Kamu Harus Tau! 9 Cara Ampuh Hadapi Dosen Killer di UIN Walisongo

Kamu Harus Tau! 9 Cara Ampuh Hadapi Dosen Killer di UIN Walisongo
Gambar oleh cordens dari Pixabay

LPMMISSI.COM – Pada dasarnya, setiap manusia diciptakan dengan watak dan kepribadian yang unik. Masing-masing memiliki dominan karakter yang beragam. Begitu halnya dengan para dosen yang mengajar di UIN Walisongo. Ada beberapa tipe dosen bakal kamu temukan di UIN Waliongo. Pertama, santai dalam mengajar dan tidak pelit dalam memberi nilai. Kedua, ada juga dosen yang dikenal dengan watak yang keras, kaku, super disiplin, dan pelit dalam memberi nilai. Untuk dosen tipe kedua ini, biasanya kalau mengajar, ruang kelas akan terasa horor. Oleh karena itu, kamu perlu mengetahui 9 cara untuk menghadapi dosen killer di UIN Walisongo:

1. Jangan mudah terpengaruh dengan opini kating tentang anggapan killer pada dosen tertentu
Mayoritas mahasiswa memberikan anggapan killer pada dosen tertentu karena diwariskan oleh kakak tingkat jurusan. Dalam kata lain, itu artinya mereka memberikan anggapan terlebih dahulu pada seseorang tanpa dasar pengalaman pernah sekalipun mengenal apalagi berinteraksi secara langsung. Oleh karena itu kamu, sebaiknya jangan mudah terpengaruh dengan opini yang diwariskan kakak tingkat terkait label killer pada dosen tertentu, karena itu hanya akan membuat cemas dan was-was.

2. Ubah mindset tentang dosen killer yang mengerikan
Memang hal ini sudah menjadi stereotipe, kalau dosen killer sering diidentikkan dengan karakter yang galak dan tidak menyenangkan. Stereotipe ini, bahkan sudah mengakar kuat dalam mindset pikiran yang diyakini para mahasiswa. Tidak hanya itu, bahkan banyak mahasiswa yang terkesan berlebihan dalam mendramatisir mindset itu. Kemudian pada akhirnya, banyak yang menjadi ciut nyali terlebih dahulu, bahkan sebelum bertemu langsung dengan dosen tersebut.
Tentu, mindset seperti ini hanya akan merugikan diri sendiri. Karena dengan rasa gugup dan takut sebesar itu, bukankah kecil kemungkinan untuk optimal berkonsentrasi menyerap pengetahuan yang diberikan? Kalau sudah begitu, tentunya nilai IP akan terancam. Lebih buruk lagi, kalau akhirnya harus mengulang. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengubah mindset. Ingat, sekiller apapun dosen, beliau tetaplah hanya manusia seperti kita. Jadi, pasti di balik sikapnya yang keras dan kaku pasti juga tersimpan sisi lain dirinya yang baik.

Baca juga : 6 Hal Ini Yang Sebaiknya Kamu Lakukan Ketika Usia 20 Tahunan

3. Pahami watak dosen killer
Kamu perlu memahami watak Dosen Killer. Ini penting banget lho, karena dengan memahami watak dari Dosen tersebut. Dengan memahami watak dosen tersebut, maka kamu akan mengetahui tentang hal-hal apa saja yang disenangi dan tidak disenangi. Sehingga, kamu bisa melakukan antisipasi dini untuk menghindari melakukan hal-hal yang tidak disenangi beliau.

4. Hindari hal-hal yang tidak disenanginya
Selanjutnya kamu perlu menghindari hal-hal yang tidak disenangi oleh dosen tersebut. Kamu, tentu tidak ingin ketenangan aktivitas di kampus jadi terusik karena punya masalah dengan dosen bukan? Lebih-lebih kalau dosennya killer. Jadi, sebisa mungkin usahakan agar tidak melakukan hal-hal yang tidak disenanginya ketika berhadapan di dalam ataupun di luar kelas.

5. Bersikaplah sopan & santun kepada dosen tersebut
Bersikap sopan santun wajib kita lakukan kepada semua orang. Bertutur kata dan bersikap sopan juga sangat perlu untuk diterapkan pada semua dosen pengajar dan orang-orang yang lebih tua di sekitar kita. Namun, terkadang dosen memiliki standar kesopanan yang berbeda, dan kita harus mematuhi setiap kesepakatan yang sudah kita sepakati diawal terutama dalam hal sopan santu. Jika tidak, maka kita akan terkena marah jika melanggarnya.

Baca juga : 5 Hal Yang Jarang Diketahui Mahasiswa Baru

6. Perhatikan sungguh-sungguh perkuliahannya
Beberapa dosen yang killer, biasanya akan memberikan kuis dadakan di akhir jam perkuliahannya. Tujuannya untuk mengukur daya tangkap mahasiswa dalam memahami materi yang telah disampaikan dan mengetahui tingkat fokus selama mengikuti perkuliahan. Oleh karena itu, kamu perlu banget untuk sungguh-sungguh memperhatikan perkuliahannya. Meskipun ini tidak hanya wajib kita lakukan saat mengikuti perkuliahan dosen yang killer saja, melainkan juga saat kita mengikuti perkuliahan lain dari dosen-dosen yang bukan tergolong killer.

7. Jadilah mahasiswa yang aktif di kelas
Menjadi mahasiswa yang aktif di kelas merupakan salah satu cara yang bisa terapkan oleh kalian untuk menghadapi dosen killer. Sekeras dan sekaku apapun karakter dosen tersebut, tentu akan merasa senang bila ada mahasiswa yang responsif dalam perkuliahannya. Oleh karena itu kalian, tidak perlu sungkan untuk aktif di kelas! Misalnya dalam satu kesempatan kuis yag sudah mengetahui jawabannya, ya langsung jawab saja. Begitu pula, dalam situasi-situasi yang lain. Misalnya bila beliau meminta mahasiswa untuk menyampaikan opininya terkait kasus tertentu, maka jangan takut untuk beropini.

8. Jangan ragu bertanya bila belum memahami materi perkuliahannya
Jangan takut untuk bertanya tentang materi perkuliahan yang belum kalian pahami. Meskipun dosen pengampunya terkenal killer, tapi bukan berarti pelit ilmu. Ada banyak dosen yang terkenal killer, justru akan sangat senang bila melihat mahasiswanya menunjukkan rasa ingin tahu yang besar pada mata kuliahnya. Selain itu bertanya untuk materi yang memang tidak kita pahami juga penting, agar kita mampu memberikan jawaban yang tepat dan mendetail dalam ujian mata kuliahnya. Beberapa dosen yang terkenal killer, adalah tipe dosen yang irit memberi nilai.

Baca juga : 5 Hal yang Identik dengan Maba

9. Jangan mudah tersinggung dengan sikapnya
Dosen killer memang akrab dengan stereotipe sosok yang irit bicara atau sekali bicara akan mengeluarkan kritik yang tajam. Selain itu, sikap dan cara interaksinya pada mahasiswa juga dikenal dingin. Dan satu lagi, biasanya dosen yang dilabeli killer tersebut juga terkenal pelit memberi nilai. Oleh karena itu, tidak heran banyak mahasiswa yang merasa tersinggung dengan sikapnya ini.

Sebaiknya sikap yang seperti itu tidak usah dimasukkan ke hati. Tidak perlu overthinking menanggapinya. Selain karena itu percuma dan merusak mental diri sendiri, toh kita tidak pernah tahu apa alasannya bersikap seperti itu. Bisa jadi alasannya pelit memberikan apresiasi dan pujian pada mahasiswa, adalah karena tidak ingin mahasiswanya cepat berpuas diri dalam belajar dan malah terjerumus dalam kesombongan. Kalau memang seperti itu, seharusnya kita malah berterimakasih bukan? Karena secara tidak langsung kita jadi termotivasi untuk senantiasa belajar. Selain itu, banyak alasan lain yang melatarbelakangi wataknya tersebut.

Penulis: Lailatul Maghfiroh

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: