Menjelang Akhir Ramadhan


Ramadan merupakan bulan yang dikhususkan Allah bagi para hamba-Nya untuk berlomba mencari pahala sebanyak-banyaknya. Seperti yang kita ketahui, banyak sekali keutamaan bulan Ramadan, diantaranya yakni dilipatgandakannya pahala dari amal shalih yang kita lakukan. Selain itu, setiap amal yang kita lakukan mengandung keberkahan, bahkan terdapat satu malam mulia yang disetarakan dengan amalan selama seribu bulan.

Jadi, tidak sepantasnya kita menyia-nyiakan masa ini jika hanya sekedar memenuhi keinginan berlebaran. Bukankah tujuan dari perintah menjalankan puasa adalah untuk menahan nafsu? Namun, latihan yang dijalankan selama satu bulan guna melatih diri itu akan terasa sia-sia jika masih saja melakukan pemborosan. Tidak hanya itu, puasa juga sebagai bentuk pengembangan empati masing-masing individu, untuk merasakan kesusahan oleh saudara kita yang kurang mampu.

Apakah kekhusyukan dalam beribadah hanya terbatas pada pelaksanaan salat? Demikian pertanyaan kali ini. Rasulullah tidak mengajarkan kepada umatnya cara untuk tergesa-gesa dalam beribadah, melainkan tuma’ninah sebagai bentuk kekhusyukan dalam beribadah. Sifat tergesa-gesa merupakan kondisi psikologis seseorang secara emosional memperlihatkan keinginan tentang sesuatu untuk sesegera mungkin dilakukan tanpa adanya pertimbangan, sehingga aktivitas pun menjadi tidak produktif. Rasul dengan jelas bersabda dalam hadistnya, “Ketenangan itu dari Allah dan tergesa-gesa itu dari Syaithan,” (H.R Tirmidzi).

Dalam menjalankan puasa pun perlu dibangun sikap tuma’ninah layaknya menjalankan salat. Dari sikap inilah ketenangan sebagai syarat untuk mencapai kekhusyukan dalam beribadah dapat dirasakan. Sebab, sebagian dari kita semakin sering melupakan beberapa keutamaan puasa Ramadan. Seperti makan sahur, membaca Al-Quran, memperbanyak sedekah dari pada melakukan pemborosan, dan menjalankan salat sunah terawih.

Dalam definisi salat, tuma’ninah berarti tenang, berhenti atau tidak bergerak, semua anggota badan tidak bergerak pada tempatnya, kira-kira lamanya seukuran bacaan “subhanallah”. Selain manfaat berupa ketenangan, tuma’ninah dalam shalat juga dapat memelihara jaringan pembuluh darah otak. Sikap tuma’ninah akan memberikan kelancaran bagi berlangsungnya proses perubahan aktivitas peredaran darah menuju otak, sehingga berjalan secara sempurna.

Masyarakat seolah terbuai untuk kesenangan perayaan lebaran dari pada menikmati proses ibadah Ramadan, Seperti sikap mudah puas dengan menyambut kedatangan hari raya Idul Fitri. Masyarakat lebih suka menyibukkan diri untuk menyiapkan segala keperluan lebaran, misalnya makanan atau pun baju baru. Menjalankan puasa sekedar mengugurkan kewajiban selama satu bulan saja, dan menjadikan keutamaan Ramadhan sirna tanpa sisa. Seolah masa yang paling utama dalam menjalankan setiap ikhtiar puasa adalah ketika Ramadhan telah berakhir, yakni perayaan lebaran. 

Masyarakat disibukkan pada kebutuhan pemenuhan lebaran ketimbang memenuhi kebutuhan ukhrawi.
Jangan sampai kita tergolong umat yang merugi, karena menyianyiakan kesempatan Ramadan setahun sekali. Akan lebih baik apabila kita memanfaatkan Ramadan dengan mengumpulkan amal shaleh yang banyak. Karena manusia tidak dapat mengatur ulang waktu yang telah dilewati. Kita tidak pernah tahu, ketetapan Allah, mungkin saja Ramadan yang tahun ini adalah kesempatan terakhir dari Allah.

Ada sebuah nasihat, Ja’far bin Sulaiman, ia berkata bahwa dia mendengar Rabiah menasehati Sufyan Ats Tsauri, “Sesungguhnya engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Apabila satu hari telah berlalu, maka sebagian darimu akan pergi. Namun engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramalah.”

Penulis: Sekarsari (MG 2017)
Ilustrasi: Naela Mala Hima Ulya
Editor: Aini Irmadana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us