LPMMISSI.COM

17 Agustus, Antara Merdeka dan Berduka



Telah menjadi sebuah tradisi, setiap tanggal 17 Agustus masyarakat Indonesia dengan gegap gempita merayakan hari kemerdekaan, sebuah kado terindah yang dipersembahkan para pahlawan pasca menumpas penjajahan. Namun dibalik kebahagiaan itu, terselip duka yang seringkali luput dari perhatian bangsa ini, pasalnya dua tokoh penting Indonesia WR. Supratman dan Herman Neubronner Van Der Tuuk meninggal dunia di tanggal 17 Agustus.
Wage Rudolf Supratman atau biasanya disingkat WR. Supratman lahir 9 Maret 1903 di Jatinegara,Batavia dan wafat 17 Agustus 1938 di Surabaya. Ia adalah pengarang lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya“. Ayahnya bernama Senen, seorang sersan di Batalyon VIII. Saudara Soepratman berjumlah enam, satu laki-laki adapun yang lainnya perempuan. Tahun 1914, Soepratman ikut salah seorang saudara perempuannya bernama Roekijem ke Makassar. Di sana ia disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem yang bernama Willem van Eldik.
Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman memperoleh pelajaran musik dari Willem van Eldik. Sampai akhirnya Soepratman mahir bermain biola dan mampu menggubah lagu. Setelah belajar di Makassar, kemudian Soepratman berpindah ke Jakarta. Suatu ketika ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul. Soepratman tertantang, lalu mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 dari tangannya terciptalah lagu Indonesia Raya. Saat itu ia berusia 21 tahun. Tak disangka, karyanya tersebut membuat ahli-ahli musik Indonesia merasa tertantang untuk menciptakan lagu kebangsaan lainnya.
Bulan Oktober 1928 di Jakarta dilangsungkan Kongres Pemuda II yang menjadi cikal bakal tercetusnya Sumpah Pemuda. Pada malam penutupan kongres, tepatnya 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum yang disarankan oleh Soegondo. Itu adalah pertama kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan sebagai perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.
Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, salah satu lambang persatuan bangsa. Tetapi sayang, pencipta lagu itu, WR. Soepratman tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan karena ajal telah menjemputnya lebih dulu.
Lagu ciptaannya yang terakhir berjudul “Matahari Terbit” di awal Agustus 1938, menyebabkan WR. Soepratman ditangkap kepolisian Belanda karena menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di NIROM Jalan Embong Malang. Ia lalu ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya. WR Soepratman wafat pada tanggal 17 Agustus 1938 karena sakit.
Sementara Herman Neubronner Van Der Tuuk lahir di Malaka, 24 Oktober 1824 dan meninggal di Surabaya, 17 Agustus 1894 pada umur 69 tahun. Van der Tuuk ikut menyebarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dan Ia termasuk orang yang menentang cara berpakaian Belanda, penentang segala hal tabu dalam berbahasa, moralitas, masyarakat dan ilmu pengetahuan.
Dikenal sebagai orang yang sangat berbakat dalam mempelajari bahasa, ia banyak menyusun kamus, seperti kamus bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Toba, bahasa Lampung, dan bahasa Bali. Sebagai tambahan, sebuah buku tata bahasa Toba juga berhasil disusunnya sebagai yang pertama kali. Motivasinya utama Van Der Tuuk sebenarnya adalah dalam rangka misi penyebarluasan Bibel ke dalam bahasa-bahasa tersebut. Berkat kemahirannya, ia menjadi orang yang pertama kali menerjemahkan Bibel ke dalam bahasa Melayu. Magnum opus-nya adalah kamus tribahasa Kawi-Bali-Belanda yang baru terbit sepeninggalnya.
Van Der Tuuk mewariskan dua hukum tentang peralihan konsonan dalam bahasa-bahasa Austronesia. Hukum pertama adalah mengenai pergeseran antara bunyi /r/, /g/, dan /h/, sedangkan yang kedua adalah mengenai pergeseran konsonan antara /r/, /d/, dan /l/.
Sekitar 40 tahun waktunya, ia habiskan untuk mempelajari bahasa Bali dan Jawa Kuno. Ia bersahabat baik dengan para seniman tradisional dan para sastrawan kidung, tembang dan kakawin di Bali. Ia juga berusaha membaur dengan masyarakat Singaraja, selalu mengenakan sarung dan jarang memakai baju.
Konon masa tua Van Der Tuuk sering dihabiskan untuk berjalan-jalan di pantai Singaraja, dengan tungked (tongkat untuk membantu berjalan) yang di ujungnya berpentol besar. Kalau ada yang mengganggunya atau menertawakan caranya berjalan, ia memukul kepala orang-orang dengan pentol tongkatnya.
Di Rumah Sakit Militer Surabaya, dini hari 17 Agustus 1894, setelah terserang disentri beberapa lama, ia mengembuskan napasnya yang terakhir. Sekitar seratus surat dan ribuan catatannya tergeletak di sebuah rumah bambu di Singaraja. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Kristen Peneleh, Surabaya.
Semoga tidak semakin banyak pahlawan Indonesia yang terlupakan dan mati dalam sepi, SEMOGA. Oleh: Aditya Ardian

Tinggalkan Balasan

Contact Us