LPMMISSI.COM

Mengenal Sosok Jurnalis Penyelamat Bukti Sejarah Proklamasi

Foto: Lpmmissi.com/ https://tokoh.co.id/biografi-b-m-diah/

Tanggal 17 Agustus, sebuah hari yang sakral bagi bangsa kita. 75 tahun lalu, di hari itulah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Pada tahun ini naskah proklamasi hasil tulisan Soekarno akan dipajang di Istana Merdeka ketika upacara pengibaran dan penurunan Sang Saka Merah Putih.

Naskah tulisan tangan tersebut setelah selesai dirumuskan, lalu didiktekan oleh Hatta untuk diketik oleh Sayuti Melik. Setelah itu nyaris terbuang kedalam keranjang sampah karena dianggap tidak penting lagi.

Menurut berbagai sumber, BM Diah menemukan naskah tulisan tangan Soekarno di keranjang sampah di Rumah Laksamana Maeda. Diah takut naskah itu akan dibuang kembali, oleh sebab itu ia simpan. Setelah 49 tahun sejak Diah simpan, pada 29 Mei 1992 teks itu diserahkan kepada pemerintah melalui Presiden Soeharto kala itu.

Baca juga: Lunturnya Sisi Kemanusiaan dalam Pendidikan

Burhanuddin Mohammad Diah, itulah nama lengkap sang penyelamat salah satu bukti sejarah proklamasi. Ia merupakan seorang wartawan yang ditugaskan menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia ke seluruh negeri. 

Diah mengawali pendidikannya di HIS (Hollandsch-Inlandsche School). Namun, Diah menolak bersekolah dibawah ajaran guru Belanda, kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Taman Siswa di Medan, Sumatera Utara.

Pada usia 17 tahun, Diah meninggalkan Medan ke Jakarta. Ia melanjutkan pedidikan di Ksatrian Institut dan dipimpin Dr. Douwes Dekker. Ia memilih jurusan jurnalistik dan belajar langsung menjadi jurnalis dari Douwes Dekker.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Diah kembali ke Medan. Ia berkerja sebagai Redaktur harian Sinar Deli. Namun setengah tahun kemudian, ia kembali ke Jakarta dan berkerja di harian Sin Po sebagai tenaga honorer. Lalu ia pindah ke Warta Harian dan tujuh bulan kemudian koran tersebut dibubarkan karena dianggap membahayakan keamanan. Diah kemudian mendirikan usahanya sendiri, Pertjatoeran Doenia yang terbit bulanan.

Baca juga: Reinkarnasi, Perempuan dan Pelecehan Seksual

Ketika Tentara Jepang datang dan menjajah Indonesia, Diah berkerja sebagai penyiar siaran Bahasa Inggris di Radio Hoso Kyuku. Pada waktu yang sama ia merangkap bekerja di Asia Raja. Pada akhir September 1945, setelah diumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Ia bersama rekan-rekannya berusaha mengambil alih percetakan Jepang Djawa Shimbun yang menerbitkan surat kabar Harian Asia Raja.

Pada 1 Oktober 1945, Diah mendirikan surat kabar Harian Merdeka dan menjadi pemimpin redaksi. Ketika pemerintah Orde Baru memutuskan mengubah sebutan Tionghoa menjadi Cina dan Republik Rakyat Tiongkok menjadi Republik Rakyat Cina, Harian Merdeka bersama Harian Indonesia Raya menjadi satu-satunya pers yang gigih tetap mempertahankan istilah Tionghoa dan Tiongkok.

Diah juga terlibat dalam lembaga pers yaitu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai Ketua PWI pada 1970, Dewan Pembina PWI Pusat pada 1973-1983 dan penasihat PWI Pusat pada 1983-1988. Diah juga sebagai Ketua Harian Dewan Pers pada 1980.

Oleh: Muhammad Irfan Habibi

Tinggalkan Balasan

Contact Us

Gulir ke Atas
%d blogger menyukai ini: