MENTERI AGAMA: Keberagaman Itu Sunatullah



LPMMISSI.COM, SEMARANG — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut keberagaman sebagai sunatullah dan hendaknya umat Islam mampu menghargai itu. Manusia memiliki keterbatasan, keberagaman memudahkan agar yang terbatas saling memiliki dan melengkapi.

Nilai-nilai Islam kata Lukman, bisa beragam implementasinya di tempat yang berbeda. Maka keberagaman perlu dihargai dengan tidak  bersikap jemawa dan merasa paling benar.

“Kalau ada yang tidak cocok, disampaikan dengan kearifan, bukan menyalahkan apalagi mengkafirkan,” ujar Lukman saat menjadi pembicara pada Halaqah Kebangsaan di Auditorium II 
UIN Walisongo, Jumat (12/5).

Lukman berharap umat Islam mampu memahami, sebagai sebuah agama, Islam memiliki substansi pokok bagaimana agar fungsi kemanusiaan manusia bisa terlaksana dengan baik. Manusia memiliki dua fungsi utama, sebagai Abdullah (hamba Allah) dan Khalifah Allah. Dalam menjalankan fungsi sebagai hamba Allah, artinya manusia juga menjalankan fungsi sebagai Khalifah Allah.

“ Bahkan ibadah yang personal sekalipun seperti shalat, Islam mengajarkan pengamalannya harus mengarah kepada aspek sosial. Dalam Alquran, dijelaskan bahwa salat tujuannya agar kita tidak melakukan perbuatan mungkar,” imbuhnya.

Selain itu, Islam juga merupakan ajaran agama yang mementingkan bagaimana kehadiran manusia bisa memberi kemaslahatan bagi kehidupan sosial. Islam diajarkan sebagai ajaran yang menebarkan kasih sayang. Oleh karenanya, metodologi penyebaran ajaran Islam harus berdasar pada prinsip cinta dan kasih sayang.

“ Fungsi kita di bumi itu mengatur mengelola dan membangun, bukan justru merusak,” tegasnya.

Lukman mengatakan kalangan yang memiliki peluang besar untuk mewariskan nilai-nilai penghargaan terhadap keberagaman di antaranya adalah kaum santri.
Sebab menurutnya, santri memliki lima ciri utama dalam konteks ke-Indonesia-an. Pertama, pemahaman yang baik terhadap nilai-nilai Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, santri mampu menghargai keberagaman. Ketiga, santri tidak memonopoli keberagaman dengan kerendahan hati menyadari bahwa manusia itu terbatas. Keempat, santri sangat menghargai tradisi budaya lokal di mana ia tinggal. Kelima, santri mencintai tanah air dengan pemahaman di tanah air nilai-nilai Islam bisa diterapkan.


“Di pondok pesantren, keberagaman itu luar biasa terjadi. Latar belakang daerah, nilai, adat istiadat di sana hidup bersama untuk saling melengkapi,” pungkasnya. (Korie Khoriah)

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: