Membangun Kontra Narasi Ekstrimisme Melalui Literasi Media


Islam radikal seringkali diidentikkan dengan kelompok-kelompok penganut kepercayaan Islam yang mengarahkan seseorang pada gerakan ekstrimisme. Ekstrimisme sendiri sering diartikan sebagai keadaan atau tindakan penganut sebuah paham yang berlebihan dan menantang berdasar pada agama, politik, dan sebagainya.


Di mata para penganut Islam radikal, agama seolah dipandang sebagai permainan yang bisa diubah sesuai keinginan hati dan memonopolinya dengan membuat tafsiran versi kelompok sendiri. Bisa Seperti bagaimana ISIS memberi iming-iming surga saat merekrut anggotanya. Padahal jika dipikir secara logis, surga jenis apa yang diberikan Tuhan bagi manusia yang tega memenggal kepala saudaranya sendiri dan merampas hak-hak sesama muslim?
Celakanya, ada saja yang tertarik untuk bergabung dengan kelompok-kelompok ekstremis tersebut. Selain karena dorongan ketaatan terhadap agama, adapula faktor lain yang dijadikan penarik untuk merekrut anggota sebanyak-banyaknya. Misalnya faktor psikologis dan sosial-ekonomi masyarakat, seperti ketegangan etnis, kurangnya peluang ekonomi, pengangguran dan pendidikan rendah.

Anak muda atau remaja merupakan salah satu target empuk yang direkrut oleh kelompok-kelompok ekstremis. Alasannya, pola pikir remaja dinilai masih labil. Kadang yakin dengan pendirian, tiba-tiba berubah tanpa sebab, penuh keragu-raguan. Labilnya kondisi psikologis seseorang akan menyebabkan ia mudah terpengaruh oleh rangsangan dari luar, sekalipun itu merupakan hal-hal baru atau asing baginya, termasuk saat menerima informasi.

Tidak sedikit kelompok dari gerakan ekstremis yang turut memanfaatkan media massa sebagai wadah mensosialisasikan dan mewariskan ideologi. Mengingat media massa sampai saat ini masih menjadi alat yang dipercaya masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan informasi.

Perlu diingat juga bahwa media massa memiliki kekuatan agenda setting. Seperti yang diungkapkan Mc Combs dan Shaw (1972), apabila media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media tersebut akan membuat masyarakat menganggap peristiwa itu penting. Dalam hal ini, media mempunyai efek yang kuat dalam mempengaruhi asumsi masyarakat. Sehingga akan muncul pendapat bahwa apa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting juga oleh masyarakat. Terlebih semenjak benda ajaib bernama ‘internet’ muncul dan berkembang. Tanpa diminta, informasi jenis apapun akan dengan mudah diperoleh hanya dengan satu syarat: terhubung ke internet.

Survei yang dilakukan sepanjang 2016 menunjukkan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Adapun total penduduk Indonesia sendiri sebanyak 256,2 juta jiwa. Data tersebut memperlihatkan betapa media baru bernama internet memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menarik penggunanya. Hanya dalam hitungan detik berbagai informasi akan sampai kepada khalayak secepat kilat.

Bagaimana jadinya jika wahana internet menjadi media yang dimanfaatkan kelompok ekstremis untuk menyebarkan konten radikal? Maka dengan kondisi remaja yang masih rentan terhadap pengaruh, sudah bisa dipastikan akan memberikan pengaruh buruk dan berbahaya. Hal ini tidak boleh dibiarkan mewarnai pemikiran masyarakat Indonesia, utamanya mengisi relung-relung pemikiran generasi penerus bangsa sehingga membentuk mindset radikal.

Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk bisa menangkal atau meminimalisir gerakan radikalisme yang disebarkan melalui media massa, salah satunya yakni dengan literasi media. Gerakan literasi media sangat penting dan mendesak untuk dikampanyekan sebagai sebuah gerakan sosial kemasyarakatan guna mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami, menggunakan dan menilai media secara benar dan tepat.

Melalui literasi media juga diharapkan masyarakat dapat membedakan mana informasi yang salah dan mana yang benar, dengan kata lain. memfilter dan melakukan tabayyun (koreksi dan klarifikasi) terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasakan.

Selain melalui literasi media, upaya yang bisa dilakukan untuk bisa menangkal atau meminimalisir gerakan radikalisme adalah dengan Strategi pelaksanaan kontra narasi ekstremis. Strategi ini antara lain dengan cara memperbanyak tulisan-tulisan di media massa maupun media sosial sesuai dengan jenis media apa yang sering digandrungi masyarakat kebanyakan. Sehingga dapat mencerahkan dan memperkuat imunitas daya tahan masyarakat dari narasi yang provokatif.

Penulis : Nurul Afifah


Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: