LPMMISSI.COM

Sebuah Kritik Pendidikan dari Pulau Tanjong

Foto: Lpmmissi.com/ M Irfan Habibi.

Judul: Guru Aini
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: xii+336 halaman
Resentator: Muhammad Irfan Habibi

Tekad dan keikhlasan. Itulah yang disampaikan Andrea Hirata dalam Novel Guru Aini. Seperti karya terdahulunya Novel Laskar Pelangi, sang penulis kembali mengangkat kisah pendidikan di daerah terpencil. Kali ini berkisah tentang sosok seorang guru, Desi dan Aini seorang murid ajaib dengan tekadnya belajar matematika, di sebuah sekolah di Pulau Tanjong.

Guru Desi digambarkan sebagai sosok yang cerdas, bertekad, dan idealis. Ia merupakan lulusan terbaik di SMAnya. Namun, ia memilih mengikuti program pemerintah untuk menjadi guru matematika yang siap ditempatkan di mana saja. Sebab, ia hanya memilki tujuan menjadi guru matematika untuk mencerdaskan anak didiknya kelak, di manapun itu.

Baca juga: Percayalah, Tidak Ada yang Tidak Mungkin

Ketika lulus dari perguruan tinggi, Desi berhasil meraih predikat cumlaude dan mendapat hak istimewa bebas memilih tempat tugasnya. Namun ia justru memilih ikut diundi seperti teman-temannya yang lain. Desi mendapatkan penempatan di kota. Namun rela bertukar gulungan kertas undian saat melihat temannya bersedih sebab ditempatkan tak sesuai harapan. Hingga setelah pelantikan PNS ia ditugaskan ditempat dengan nama yang sangat asing di telinganya, Pulau Tanjong.

Selama mengajar di sana, Guru Desi berharap ada seorang muridnya yang berhasil ia cerdaskan. Bahkan ia bernazar tak akan mengganti sepatu pemberian ayahnya yang semakin lusuh sebelum menemukan murid itu. Desi dikenal sebagai guru matematika yang idealis dan ditakuti semua murid. Sebab gaya dan cara mengajarnya yang tegas. Suatu ketika ia bertemu dengan murid yang dicarinya. Namun sayang, murid itu memilih setia bersama kedua sahabatnya dibanding belajar matematika.

Baca juga: Tidak Ada yang Istimewa, Kecuali Diri Sendiri

Pencarian Desi untuk menemukan murid yang dia maksud masih berlanjut diiringi rasa kecewanya di masa lalu. Hingga suatu hari ada seorang murid bernama Aini datang padanya. Aini bersama teman akrabnya selalu mendapatkan nilai 0 dan 1 seperti bilangan biner di komputer untuk nilai matematikanya. Bahkan Aini selalu sakit perut ketika pelajaran matematika. Namun, Aini memilih mengurangi bermain dengan temannya. Ia bertekad untuk belajar matematika dan menyerahkan dirinya untuk didamprat oleh Guru Desi demi belajar dari guru matematika sesungguhnya.

“Guru sinetron mana yang sedang kau gilai? Sehingga tak ada ombak tak ada angin kau ingin pandai matematika.” Itulah salah satu pertanyaan Guru Desi pada Aini. Jawabannya sederhana “Aku mau pintar matematika karena ayahku sakit.” Jawaban itu terlontar lantaran keadaan ayahnya yang sakit parah dan hanya bisa diobati oleh dokter. Maka ia bertekad belajar matematika supaya bisa kuliah di jurusan kedokteran.

Proses belajar Aini tak pernah mudah. Berbagai cara ditempuhnya dengan tekad yang kuat. Tak gentar mesti Guru Desi sering memarahi dan mendampratnya. 

Baca juga: Repotnya Menjadi Muslimah Indonesia

Perlahan guru Desi luluh, dan mulai bersedia mengajari Aini matematika demi mewujudkan cita-cita Aini. Saat Guru Desi hampir putus asa mengajar Aini, ia menemukan jalan keluarnya. Mengajarinya dengan kalkus. Benar saja Aini perlahan mulai memahami matematika dan nilainya makin membaik.

Aini dengan penuh tekad dan perjuangan mengikuti tes masuk fakultas kedokteran hingga akhirnya diterima. Namun sayang, ia harus dihadapkan dengan kenyataan ia terpaksa kembali ke Pulau Tanjongsebelum menjadi seorang dokter, sebab biaya pendidikan yang tak mampu ia bayar.

Novel Guru Aini menjadi bentuk kritik terhadap pendidikan saat ini. Deretan masalah-masalah pendidikan disajikan secara apik. Masalah itu seperti ketika Guru Desi akan mengikuti program pemerintah, kualitas pendidikan, dan hak mendapatkan pendidikan yang layak. Tak hanya itu, nilai-nilai yang dalam novel karya Andrea Hirata ini seakan mengajak pembaca berpikir, harus bagaimana seorang guru menjalani profesinya, bagaimanakah sejatinya sosok guru ideal?

Baca juga: Gelar Sarjana, Bukan Segalanya

Tentu guru Desi menjadi gambaran sosok guru yang patut diteladani, sebab memiliki tekad kuat hingga sudi mengupayakan berbagai cara demi anak didiknya paham. 

Tak hanya itu, sebagai pelajar pun kita dituntut berpikir tentang sepatutnya nilai apa yang harus ada dalam diri. Dan sosok Aini yang memiliki tekad kuat serta upaya dan usahan dalam mewujudkan cita-citanya juga menjadi parameter yang tak kalah baik.

Terlepas dari renungan lika-liku dunia pendidikan yang disajikan penulis, alur cerita dalam novel ini sangat menarik dan memiliki akhir cerita yang tak dapat diduga. Namun, ada sedikit kekurangan saat peletakan siapa sebenarnya tokoh utama daam novel ini? Aini atau Guru Desi. Keduanya memang diposisikan sebagai peran utama, tetapi sosok Guru Desi hanya banyak muncul di awal cerita sedangkan dipetengahan hingga akhir penulis cenderung lebih banyak menceritakan kisah Aini.

Tinggalkan Balasan

Contact Us

Gulir ke Atas
%d blogger menyukai ini: