Buy now

31 C
Semarang
Kamis, Mei 30, 2024
spot_img

Film “Kung Fu Panda 4”, Religi yang dibalut Aksi Komedi

 

 

Poster film kungfu panda 4, foto: IMD.COM

 

Judul: Kung Fu Panda 4
Sutradara: Mike Mitchell
Pengisi suara: Randall Duk Kim, J.K. Simons, Jack Black, Dusti Hoffman, Ian McShane, Awkwafina, Viola Davis
Tanggal Rilis: 6 Maret 2024
Durasi: 94 menit
Resentator: Muhammad Hasan

Setelah mengalahkan Kai (J.K. Simons) di dunia roh, serta mendapatkan warisan tongkat kebijaksanaan dari Master Oogway (Randall Duk Kim), perjalanan Po (Jack Black) ternyata belum selesai. Setelah film Kung fu Panda 3 keluar pada 8 Maret 2016, delapan tahun setelahnya, muncul film Kung fu Panda 4 yang disutradarai Mike Mitchell pada 6 Maret 2024.

Film diawali dengan kehadiran musuh dari film pertama, Tai Lung (Ian McShane) yang seharusnya berada di alam roh. Setelah itu, permasalahan utama film pun dimulai. Ketika Po mendapat mandat dari Master Shifu untuk melanjutkan perjalanannya di dalam Kung fu. Sudah waktunya Po untuk naik ke tingkat tertinggi, pemimpin spiritual. Po juga diharuskan untuk memilih kesatria naga selanjutnya.

Akan tetapi, ajang itu harus tertunda karena kabar dari para kambing gunung yang bekerja di tambang, mengatakan bahwa Tai Lung berkeliaran di luar sana dan ingin menghancurkan apa saja. Po tentu tidak tinggal diam. Dibantu dengan rubah pencuri yang baru saja ia tangkap, Zhen (Awkwafina), ia mencari Tai Lung seekor bunglon ahli sihir yang gemar menyamar.

Baca Juga:Komersialisasi Pendidikan di Indonesia

Film Kung fu Panda sendiri merupakan salah satu film luar biasa. Walaupun disajikan dalam bentuk kartun berisi comedy dan aksi, namun film ini dapat menyampaikan nilai religi tingkat tinggi. Salah satu pelajaran dari trilogi filmnya tentang mengenal diri sendiri. Konsep mengenali diri sendiri ini penting, terbukti diangkat menjadi nilai utama dalam ketiga filmnya.

Religi Yang Dibalut Aksi Komedi

Salah satu ungkapan yang sangat masyhur di kalangan ulama’ tasawuf yang berbunyi:

ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

“Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”

Di dalam Firman Allah juga dijelaskan, bahwa salah satu sebab kefasikan adalah melupakan diri sendiri, yang berasal dari melupakan Allah subhanahu wa ta’ala, tepatnya di dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝١٩

“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (Q.S. Al-Hasyr: 19)

Nah, pada filmnya yang keempat, banyak sekali nilai religi yang dipampangkan entah terlihat maupun tersirat. Setidaknya, ada dua nilai utama yang tersaji secara jelas sebagai amanat pada film ini.

1.Pertama, teruslah berkembang!
Naik ke tingkat selanjutnya. Mungkin itu adalah ungkapan yang sangat cocok sekali untuk menggambarkan dari awal film sampai hendak memasuki konflik utama.

Po, sang kesatria naga harus naik ke tingkat selanjutnya, tingkat tertinggi dalam Kung Fu, pemimpin spiritual lembah kedamaian. Namun, Po tidak mau. Dia tidak paham mengenai kebijaksanaan.

Namun, Master Shifu tetap menyuruhnya, karena Oogway telah mewariskan tongkat kebijaksanaan yang sekaligus menjadi jembatan alam roh kepada Po.

Dalam konteks ini, Po seakan-akan diperintah Master Shifu mengamalkan salah satu hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

من كان يومه خيرا من أمسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل أمسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من أمسه فهو ملعون.( رواه الحاكم)

Artinya: “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR Al Hakim).

2.Kedua, kesempatan terbuka bagi siapa saja.
Seorang mantan pencuri pun ternyata bisa menjadi pewaris kesatria naga. Mungkin itulah makna kedua yang bisa didapatkan sejak konflik besar di film itu dimulai hingga resolusi di akhir.

Zhen, sang pencuri yang membantu Po ternyata anak buah Chameleon yang berkhianat. Zhen menjebak Po, dengan mengambil tongkat kebijaksanaannya, membantu Chameleon mendapatkan kekuatan mengerikan hingga menciptakan ancaman besar bagi China. Alangkah terkejutnya Master Shifu kala mengetahui bahwa Zhen lah yang menjadi pewaris kesatria naga.

Hal ini menjadi sebuah gambaran bahwa mantan penjahat pun masih berkesempatan menjadi sosok besar seperti kesatria naga (dragon warrior). Tidak peduli sebesar apapun dosa yang telah dilakukannya.

Editor: Siti Sholikha

baca juga

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0PengikutMengikuti
3,609PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

terkini