LPMMISSI.COM

Repotnya Menjadi Muslimah Indonesia

Foto: Lpmmissi.com/ Mojokstore.com

Judul Buku : Muslimah yang Diperdebatkan
Penulis : Kalis Mardiasih
Penerbit         : Buku Mojok
Tahun : 2019
Tebal Halaman        : xii + 202 halaman
Resentator : Sabrina Mutiara F.

Perkembangan teknologi yang tak bisa dihindari dalam kehidupan, memunculkan budaya baru khususnya di media sosial. Pasalnya, apapun yang diunggah ke media sosial bisa menimbulkan interaksi antarindividu. Jika mereka memiliki perbedaan perspektif, akan terjadi perdebatan sengit. Menyoal perdebatan di media sosial, tak asing bagi kita jika perdebatan tersebut menyinggung penampilan dan fisik perempuan, yang terlihat langsung oleh mata.

Buku Muslimah yang Diperdebatkan ini berisi 26 esai seputar kemanusiaan, tubuh, religiusitas dan berbagai pengalaman perempuan mengenai permasalahan sepele yang ternyata perlu dikaji dan diluruskan. Isu perempuan muslim hingga saat ini masih banyak diperdebatkan dengan berbagai perspektif di kalangan masyarakat.

Contoh yang paling ramai diperbincangkan yaitu kasus para artis hijrah. Sebut saja Nikita Mirzani yang suatu hari memutuskan berhijab. Diduga keputusannya itu disebabkan oleh hubungan pernikahan dengan pasangannya yang sedang tidak baik-baik saja. Selang beberapa minggu, Ia mengunggah foto tidak berhijab, alasannya karena pergolakan batin, jiwa dan raganya yang melemahkan imannya.

Ada pula Rina Nose yang juga terlibat dalam kasus hijrah. Awalnya Rina memutuskan untuk berhijab, namun tidak lama kemudian melepas hijabnya bahkan keluar dari Islam. Kasus tersebut menimbulkan banyak tanggapan negatif di media sosial yang menyinggung Nikita dan Rina Nose.

Baca juga: Gelar Sarjana, Bukan Segalanya

Banyak anggapan dari masyarakat bahwa ketika seseorang berhijab maka ia dipandang religius. Padahal sebenarnya, hijab bukan patokan untuk menilai seberapa besar keimanan seseorang. Keyakinan untuk menyembah Tuhan lahir dari hati nurani masing-masing. Maraknya fenomena hijrah pada saat itu seolah menggiring opini, apakah benar para artis ini hijrah hanya untuk eksistensi?

Kalis juga menuliskan kasus lain seperti Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran yang kembali menjadi sorotan akhir-akhir ini. Mereka mendefinisikan diri sebagai gerakan dakwah yang ingin menghapus pacaran dari Indonesia. Namun cara yang digunakan dianggap kurang tepat, karena terlalu menyederhanakan persoalan anak muda.

Kampanye anti pacaran ini menuntun anak muda agar memilih pernikahan dini sebagai salah satu jalan mengurangi dosa. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan selain menikah. Mengingat usia produktif adalah waktu yang tepat untuk berkarya, mengembangkan kecerdasan dan keterampilan untuk masa depan.

Di samping itu, gerakan ini juga intens menjual beberapa produk mulai dari jilbab, buku, kaos, topi, masker, gantungan kunci, hingga jaket yang dipromosikan lewat kata “ukhuwah” atau “persatuan”. Hal ini berarti jika membeli produk, maka semangat berdakwah akan bertambah. Jadi, adanya gerakan dakwah apa murni dari hati atau malah dimanfaatkan sebagai ladang bisnis?

Baca juga: Rumi, Penyair Ulung Bernuansa Tasawuf

Buku ini juga memberikan banyak pengertian perspektif keadilan gender melalui beberapa contoh yang seharusnya dapat mengubah stigma masyarakat Indonesia. Karena sesuai fakta sosial, suara perempuan masih sulit didengar dan diterima dengan baik. Sebab perempuan hingga kini masih dianggap sebagai kaum lemah.

Terlepas dari problematika sehari-hari, Kalis berhasil memaparkan produk hukum menjadi bacaan ringan dan mudah dicerna. Pembahasan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU-PKS) yang telah diperjuangkan oleh kaum perempuan selama lima tahun belakangan ini.

Banyak pandangan negatif mengenai RUU-PKS, karena kekhawatiran pada perempuan akan menjadi lebih unggul daripada laki-laki. Sejatinya, RUU-PKS hadir sebagai pelindung atas tindak kekerasan seksual pada perempuan, juga mendukung kesadaran dan keberanian perempuan untuk bersuara.

Baca juga: RESENSI BUKU “DI LAUT INDONESIA INGIN JAYA”

Kalis memberikan jawaban atas pertanyaan dengan tidak mendoktrin para pembacanya. Argumen yang diberikan dibarengi dengan fakta lapangan. Hasil dari penelitian, referensi buku bahkan kitab-kitab fikih, hadis dan Al-Qur’an telah menjadi rujukan dalam tulisannya. Walaupun bahasa yang digunakan cenderung sinis dan tegas, namun humor yang diberikan dapat menyeimbangkan korelasi pembahasan. Buku ini mengemas secara praktis pandangan emas yang mulai terkikis di era modernitas.

Di balik kelebihan buku ini, seyogyanya juga memiliki beberapa kelemahan. Penggunaan bahasa asing (Inggris, Jawa, Arab) akan menyulitkan pembaca karena mungkin tidak terbiasa. Jika dilihat dari judul buku, pembaca akan berekspektasi bahwa bacaan ini fokus tentang isu muslimah.

Tinggalkan Balasan

Contact Us

Gulir ke Atas
%d blogger menyukai ini: