spot_img
HomeesaiPertumbuhan Krisis Iklim di Dunia

Pertumbuhan Krisis Iklim di Dunia

Doc.lpmmissi.com

 

“Dua tahun lebih lamanya, pertumbuhan angka positif covid-19 di Dunia sudahkah menurun?”

 

Rasanya terlalu hambar jika saya kembali mengungkit soal covid-19. Sudah lekat ingatan, jelas duduk persoalan, jika menyangkut virus yang mengguncang dunia pada akhir tahun 2019 itu. Tapi jujur, sejak itu saya tak lagi pandai mengartikan apa sesungguhnya makna dibalik kata positif.

 

Pertumbuhan angka positif covid-19 di dunia memang bukanlah hal yang baik, tiap orang tahu akan hal itu. Padahal sudah begitu lama dua kata itu (pertumbuhan dan positif) menjadi hulu ledak dalam persenjataan hidup saya. Dimana orang lain memaknainya sebagai kata-kata motivasi, penyemangat.

 

Kini, di saat dunia memperingati hari bumi sedunia pada 22 april. Dua kata tersebut hadir lagi, tibanya bagai sambaran petir. Tak berbeda dengan kedatangan covid-19 dulu. Terasa mencekam dan mengkhawatirkan. Terbersitlah pertanyaan di dalam kepala. Bagaimana kiranya pertumbuhan krisis iklim di dunia? Positif atau negatif?

 

Perubahan Iklim di Dunia, Mengkhawatirkan?

 

Mengkhawatirkan atau tidak. Hal tersebut dapat kita lihat dari seberapa marak kampanye krisis iklim di dunia saat ini. Sudah tinggi kah kesadaran kita akan perubahan iklim yang terjadi hari ini?

 

Setidaknya pertanyaan tersebut pernah dilantunkan oleh Simon Donner dan Jeremy McDaniels terhadap negaranya. Dua peneliti tersebut mencoba meneliti opini publik terkait perubahan iklim selama 20 tahun terakhir di Amerika Serikat. Penelitian tersebut mencoba mengkaitkan antara perubahan iklim dengan sejumlah faktor. Seperti nilai pribadi, ideologi politik, lingkungan media dan pengalaman pribadi.

 

Studi terbaru mereka pada tahun 2013 menunjukkan jika suhu cuaca mempengaruhi pendapat seseorang terhadap perubahan iklim. Kenaikan satu derjat celcius (C) suhu tahunan selama 12 bulan sama dengan kenaikan hampir 10% dari ratusan orang yang bimbang tentang perubahan iklim. Penlitian ini pun membuat saya menjadi bertannya-tanya, bisakah perubahan iklim dilihat skala kepercayaan dan kekhawatiran manusia terhadapnya?

 

Setidaknya, penelitian ini memberi tahu kita bahwa perubahan iklim bukan saja menyoal, misal, membaca dan memahami laporan perubahan iklim (Climate Transparency Report) yang diterbitkan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) pada Oktober 2021. Tapi juga menyangkut fakta, bahwa kepercayaan perubahan iklim juga ditentukan oleh persepsi dan pengalaman kita. Artinya perubahan iklim bukan semata data, tapi kenyataan yang semestinya bijak kita hadapi, permasalahan global yang harus ditanggulangi.

 

Maka, dengan adanya kesadaran terkait hal itu, setidaknya ada beberapa penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mencegah perubahan iklim yang nantinya akan berujung pada krisis iklim secara global. Misalnya, dengan mengkampanyekan krisis iklim di media sosial, menggunakan sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan, membatasi kendaraan berbahan bakar fosil, melakukan penanaman hutan dalam skala besar dan sebagainya.

 

Pemanasan Global Merupakan Permasalahan Global

 

Saya percaya, sekalipun kita tidak pernah memiliki niat melihat secara langsung gletser (bongkahan es besar) yang mulai meleleh di antartika karena perubahan iklim atau pemanasan global. Tapi percayalah, pemanasan global mampu membuat sesuatu yang begitu jauh perlahan menjadi sesuatu yang dapat kita lihat dengan mata kepala.

 

Tentunya, saya tidak sedang berbicara mengenai gletser yang mulai mencair. Melainkan dampak yang disebabkan oleh pemanasan global. Menurut ilmuwan, jika gletser mencair seluruhnya. Maka permukaan air laut dunia akan naik setinggi 230 kaki atau sekitar 70 meter. Akibatnya pesisir pantai akan terbenam oleh air laut dan lahan perlahan-lahan akan makin menyusut.

 

Krisis iklim bukan berarti iklim yang semakin berkurang. Melainkan krisis yang dialami seluruh dunia dikarenakan perubahan iklim. Pemanasan global yang memicu mencairnya gletser di kutub utara hanyalah sebagian kecil atau pucuk gunung es dari krisis iklim. Pada akhirnya krisis iklim akan berdampak ke berbagai aspek. Entah itu pada kesehatan, ekonomi, lingkungan bahkan kehidupan manusia.

 

Untuk di Indonesia sendiri, masing-masing kita mungkin punya gambaran dari krisis iklim yang mencoba mencekik negeri yang dikenal indah dan kaya sebagai bumi khatulistiwa. Misalnya saja, seperti cuaca yang tidak menentu, anjloknya pendapat nelayan dan petani, menurunnya kualitas dan kualitas air, banjir dimana-mana dan sebagainya.

 

Pertumbuhan Krisis Iklim Dunia

 

Krisis iklim terjadi disebabkan oleh fenomena yang disebut efek gas rumah kaca yang meningkat. Yaitu konsentrasi berlebihan dari gas karbon dioksida (Co2) dan gas-gas lainnya terhadap atmosfer bumi. Padahal, efek gas rumah kaca dibutuhkan untuk menjaga lapisan ozon dan suhu bumi tetap stabil.

 

Tapi karena atsmosfer bumi yang menebal, akhirnya jumlah panas yang terperangkap dalam bumi semakin meningkat. Sehingga pemanasan global pun terjadi dan memicu perubahan iklim. Jangka panjang dari perubahan iklim inilah yang nantinya akan menyebabkan krisis iklim di dunia terus meningkat dari waktu ke waktu.

 

Hal ini dapat terjadi tidak lain karena aktifitas manusia yang seringkali semena-mena terhadap alam. Dimana manusia tidak hanya mengambil tapi juga merusak ekosistem. Misalnya, emisi bahan bakar fosil, pembakaran hutan dengan skala besar hingga kegiatan industri yang mencemari bumi.

 

Ketika membaca laporan kerja dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) siapa yang tidak kaget? Badan iklim dunia tersebut menyatakan bahwa dampak yang kita alami saat sekarang ini tidak ada apa-apanya dibanding dua dekade mendatang. Dimana suhu panas bumi bertumbuh hingga 1,5 derjat celicius. Bahkan lebih yang lebih buruk. Ditahun 2100. panas bumi diperkirakan mencapai 4,4 derjat celcius.

 

Bisakah umat manusia bertahan dari krisis iklim atau malah mengalami kepunahan? Saya kira untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat dimulai dari usaha kita untuk menjaga lingkungan, mencintai alam dan hidup dalam ekosistem yang sehat. Maka, jangan lagi pemerintah menutup mata dengan mencaplok alam seenaknya, pengusaha dan pabriknya menyangkal menjadi pelaku krisis iklim dan kita, semestinya apa yang bisa kita perbuat agar krisis iklim dimasa mendatang dapat dicegah? Saya kira, setiap dari kita amat tahu apa jawabannya.

 

Penulis: Ihsanul Fikri

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

PALING BARU

PALING POPULER