Mulai Hilang, Forkom PSP Kembalikan ‘Dolanan Tradisional’

foto:lpmmissi.com

  SEMARANG – lpmmissi.com. Tezar (15) sesekali tertawa melihat temannya sedang bermain Egrang di Car Free Day(CFD) Jl Pahlawan, Minggu (21/8). Akan tetapi, dia merasa malu untuk ikut serta bermain. Siswa kelas IX itu mengaku belum terbiasa, sebab di lingkungan tempat tinggalnya di Layur, permainan tradisional sudah sulit ditemukan.

“ Dari kecil belum pernah main yang kayak gini, lebih sering main game di ponsel sama sepak bola,” katanya.
Salah satu orangtua, Wahid (45) asal Tlogomulyo mengaku, antusias dengan kegiatan persembahan bertema Dolanan Tradisional itu. Dia melihat, semakin berkembangnya teknologi, di antaranya berdampak pada ditinggalkannya permainan tradisional oleh anak-anak.
 “ Senang sekali, jadi kangen masa kecil. Ngajak main di sekitar rumah sudah susah. Saya coba sosialisasi, tapi yang lain belum support,” katanya.
Wahid sendiri menyediakan permainan anak tradisional seperti Dakon dan Bola Bekel untuk puterinya di rumah. Terkadang, bapak berusia 45 tahun itu memanfaatkan barang bekas saat membuat perangkat permainan tradisional. 
“ Bola untuk bermain bekel sekarang sulit carinya, tapi saya biasa memanfaatkan roll on bekas deodorant sebagai gantinya,” ujarnya. 
Meski menyediakan permainan tradisional untuk puterinya, Wahid tetap mengenalkan perangkat gadget. Tujuannya supaya sang anak mampu melek teknologi. Hanya saja problemnya, menurut Wahid, ada hal yang belum mampu diproteksi, seperti penggunaan akun media sosial tanpa batasan usia.
“ Kalau pegang, harus dalam pengawasan orang tua. Meski punya sendiri, setiap saya kerja, saya bawa, jadi dia sekolah tidak pernah bawa gadget,” imbuhnya.
Sebagai Penyeimbang
Koordinator Forum Komunikasi Peduli Sosial Pendidikan (Forkom PSP) Semarang Dodi Susetiyadi, mengatakan, persembahan Dolanan Tradisional hadir dalam rangka menjadi penyeimbang dari maraknya penggunaan gadget oleh anak-anak. 
“ Terlalu sering bermain gadget bisa membuat anak punya sifat individualis yang berlebihan, sebab mereka terbiasa fokus dengan diri sendiri, sehingga interaksi sosial semakin berkurang,” katanya.
Selain nilai-nilai sosial, kata Dodi, permainan tradisional juga mengandung nilai edukasi dan kesehatan. Pada lompat tali misalnya, gerakan melompat secara teratur bermanfaat untuk membakar kalori. Dia berharap, dengan melestarikan permainan tradisional, masyarakat kembali menyadari pentingnya permainan itu.
“ Setelah lihat di sini ada lompat tali, siapa tahu ada yang inisiatif buat sendiri di rumah. Permainan tradisional ini kan sebenarnya bisa dilakukan di manapun, hanya saja masyarakat banyak yang motivasinya masih kurang,” pungkasnya. (Korie Khoriah)

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: