika ditelusuri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bucin memang tidak ditemukan. Namun apabila dipahami satu persatu, kata budak berarti hamba yang sama pengartiannya dengan abdi atau orang bawahan yang melayani, atau orang yang siap sedia melakukan segala perintah tuannya. Sedangkan cinta berarti perasaan suka, sayang, dan berharap sekali.

Lalu apakah sepatutnya sastra mendapatkan Stereotype demikian? Mengingat sastra sendiri banyak jenisnya.

Pada kesempatan diskusi itu, seorang pegiat sastra asal Jepara sekaligus penulis antologi puisi ‘Kemarin yang Terakhir’, Nurul Afifah menilai bahwa kedua kata tersebut (sastra dan bucin) bagaikan dua sisi yang berbeda atau diibaratkan seperti kanan dan kiri.

Sebab, bucin yang dimaknai sebagai ketidakmampuan untuk menolak keinginan sang tuan cenderung diartikan lemah, tidak berbobot. Sedangkan sastra dapat lebih dari itu. Menurutnya, sastra bukanlah kelemahan tapi kuat dan sarat makna.

Baca juga : Dialektika Mahasiswa

Mendengar penyataan tersebut, penulis jadi teringat dengan bisikan yang disampaikan penyair muda asal kota Wali, Usman Arrumy ketika ditanya cara menghidupkan puisi itu bagaimana? Jawabnya ialah dengan memberi nyawa. Namun karena faktor apa puisi dinilai bucin oleh beberapa kalangan.

Sastra tidak dapat dilihat dari tekstualnya saja tetapi bisa juga kontekstual. Apabila seseorang tersebut memiliki background religious yang tinggi. Kata bucin bukan hanya ditujukan kepada manusia, tapi dikaitkan dengan Sang Pencipta. Cinta yang membuat mabuk bahkan gila, sehingga menciptakan kerinduan teramat dan selalu terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Tergantung pada taraf tingkatan atau maqam seorang hamba menghayati keberadaan Tuhan. Seperti penggalan puisi Rumi yang diterangkan kembali oleh Haidar Bagir dalam bukunya Dari Allah Menuju Allah.

“Kangen sekali aku hingga kepadamu aku kan terbang lebih pesat dari burung
Tapi, bagaimana seekor burung dengan sayap terpotong bisa terbang?”

Dengan demikian, bucin memiliki banyak perspektif pemaknaan tergantung pada siapa yang membacanya. Kembali pada apa yang disampaikan oleh Nurul Afifah “Sastra memang demikian dan apabila ada yang menganggapnya bucin, berarti orang tersebut belum mengenal sastra.”

Oleh: Sekarsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us