LPMMISSI.COM

Mendur Bersaudara, Penyelamat Bukti Autentik Kemerdekaan Indonesia



Jumat pagi 72 tahun lalu, dua orang fotografer surat kabar mendapat kabar bahwa di Jl Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat akan dikumandangkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Naluri jurnalis dan fotografer yang telah lama melekat, kemudian melahirkan inisiatif agar mereka segera menuju ke lokasi untuk mengabadikan momen yang sekian lama dinanti-nantikan bangsa Indonesia yakni merdeka dari kuasa penjajah.


Dua orang itu diberi julukan sebagai Mendur Bersaudara. Frans Sumarto Mendur dan Alexius Impurung Mendur merupakan kakak beradik, Alex lahir pada 1907, sementara adiknya Frans lahir tahun 1913. Mereka adalah putera daerah Sulawesi Utara. Keduanya sama-sama berprofesi sebagai jurnalis fotografi. Frans bekerja untuk harian Asia Raya, sedangkan Alex yang lebih dulu berkarier sebagai fotografer, saat itu bekerja di kantor berita Domei.

Saat upacara kemerdekaan berlangsung di kediaman Soekarno, hanya Mendur Bersaudara juru foto yang hadir memotret peristiwa tersebut. Andaikata Frans dan Alex Mendur tidak hadir dan melibatkan diri untuk mengabadikan momen proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, kemungkinan bangsa Indonesia hingga detik ini hanya mampu membayangkan bagaimana peristiwa bersejarah itu berjalan. Bahkan bisa saja lahir keraguan dari masyarakat bahwa Indonesia pernah benar-benar memproklamasikan kemerdekaan.

Selalu ada tokoh-tokoh penting (pahlawan) di balik kemerdekaan Indonesia yang karena jasa keberanian dan pengorbanannya telah membantu Indonesia meraih kemerdekaan. Fotografer senior sekaligus kurator Galeri Foto Antara, Oscar Motuloh dalam kutipan wawancaranya di BBC News berpendapat Mendur Bersaudara layak menyandang gelar pahlawan karena jasanya menyelematkan keberadaan Indonesia melalui karya visual berupa foto. Sebab foto bisa menjadi bukti autentik sejarah. Jika diibaratkan, lembaran-lembaran foto layaknya saksi bisu yang mampu merekam perjalanan hidup.

Selepas upacara, Mendur Bersaudara segera meninggalkan lokasi untuk menyelamatkan kamera yang berisi foto bukti peristiwa proklamasi dari kejaran tentara Jepang. Mengingat saat itu Jepang belum benar-benar menerima kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun sayang, dalam perjalan penyelamatan itu, Alex Mendur akhirnya tertangkap dan kamera seisinya disita oleh pihak Jepang. Beruntung sang adik, Frans Mendur mampu menyelematkan diri dan bersembunyi di kantor berita Asia Raya. Kemudian ia segera mengambil langkah mengubur negatif film di halaman belakang kantor tempatnya bekerja.

Meski dibayang-bayangi ancaman Jepang, visualisasi peristiwa proklamasi yang diabadikan dalam bentuk foto oleh Mendur Bersaudara berhasil dicetak dan terbit pertama kali di Harian Merdeka pada Februari 1946. Dilansir dari kompas.com, dari usahanya Frans berhasil mengabadikan tiga foto. Pertama, foto yang menggambarkan Soekarno sedang membaca teks proklamasi. Kedua, foto ketika bendera merah putih sedang dikibarkan oleh Latief Hendraningrat (pengerek), Suhud Sastro Kusumo (pembentang), dan SK Trimurti (pembawa baki). Ketiga, foto suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.

Atas berkat jasa Mendur Bersaudara, pada 9 November 2009, pemerintah menganugerahi penghargaan Bintang Jasa Utama kepada Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur. Dan untuk mengenang pengorbanan keduanya, keluarga Mendur membangun Tugu Pers Mendur di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, sebuah monumen berupa patung Alex dan Frans serta bangunan rumah adat Minahasa berbentuk panggung berbahan kayu. (Korie Khoriah)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact Us

Gulir ke Atas