Kekeliruan Berlogika: Mengenal Bias-Bias Berpikir

Sampul depan buku Sesat Pikir dan Cacat Logika. (Dok. Lpmmissi.com)

Kuasai dunia dengan ilmu, Jalannya adalah belajar, Senjatanya adalah menulis, Kekuatannya berasal dari membaca. Maka, Iqra’, bacalah!

a) Judul buku : Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika: membincang cognitif bias dan logical fallacy
b) Penulis : Fahruddin Faiz
c) Penerbit : MJS Press
d) Tahun terbit : 2020
e) Tebal buku : 224 halaman

Buku yang berjudul “Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika” merupakan salah satu buku karangan Fahruddin Faiz, jenis buku non-fiksi. Selain itu, ada beberapa buku yang juga ia tulis yakni, Filosof Juga Manusia, Sebelum Filsafat, Dunia Cinta Filosofis Kahlil Gibran, Lintasan Perspektif (Ihwal Pemikiran dan Filsafat) – kebanyakan buku tersebut bergenre filsafat.

Fahruddin Faiz merupakan Dosen Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dosen tamu di Universitas Sahid Jakarta, serta menjadi pengasuh Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman (MJS) Yogyakarta.

Ia sudah mendalami filsafat sejak masih menjadi mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, hingga mendapat gelar doktornya di kampus tersebut. Tidak hanya menekuni bidang kepenulisan, ia juga telah melakukan beberapa penelitian (research) yakni, Simbolisme dalam Petilasan Sunan Kalijaga (pendekatan hermenwutika), dan Pengaruh Sufisme Persia terhadap Budaya Islam Nusantara. Selain itu, ia juga sering menjadi pembicara dalam seminar-seminar nasional.

Baca juga : Sebuah Kritik Pendidikan Dari Pulau Tanjong

Buku ini tercipta dilatarbelakangi oleh sebuah asumsi tentang belajar logika: “Berpikir itu asal tidak salah, berarti benar”. Dari sana penulis mengurai tentang logika dalam karyanya ini. Buku berisi dua bab besar yakni, bias-bias dalam berpikir (cognitive bias) dan logical fallacy. Dan dari kedua bab tersebut dibagi lagi menjadi beberapa sub bab.

Penulis menyertakan bermacam ilustrasi yang acapkali terjadi dalam keseharian. Seperti kesalahan-kesalahan berpikir kita – yang kemudian kesalahan tersebut dianggap wajar; common mistake. Dalam pendahuluan buku ini berisi 5 pasal. Sebelum masuk pembahasan, Fahruddin menuliskan sebuah quote, “Manusia adalah binatang yang berakal”. Kalimat tersebut disajikan guna menjadi pembahasan pengantar sebelum menyelami ilmu logika lebih dalam dalam buku tersebut.

Pada bagian pertama ada 33 sub bab, yang mana memuat beberapa pembahasan sepele namun penting. Adapun beberapa poin yang bisa kita pahami sebagai berikut: action bias, association bias, availability bias, bukan kausalitas tetapi korelasi, seolah lebih masuk akal,efek perbandingan, engkau seperti aku, dan masih ada beberapa poin lainnya.

“Segala yang kita dengar adalah opini, bukan fakta. Segala yang yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran” – Marcus Aurelius. Pada hakikatnya sesuatu yang terjadi kadang hanya memuat bias-bias yang memenuhi pikiran kita semua – membuat sesak.

Baca juga : Tidak Ada Yang Istimewa Kecuali Diri Sendiri

Ada bagian menarik, diam saja biar tidak disalahkan, seringkali memang orang yang diam itu dianggap menguasai comfort zone (zona nyaman). Tetapi di sisi lain ada kekeliruan dari opini di atas, atau meminjam istilah lain omission bias. Seperti ilustrasi berikut, kalau ada dua perbuatan sama jahatnya, yang satu sifatnya pasif atau tidak aktif, dan satunya aktif. Maka kita akan menganggap bahwa yang sifatnya tidak aktif itulah lebih baik.

Bagian tersebut mengupas tentang omission bias, bahwa jika kita tidak menjadi sebab dalam suatu masalah maka menjadi akibat. Dalam dunia Barat, dikenal jargon, “if you’re not part of the solution, you are part of the problem” (Kalau engkau bukan bagian dari solusi, pasti bagian dari masalah).

Fahruddin juga menyajikan bab tentang logical fallacy, terdiri dari 12 sub bab. Beberapa poin yang bisa kita selami yakni, kesalahan karena dilema, kesalahan karena salah fokus, kesalahan karena berbelok ke orangnya, kesalahan karena induksi, kesalahan karena generalisasi, dan lainnya. Banyak pembelajaran yang mampu kita renungkan dari bab ini. Terlebih lagi kesalahan-kesalahan yang disajikan biasa kita alami.

Buku yang sudah Fahruddin tulis memiliki banyak kelebihan seperti pengambilan judul yang tepat – mengungkapkan kesalahan-kesalahan berpikir dalam keseharian. Pembahasan di dalamnya diambil dari perspektif yang berbeda, sehingga mampu memberikan sentuhan lain kepada pembaca. Buku yang terdiri dari 224 halaman ini disampaikan secara sistematis sehingga mudah dipahami. Bahasa yang digunakan ringan, memberikan kesan enak dibaca bagi kalangan intelektual. Kelebihan lainnya yakni warna cover yang cerah sehingga menarik dipandang. Serta kualitas kertas yang bagus.

Namun, sesempurnanya ciptaan manusia tak akan sesempurna ciptaan Tuhan. Tentu ada kekurangan dari buku ini yakni, membahas ilmu logika yang tidak hanya sekali baca kita langsung paham. Perlu waktu agak lama untuk mencerna poin yang disampaikan. Tetapi penulis menyertakan ilustrasi keseharian sehingga kita bisa lebih cepat paham. Buku ini lebih cocok dibaca oleh kalangan akademik, atau yang sedang/telah menempuh jenjang perkuliahan. Karena untuk dibaca siswa SMP dan SMA akan lama untuk memahaminya, bahasa yang digunakannya cenderung asing bagi mereka.

“Kuasai dunia dengan ilmu,
Jalannya adalah belajar
Senjatanya adalah menulis,
Kekuatannya berasal dari membaca.
Maka, Iqra’, bacalah!”

-Fahruddin Faiz-

Resentator : Mafriha Azida
Editor : Mela Fauzia

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: