Buy now

31 C
Semarang
Kamis, Mei 30, 2024
spot_img

Panggung Aspirasi FDK, Maba: Kalau Kampus Belum Siap Jangan Dipaksakan

Ketua DEMA FDK, Bagas Adi Putra berorasi saat Panggung Aspirasi berlangsung, Minggu (6/8).
Foto: lpmmissi.com/Indah

SEMARANG, LPMMISSI.COM – Mahasiswa baru (maba) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang menyampaikan keluhan terkait tingginya UKT dan fasilitas ma’had pada Panggung Aspirasi yang digelar Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FDK di Gedung Dekanat FDK, Minggu (6/8).

Salah satu maba FDK, Haikal, mengatakan bahwa dirinya mendapatkan UKT golongan 7 sedangkan orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh.

Ia juga turut mempertanyakan kualitas fasilitas ma’had. Menurutnya, kualitas ma’had saat ini belum bisa dikatakan layak.

“Kalau belum bisa membuat sistem dan memenuhi fasilitas yang memadai, jangan dipaksakan,” katanya.

Hal itu senada dengan ungkapan dari salah seorang mahasiswa jurusan Manajemen Haji dan Umroh (MHU), Tri Juliana Zahra, bahwa adanya ketidakadilan fasilitas yang terjadi diantara gedung ma’had satu dengan gedung lain, seperti kasur dan lemari.

“Di ma’had satu mereka menggunakan ranjang dan springbed sedangkan di gedung dua kita menggunakan matras dan tidur di lantai, meskipun kamarnya sedikit lebih luas,” ujarnya.

Tak hanya itu, fasilitas kamar mandi juga dinilai kurang layak, sebab pintu rusak, lampu mati, air mati, hingga toilet mampet.

“Kadang kita juga perlu pergi dari gedung B ke gedung A untuk minta air karena air di gedung B mati,” katanya.

Zahra juga mengatakan pernah ada yang mendapatkan nasi mentah, makanan basi, bahkan makanan yang sudah tidak layak.

“Untuk soal makanan, mohon lebih dilayakkan karena kita juga manusia,” ucapnya.

Ketua DEMA FDK, Bagas, mengatakan, panggung aspirasi ini bertujuan untuk memfasilitasi aspirasi para maba terkait UKT yang makin mahal, akses dan fasilitas pendidikan yang tidak terjangkau, dan ketidakjelasan pondok mitra.

“Itu sebuah bukti pengkhianatan birokrasi kita,” ucapnya.

Acara panggung aspirasi ini dibuka dengan melantangkan sumpah mahasiswa. Dilanjutkan dengan melantunkan salawat yang diikuti oleh para maba sebagai bentuk simbol matinya hati nurani birokrasi UIN Walisongo.

“Telah mati pikiran birokrasi kita yang mana pada hari ini dihadapkan pada UKT yang mahal dan mereka tidak tau kondisi ekonomi mahasiswa yang terbatas,” tegasnya.

Reporter: Indah Wulan
Editor: Aulia Putri

baca juga

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0PengikutMengikuti
3,609PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

terkini