Buy now

26 C
Semarang
Senin, Juni 24, 2024
spot_img

Berani Beda, Mahasiswa ISAI Kritik Melalui Lukisan

foto: doc. lpmmissi.com

SEMARANG, LPMMISSI.COM- Lalu lalang mahasiswa di waktu sore itu bagaikan air yang mengalir deras tanpa henti keluar dari Gerbang Kampus 3 UIN Walisongo. Namun, di depan gerbang Kampus 3 UIN Walisongo lagu-lagu bernada perjuangan terdengar. Lagu itu menyambut para peserta Panggung Bebas “Aksi Refleksi Perpu Cipta Kerja: Lawan Bentuk Khianat Terhadap Rakyat!”, Kamis (09/03).

Para masa aksi pun telah memasang spanduk bertuliskan apa yang mereka tuntut, seperti “Ciptaker Sengsarakan Buruh.”

Aksi yang digagas oleh Kementerian Sosial dan Politik Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Walisongo ini menyuarakan pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) Cipta Kerja oleh presiden, permintaan kepada DPR RI untuk tidak menyetujui Perpu Cipta Kerja, meminta presiden dan DPR RI untuk mencabut Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja, serta menghentikan segala bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi.

Aksi refleksi baru dimulai pada pukul 16.30 dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu-lagu perjuangan.

Massa aksi perwakilan dari tiap fakultas di UIN Walisongo menyuarakan aspirasinya melalui puisi maupun orasi.

Di belakang peserta aksi yang duduk mendengarkan orasi dan pementasan musikalisasi puisi, tiga mahasiswa Ilmu Seni dan Arsitektur Islam (ISAI), melukiskan aspirasinya di atas banner putih.

Mereka ialah Muhammad Sambo Rafli, Yusuf Maulana, dan Meisar Ananada.

“Ketika menjadi seorang aktivis, mahasiswa ISAI tidak pandai dalam bercakap, tetapi kami mengungkapkannya dalam sebuah seni,” ucap Sambo.

Ketika melukis, mereka juga dibantu oleh teman-temannya secara bergantian.

Ia pun menjelaskan maksud dari gambar tersebut yang menonjolkan tentang ketidak adilan dan undang-undang yang dapat dibeli dengan uang. Makna tersebut disimbolkan buruh, pejabat, dan uang.

“Kita lebih memunculkan tentang keadilan dan pemerintahan yang kalah dengan uang,” pungkasnya.

Hingga aksi selesai menjelang azan Maghrib, lukisan belum selesai dan mereka masih sibuk memberi warna lukisannya.

Reporter: Ma’unatul Hamidah
Editor: Muhammad Irfan Habibi

baca juga

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0PengikutMengikuti
3,609PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

terkini