Tiga Potong Roti Dalam Satu Rumah

Related image

Setelah usai Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar oleh crew magang 2016 selama dua hari berturut-turut. Usai pula kekhawatiran dan ketakutan andai kata ada yang kurang minum selama acara dijalankan.

Lelah, resah, marah, gundah dan perasaan bersalah bercampur bersama peluh yang belum sempat terbasuh pada tengah malam saat tulisan ini tertuang. Entah karena celotehan, angan, ingin, atau angin. Neuron otak memberontak meminta tangan dan otak untuk bekerja.

Sejujurnya, ada beberapa tugas kuliah namun sudah diawali oleh kata “ah” sebelum menjamah, diantaranya meminta digambar, ditulis, dianalisis, dan dikritik. Namun lebih dari itu, ini adalah tentang kegundahan yang nyatanya menjadi momok menakutkan untuk beberapa hari kedepan, yang membuat saya (Baca: Peresah) akan terbiasa dengan tidur terlalu malam dan bangun terlalu larut.

Kutegaskan ini bukan kegundahan tentang Orang Hutan yang sering berkeliaran di dalam lubuk rimba terdalam, bukan juga tentang persahabatan yang masih saja berpersepsi saling gengsi, apalagi tentang kisah tiga potong roti dalam satu rumah. Percayalah, ini semua bukan itu.

Pada sela-sela acara, seperti biasa peresah hanya menjadi pengamat dan perekam cahaya. Satu persatu waktu dan ruang terselesaikan. Sampai pada sebuah pembahasan intim yang katanya untuk menjadikan kakak berjiwa tahan banting. Ada isak, ketika pembahasan sampai pada kekurangan dan maaf, ada emosi tersembunyi ketika lelah dan semua masih meresah untuk lekas dibereskan.

Sebelumnya, ketika makan di warung pinggir jalan, ada pembicarakan kecil dari tikus-tikus yang baru lahir. Sekiranya begini, bagaimana kalau tuan dan puan sudah tiada, masih kah kita punya pegangan untuk berjalan ? Setelahnya, mengenai curhatan adik-adik yang hendak menetas berbicara tentang angan dan ingin untuk menjadi. Di situ adik butuh kakak untuk memberitahu jalan mana yang akan mengantarkannya menjadi. Sebelum itu coba renungkan tentang ini :

Sudah Siapkah Kakak Menjadi Panutan?

Sudah siapkah Kak, menunjukkan jalan ? Bagaimana bisa kakak yang baru merangkak sudah harus menjadi panutan, penunjuk jalan, dan pen titah adik yang sedang belajar berjalan. Kakak resah, sebab ini tak seperti tukang ojol yang bisa terjalan dengan aplikasi penujuk arah. Kakak gundah, karna jam terbang sebenarnya masih dipakai untuk take off. Ini bukan ke tawadu’an seorang santri, atau seorang pembaca yang akan selalu haus akan perasaan kurang ‘pengetahuan’. Sebuah ketegasan karna peresah tidak suka bertele-tele apalagi bermajas ria.

Sebab, kakak masih saja belum paham mengenai loyalitas tanpa batas, dan belum bisa untuk merasakan sebungkus es teh untuk bersama agar dahaga lekas terbayar meski dengan setetes pelepasnya. Kakak masih kah mau begini saja ? Adik akan lekas menjadi pemanut, dan kakak adalah panutan.

Kakak lekaslah bangun, bentangkan sayapmu selebar-lebarnya. Bawa adik kelak tidak menertawakan atau bahkan kasihan dengan sempit dan peliknya urusan kakak yang masih mengenai hal yang sama. Kakak, masihkah kita harus membentangkan serambi untuk membatasi sebuah perkara ? Kakak, apabila kamu membaca ini dan merasakan keresahan yang sama dengan peresah, lalu bagaimana semsestinya keterlambatan ini menjadi waktu yang pas ?

Kakak, maafkan yang dengan lancangnya menuliskan sebuah keresahan dan tentang sebungkus es teh dengan sedotan yang selalu dibalik. Maka, biarkan neuron otak memaksa tangan untuk menuliskan, lalu kemudian dinilai oleh perspektif liar. Sebab, peresah takut menjadi kakak, karna resah dan gundah yang diatas sudah dituliskan pula mengenai zona nyaman peresah sebagai (calon) kakak yang masih juga enggan dijauhkan.

Penulis : Hijriyati Nur Afni

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: