LPMMISSI.COM

Tidak Ada Pohon, Tidak Ada Buku

Foto: Lpmmissi.com/ Wallpaperbetter.com

Pernah tidak kita berpikir, buku yang kita beli, lantas dibuka segelnya lalu dibaca oleh kita. Proses pembuatannya membutuhkan bahan apa saja, sebelum berwujud buku sempurna seperti saat ini?

Ya benar, buku adalah kumpulan kertas yang dijilid menjadi satu. Terbuat dari bahan baku serat kayu yang disebut (selulosa) dan berasal dari pohon yang berumur tua. 

Keberadaan buku zaman dulu hingga sekarang menjadi tombak kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan di suatu negara. Memberangus buku sama saja menghapus ingatan, ilmu pengetahuan, dan memutus rantai sejarah.

Seperti tragedi pembakaran buku-buku karya Aristoteles, ia dituduh murtad oleh para pendeta, perpustakaan Alexandria yang mengalami penghancuran akibat berbagai perang. Akibatnya air Sungai Tigris menghitam dan memerah, disebabkan banyak sekali buku dari perpustakaan Agung Baghdad yang dibuang. Para ilmuwan dan filsuf pun banyak yang terbunuh disana.

Baca juga: Awan Semar Merapi dan Harapan Wabah Berakhir

 Hal diatas merupakan beberapa peristiwa pelik, yang mengharukan dalam sejarah seputar penghancuran buku. Perlu diketahui sekarang ini, jutaan buku telah diproduksi dengan beragam genre yang digandrungi oleh pembaca dari berbagai belahan dunia. Walaupun di Indonesia masih menerapkan sistem pelarangan penjualan buku yang mengandung unsur palu arit.

Namun kondisi miris yang terjadi di bumi saat ini memprihatinkan. Sebab ketersediaan serat kayu pohon semakin berkurang, hutan di belahan bumi mulai dieksploitasi keberadaannya. Puluhan eksemplar buku dari karya penulis tersohor mulai digemari, alhasil permintaan kertas terus meningkat dan hutan dituntut untuk terus memproduksi kayu, yang nantinya akan diolah menjadi kertas.

Buku Harry Potter karya J.K Rowling telah dicetak lebih dari 500 juta eksemplar dan terjual di seluruh dunia. Padahal kita tahu, satu batang pohon berusia lima tahun hanya bisa memproduksi 500 lembar kertas saja. Padahal proses pembuatan kertas yang berkualitas terbilang sangat sulit. 

Sebab proses pembuatan kertas mula-mula kayu diolah menjadi pulp (bubur kertas), itupun hasil yang dapat dijadikan kertas hanya 50% dari bahan karena sisanya merupakan bagian pohon yang kurang bagus untuk dijadikan kertas. 

Baca juga: Kemunduran Adab Kartini Zaman Now

Dampak lainya, produksi limbah yang terus bertambah akibat produksi kertas yang memerlukan  zat  kimia padat, cair, dan gas yang dibuang sembarangan juga dapat membahayakan lingkungan.

Pohon di hutan merupakan penghasil oksigen terbesar yang bermanfaat untuk manusia. Oleh karenanya dapat berguna bagi proses keberlangsungan mahluk hidup.  Dalam tubuh  manusia mengandung 60-70% air, sedangkan pohon merupakan penyaring produksi air bersih, yang digunakan untuk keperluan hidup seluruh manusia di belahan bumi.

Pada hari buku sedunia yang sudah terlewat beberapa hari ini perlu kita refleksikan dan renungkan bersama. Mari kita berfikir, merenung, dan mengheningkan cipta sejenak. Sudah berapa banyak permintaan dan kebutuhan kertas di belahan bumi ini? Seperti contoh pada dunia pendidikan kita saat ini. Sudah berapa banyak penyusunan skripsi yang telah selesai dan terpajang rapih di dinding-dinding perpustakaan.

Baca juga: Rawat Bumi, di Tengah Pandemi

Tepat sehari sebelumnya kita memperingati hari bumi, sungguh sangat sempurna, apabila kita merenungkan bentuk keasrian alam,  kelestarian tanah, kebersihan air, dan udara bumi yang digunakan untuk mencukupi kepentingan dan kebutuhan manusia.

Sudah sewajarnya, manusia dan alam saling bersahabat, tanpa perlu merusak. Memanfaatkan sedikit alam, tanpa harus mengeksploitasi. Sebab, alam akan murka, jika tamak dalam hati manusia terus melanda jiwa.

Oleh: Fikri Thoharudin

Tinggalkan Balasan

Contact Us

Gulir ke Atas
%d blogger menyukai ini: