Manusia Dalam Sebuah Simulasi

Ilustrasi ketergantungan manusia pada sosial media/ lpmmissi.com/ Saktichiyarulumam

LPMMISSI.COM – Di masa pandemi saat ini, manusia sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak. Tujuannya tak lain agar tetap terus berkomunikasi dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak dapat ditemui secara langsung.

Namun ada sebuah cerita yang dihimpun dalam sebuah karya film dokumenter. Bahkan mengejutkan dan spektakuler dari Netflix yang berhasil mengungkap dampak media sosial ternyata sangat membahayakan.

Seperti film cyberbully, bercerita tentang seorang remaja perempuan bernama Caset yang tengah berselancar di dunia maya. Ketika tengah asyik stalking media sosial temanya, tiba-tiba seorang bernama Alex mengajaknya ngobrol di chat room dan menyuruh Casey menulis status di akun media sosial milik temannya.

Baca Juga : Reinkarnasi, Perempuan dan Pelecehan Seksual

Awalnya hal itu membuat Casey merasa senang telah ikut menghack akun media sosial temannya. Namun lama kelamaan seseorang mengaku Alex tersebut malah menuduhnya sebagai pelaku bullying terhadap Jennifer Li yang merupakan teman sekelas Casey. Karena bullying yang dilakukan Casey itulah membuat Jennifer Li bunuh diri

Bukan tanpa alasan, film tersebut tentu dibuat atas pesatnya dampak pengembangan teknologi sejak tahun 2000. Hal itu dapat dirasakan ketika manusia menyelesaikan pekerjaan menjadi semakin cepat dan segala sesuatu bisa didapat dengan mudah. Selain itu orang-orang suka melakukan hal-hal degan cara yang sederhana.

Kecanggihan teknologi saat ini telah mempengaruhi dunia dan pemikiran manusia. Hal tersebut membuat manusia tidak lagi sebagai subjek tetapi berpindah menjadi objek. Berbeda dengan sebelum era modern ini muncul. Ketika peran masyarakat sebagai subjek sangatlah dominan.

Baca Juga : Tapa Bisu Mubeng Beteng, Tradisi Menyambut Tahun Baru Jawa

Bourddilad membaca manusia saat ini sebagai objek yang tergambar, melalui simbol-simbol yang kini telah mengendalikannya di media sosial. Bahkan dalamnya The Perfect Crime, telah menyatakan bahwa kini realitas telah dihancurkan.

Sejak saat itu orang hidup dalam dunia penampilan belaka (tidak nyata). Sementara di dunia maya, kepastian dan kebenaran tidak mungkin terjadi dan hanya bisa mengambil sisi ilusi berargumen Impossible Exchange bahwa: “Ilusi adalah aturan fundamental”.

Ketergantungan Dalam Dunia Digital

Saat ini masyarakat semakin mudah tenggelam dalam dunia simulasi. Lantaran banyaknya media sosial yang dapat digunakan secara mudah, apalagi didalamnya menyediakan fitur-fitur yang sangat sederhana untuk dipelajari.

Media sosial juga sudah menjadi konsumsi kebanyakan masyarakat. Lebih parahnya lagi setiap menit mereka mengecek handphonenya untuk memastikan notifikasi yang masuk. Bahkan lebih mirisnya ada sebuah lelucon dengan jargon “internet adalah hidupku”.

Baca Juga : Mengenal Sosok Jurnalis Penyelamat Bukti Sejarah Proklamasi

Tak hanya itu, manusia saat ini cenderung lebih suka menjual dan membeli barang secara online. Dengan alasan berbelanja online lebih memudahkan pembeli, efisien, dan memerlukan biaya yang lebih sedikit daripada dijual secara offline.

Alih-alih menyebutkan bahwa kehidupan realitas manusia secara paksa didorong menuju virtualitas, dimana kebanyakan orang lebih tertarik berinteraksi secara online, daripada secara offline.

Baudrillad menyebutkan bahwa semakin canggih teknologi di dunia bukan berarti membuat manusia semakin tangguh dalam hal apapun, melainkan ini adalah awal kehancuran dari manusia itu sendiri.

Oleh: Moch Hafidz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us