Buy now

31 C
Semarang
Kamis, Mei 30, 2024
spot_img

Mahasiswa Kerubungi Bilik Suara, Pemilih Tak Ada Privasi

Tidak ada privasi mahasiswa ketika menggunakan hak pilihnya (foto:lpmmissi/haqqi)
Tidak ada privasi mahasiswa ketika menggunakan hak pilihnya (foto:lpmmissi/haqqi)

SEMARANG, LPMMISSI.COM- Tak berhenti dari minimnya sosialisasi dari Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM), Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) UIN Walisongo kembali menuai kontroversi, karena mahasiswa tak punya hak privasi ketika mengisi bilik suara.

Proses pemilihan kandidat berlangsung tidak kondusif. Mahasiswa yang seharusnya bisa memilih pilihannya dengan asas bebas dan rahasia, terpaksa melanggar asas tersebut karena ketidak-kondusifan pemilwa.

Bilik suara yang semestinya diisi oleh satu orang dengan satu suara, menjadi tontonan bersama layaknya nobar sepak bola.

Sistem pemilihan mengalami eror dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Menunggu selama 3 jam membuat mahasiswa mulai kesal, terlebih gedung pemilihan yang panas.

Baca Juga:Dua Partai Desak KPM Segera Rilis Rekapitulasi Pemilwa

Setelah server kembali normal, mahasiswa kembali berbondong-bondong ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) hingga melebih kapasitas.

Pemilihan yang sebelumnya kondusif, mendadak penuh-sesak dengan mahasiswa yang ingin mengunakan hak pilihnya.

Hingga akhirnya mahasiswa saling menggerombol di masing-masing bilik suara, hal ini menyebabkan hak privasi dan rahasia pemilih terganggu.

Beberapa mahasiswa menyayangkan prosesi pemilwa yang tidak kondusif.

Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Riski, mengaku terganggu dengan adanya gombrolan mahasiwa lain yang menggunakan hak pilihnya.

“Sangat kecewa, apalagi ini antrian dibelakangnya panjang dan ramai. Kan gaenak lagi milih tapi dilihatin banyak orang,” katanya.

Selain itu Riski juga mengatakan bahwa pemilihan tahun ini secara hybrid (online di tempat) kurang efektif.

“Saya rasa kurang efektif ya, disini juga sama-sama pakai web kayak online, cuma ada antriannya.” Ucapnya.

Seperti halnya Riski, Nabila (nama samaran) mahasiswa jurusan PIAUD, juga cemas terkait hak privasinya.

“Jadinya tuh sungkan kalo dilihatin, nanti dibilangin ‘kok kamu milih ini’, kan ini privasi masa dilihat-lihatin.” Ucapnya.

Baca Juga:Minim Sosialisasi Pemilwa, Mahasiswa Kebingungan

Ia juga mengaku sudah datang sebelumnya, karena sistem eror ia kembali lagi sore harinya.

Keduanya ketika di wawancarai juga mengaku sama sekali tidak melihat pengawas yang menjaga di bilik suara.

Menanggapi hal tersebut anggota KPM, inisial F mengatakan metode hybrid dipilih berdasarkan kesepakatan bersama.

“Sebenernya sistem pencoblosan sudah ada kesepakan dengan pak WR III, Dema, dan Sema dengan mengunakan metode hybrid (offline dan online). Menurut saya sistemnya sudah bagus tetapi kurang dalam hal keamanan. Menjadi kesalahan kami karena tidak ada penjagaan dibilik suara.”

F juga menambahkan bahwa kondisi mulai tidak kondusif setelah sistem pemilihan mengalami eror.

“Kondisi mulai tidak kondusif setelah sistem mengalami eror, dari jam 10.00 WIB hingga jam 13.00. Kemudian dibuka kembali, peserta membludak, hingga mundur di jam 18.00 WIB.”

Baca Juga:Manusia dan Mentalitas Kawanan

Di pukul 18.12 WIB melalui platform Instagram @kpmuinwalisongo, mengumumkan perpanjangan waktu voting hingga pukul 20.00 WIB.

Namun sebelum itu pada pukul 18.00 sudah ada instruksi untuk meninggalkan TPS, dan alat pemilihan telah diambil oleh pihak KPM.

Reporter: Haqqi Idral

Editor: Karina Rahma

baca juga

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0PengikutMengikuti
3,609PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

terkini