Toer Dicap Bangun Perpus Liar, Pataba

Foto: Lpmmissi.com/ Sabrina Mutiara F.

Teriknya sinar matahari mengiringi perjalanan kami menuju salah satu tempat bersejarah di Blora. Tepat di Jalan Pramoedya Ananta Toer No.40 Jetis, Blora, terdapat rumah tua dengan plang bertuliskan “Perpustakaan Pataba”.

Pasalnya perpustakaan ini sangat sepi pengunjung. Pagar besi hitam di depan halaman masih terkunci erat. Tumpukan sampah plastik tersusun rapi, dan kambing-kambing dibiarkan berlarian di tengah halaman.

Siang itu terdapat perempuan paruh baya yang sedang duduk di teras bangunan sederhana bercat putih dengan kombinasi hijau dan kuning di bagian tepinya. Perempuan tersebut ialah istri dari tuan rumah, kemudian Ia mempersilahkan kami masuk. Sampai ruang utama, kami disambut barisan kursi berbentuk leter-u kosong tanpa penghuni.

Baca Juga: Berawal dari KKN Hingga Berdirinya Bilik Baca

Belum lama kami duduk, datanglah Soesilo Ananta Toer membawa gelas alumunium abu-abu di tangannya. Pria berperawakan kecil itu menyambut kami dengan senyuman yang ramah. Siapa yang tak kenal pria kelahiran 17 Februari 1937 ini, namanya terpampang di dalam puluhan karyanya.

Sorot matanya yang tajam seakan menandakan bahwa Soes adalah seorang pemikir. Riwayatnya ia mampu menyelesaikan serial keempat dari pentalogi buku tentang Pramoedya Ananta Toer.

Saat diwawancarai, ia bercerita tentang sejarah, tokoh hebat seperti kakanya; Pram, juga tentang perjalanan berdirinya perpustakaan Pataba di Blora.

Sebenarnya, Soes mulai membuka perpustakaan, waktu masih menjadi dosen Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Jakarta, sekaligus Rektor di Universitas Bhakti Pertiwi Bekasi. Pasalnya, setengah gaji hasil kerjanya digunakan untuk membeli buku, setengahnya lagi untuk mentraktir mahasiswanya. Kegiatan yang dilakukan secara berulang itu, akhirnya terkumpul 1000 lebih buku di perpustakaannya.

Baca Juga: Konsep PBAK 2020 Masih Menunggu Protokol Pemkot Semarang 

Kemudian pada tahun 2004, tanah, warung dan rumahnya di Bekasi digusur oleh Pemerintah. Akhirnya, Ia memutuskan untuk pulang ke Blora. Seiring waktu, hingga menjelang tanggal 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia. Dari situlah Soes berinisiatif mendirikan Perpustakaan Pataba untuk mengenang seorang Pram.

“Dulu Pataba akronim dari ‘Pramoedya Ananta Toer Anak Blora’, namun pada tahun itu ada move anti China saya ganti lagi menjadi ‘Pramoedya Ananta Toer Anak Blora Asli’. Tahunya pada tetralogi bukunya Pram ada buku Anak Semua Bangsa, jadilah ‘Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa’,”tutur Soes pada Kru lpmmissi.com, Sabtu (1/8).

Siapa yang akan mengira, berdirinya Pataba hingga sekarang ternyata memicu banyak kontroversi. Orang-orang malah mengaggap Pataba sebagai perpustakaan liar karena banyak buku kiri.

Baca Juga: Bimbingan Online, Mahasiswa Terkesan Teror Dosen Pembimbing

Ia melanjutkan ceritanya waktu didatangi pemerintah setempat melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Blora. Sambil menggertak dan membawa senjata, ia berujar ‘Perpus liar ini! Perpus kok gak ada ijinnya!’

“Harusnya ke perpus ya bawa buku, ini kok bawa senjata,” sahutnya mengomentari gertakan dari Sekda.

Tujuan awal Soes mendirikan Pataba adalah memberi ruang baca pada masyarakat RT/RW 01/01 Jetis, Blora. Mirisnya, tercatat 14 tahun lalu sampai  sekarang, sama sekali belum ada keluarga di sekitar lingkungan Soes yang enggan meminjam buku di perpustakaan.

“Mau gimana lagi? Ya itulah hebatnya Indonesia,” ia mengatakannya sambil tertawa terbahak-bahak.

Reporter: Sabrina Mutiara F
Editor: Sekarwati

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: