LPMMISSI.COM

Ponpes Dondong, Yang Sempat Dijadikan Markas Melawan Penjajah di Semarang

Foto: www.google.com

Azan berkumandang, beberapa orang berduyun-duyun ke arah Masjid yang berada di dalam lokasi Pondok Pesantren Dondong berlokasi di Desa Wonosari, Kota Semarang.

Tak ketinggalan pula beberapa santri dengan pakaian khasnya sudah lebih awal berada di dalam Masjid Dondong dengan membentuk saf untuk persiapan sholat. 

Ponpes Dondong merupakan pondok tertua di Jawa Tengah.  Berdasarkan arsip ponpes yang diperoleh,  Ponpes Dondong berdiri sekitar tahun 1600 Masehi yang didirikan pada zaman Mataram saat era Sultan Agung. 

Awalnya Ponpes Dondong didirikan oleh seorang ulama berdarah Mataram, bernama Kiai Syafii Piyoronegoro. Lokasi Ponpes Dondong sempat mengalami perubahan. 

Sebelumnya Ponpes Dondong berada di dekat pantai Panggung, Mangkang Kulon Utara. Namun, terpaksa pindah karena daerah tersebut sering tergenang banjir. 

“Sebenarnya sejarahnya itu menurut masyarakat, alumni dan para tokoh, mengatakan bahwa Kiai Syafi’i Piyoronegoro merupakan pejuang Mataram komandan pasukan Sultan Agung untuk melawan pasukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia, pada 1629,” cerita keturunan ketujuh pendiri Ponpes Dondong, Gus Toba (18/7).

Baca juga: Menilik Kebijakan Baru Benchmarking


Ketika Pondok Dondong sudah berpindah tempat di Kampung Dondong, maka beralihlah fungsi Ponpes Dondong  sebagai benteng untuk memerangi pasukan Batavia sekaligus dimanfaatkan untuk berdakwah di masyarakat sekitar. 

“Bahkan, Ponpes Dondong sempat dijadikan markas relawan serta pusat pertahanan di Semarang Barat saat menjelang tahun 1945,” imbuhnya.

Ponpes Dondong mencapai puncaknya ketika tongkat kepemimpinan dipegang Kaii Abdullah Buiqin sekitar 1316 M. Pada masa itu banyak santri yang mencari ilmu di Pondok Dondong hingga asrama yang disediakan Ponpes tidak cukup menampung. Bahkan dulunya sempat ada peribahasa “Kalau belum ngaji di Dondong belum sempurna agamanya”.

 “Dulu itu ungkapan orang sepuh di sini, kalau belum ngaji (belajar agama Islam) di Mangkang. Artinya pondok di sini ya dianggap belum sempurna,” ucapnya sambil mengingat masa keemasan Pondok Dondong.

Bahkan, Mbah Sholeh Darat (Kiai Umar) yang dikenal sebagai guru Raden Ajeng Kartini merupakan salah satu santri yang pernah belajar di Pondok Dondong. 

Di balik cerita setiap pengasuh ponpes, selalu ada cerita yang bersifat laduni (ilmu yang datangnya langsung dari Allah SWT) dan karomah (kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang alim).

“Dulunya ada sapi sakit yang akhirnya disembuhkan salah satu pengasuh, tidak hanya sembuh sapi tersebut malah bisa memahami bahasa manusia. Bahkan dulunya sapi tersebut pernah dijadikan tempat bercandaan oleh masyarakat sekitar karena bisa bahasa manusia,” ujarnya.

Baca juga: Dakwah Harus Mengikuti Era Disrupsi Dalam Perkembangan Globalisasi

Keajaiban yang lain, setiap kali pengasuh membuang hajat di sekitar ponpes, maka akan tumbuh pohon pisang yang besar namun tidak tumbuh buahnya. 

“Ketika di tebang pohon pisang itu di tengah-tengah batangnya ada pisangnya. Namun bijinya banyak, ketika dikumpulin bijinya berjumlah 99 lalu dijadikan tasbih,” imbuhnya.

Sampai saat ini jejak keemasan Ponpes Dondong masih tersimpan, diantaranya  air mancur kecil dan dua asrama dengan ukuran cukup besar yang sampai sekarang masih digunakan sebagai asrama para santri yang menimba ilmu di Ponpes Dondong.

Sampai saat ini, Ponpes Dondong memiliki 30 santri yang diasuh Gus Toba (keturunan ke tuju dari Kiai Syafii).


Reporter: Fitroh Nurikhsan
Editor: M. Dafi Yusuf

Tinggalkan Balasan

Contact Us