Taman Revolusi

Taman Revolusi

LPMMISSI.COM – Bahkan sebelum Imam Taufik menjadi rektor ataupun aku Saiful Ardi menjadi mahasiswa di kampus hijau Sudah begitu banyak terbilang tahunnya, Taman Revolusi ini berdiri. Dulu, dari kisah-kisah yang dapat kau kulik dari mana saja. Dulunya Taman ini adalah panggung bagi para revolusioner kampus.

Yaitu mereka yang kerap melakukan aksi protes. Merekalah mahasiswa yang sering menggelar tikar untuk berdiskusi berbekal buku-buku Mikhail Bakunin hingga Tan Malaka yang menyesatkan menurutku. mereka adalah para seniman kampus yang tak punya tempat tinggal kecuali bilik UKM yang kumuh, mereka adalah jurnalis-jurnalis kampus yang hilir mudik mencari hantu-hantu untuk dimintai keterangan. Begitulah aku sering menyebut mereka yang naik ke podium dan meneriakkan sajak-sajak pembangkangan.

Suatu ketika, taman yang memiliki lapangan luas yang biasanya digunakan untuk melakukan aksi protes itu terpaksa dibongkar.

Dibangunlah tempat-tempat duduk memanjang yang berjejer diatas lapangan. Tak hanya itu, beberapa pohon pun di tanam agar taman yang entah bagaimana kemudian hari disingkat menjadi “Taman Revo” itu menjadi rindang. Dibawah tempat duduknya, juga di pasang colokan listrik sehingga membuat mahasiswa betah untuk berlama-lama disana.

Baca juga : Sebuah Seni Memahami Perempuan, Bingkai Patriarki dalam Sosio-Ekologis

Tentu, aku tak bisa bercerita lebih banyak mengenai taman itu. Karena di depanku Ibu sedang mengusap air matanya yang jatuh dan mengalir ke pipinya yang cekung dan lusuh.

“Sudahlah lah buk, lagipula Ipul kan sudah mendapat ilmunya yang cukup banyak dari kampus hijau ini”. Ucapku, pelan. Berharap menghibur hatinya yang rapuh. Sayangnya, jangankan berhenti. Ibuku makin merengek.

Untungnya, tak ada yang mendengar suara tangis itu. Taman Revolusi sepertinya sudah tak lagi menjalankan revolusi apapun. Tidak sekalipun ada yang dapat dikatakan manusia kecuali kami berdua. Di jalan depan taman ini memang kadang ada saja kendaraan lalu lalang. Entah itu mobil pejabat kampus ataupun mahasiswa yang barangkali sibuk mengurus keperluan akademiknya.

Sebenarnya, taman Revolusi ini cukup banyak peminatnya. Apalagi ketika jam-jam pergantian kuliah seperti sekarang. Beberapa mahasiswa akan berbondong-bondong mencari tempat duduk. Membawa buku perkuliahan dan laptop. Tak ada lagi kulihat mahasiswa yang menggelar panggung untuk berdiskusi. Agaknya, mereka termarjinalkan oleh mahasiswa ekslusif yang mengejar IPK. Atau barangkali idealisme mereka tidak akan pernah bisa menyatu dengan mahasiswa yang nantinya memiliki masa depan cerah.

Jika ditanya, aku termasuk bagian mahasiswa aktivis atau akademis. Jawabannya adalah akademis. Meski banyak juga yang mencari aman dengan mengatakan bahwa untuk menjadi aktivis kamu harus akademis, begitu pun sebaliknya, sama saja. Tapi bagiku dua hal ini jelas berbeda. Tergantung apa tujuanmu untuk berkuliah. Apakah ingin menjadi pahlawan kesiangan yang membangkang atau pahlawan yang membanggakan orang tua.

“Ipuuuuul” tangis ibuku makin menjadi-jadi, tanpa kukira-kira. Air matanya kini merembes bak air hujan, hidungnya mengeluarkan dahak yang terlihat sebagai lelehan susu kaleng. Dengan nada tinggi, aku pun mencoba memberi pengertian kepada ibu.

Baca juga : Manusia Dalam Sebuah Simulasi

“Sudahlah Bu, tak usah menangis begitu. Ini memang nasibku Bu. Ada banyak orang yang terkendala biaya kuliah seperti kita. Apalagi di masa pandemi yang serba susah begini. Nyari makan saja susah, bagaimana mau mikirin uang kuliah”

“Bu, ibu jangan menangis” pintaku. Ibu kemudian memandangku dengan mata yang merah, lalu menangis lagi.

Sialan! Umpatku dengan frustasi. Aku menatap sekitar taman Revolusi yang damai. Tak ada mahasiswa seperti biasanya, semua ini karena virus Corona yang menyebabkan kuliah dilakukan di rumah, secara online. Sebenarnya tak masalah jika hanya itu. Aku benci jika ternyata Corona juga lah yang menjadi sebab aku mangkir kuliah. Gara-gara tak bisa membayar uang semesteran yang mahalnya luar biasa.

Entah mengapa, aku jadi merindukan sosok aktivis kampus yang benar-benar mewakili aspirasi mahasiswa, terlebih mahasiswa kere sepertiku. Bukan mereka yang katanya ingin berjuang membela tapi sebenarnya cuma cari panggung, menikmati euforia ala-ala mahasiswa.

Beberapa dari mereka memang masih ada yang sibuk berdiskusi, seolah hal tersebut benar akan membawa perubahan. Tapi sesungguhnya, tidak begitu berarti bukan? Bukankah Saiful Ardi yang kuliah lewat jalur warisan sawah dan kebun milik almarhum kakek ini terancam gagal kuliah? Bukankah beberapa mahasiswa diluar sana masih saja tunggang langgang mencari uang karena diskon keringanan UKT 15% itu tidak banyak berguna?

Lagi-lagi ibuku menangis, meski tangisnya agak mulai reda dari yang tadi-tadi.

“Jangan menangis Bu. Kan seharusnya Ipul yang nangis, bukan ibu” ucapku.

Ibu mengangguk, mengiyakan perkataanku kali ini.

“Lagipula, di rumah kan Ipul bisa bantu ibu mengurus kebun. Atau bantu-bantu Ayuk Marni jualan kapal selam. Kan ibu juga yang dulu minta supaya Ipul gak usah kuliah, karena gak pede anak petani bisa jadi sarjana. Nah, sekarang doa ibu sudah terkabul. Kan?”

“Ayuk Marni yang diam-diam mengeluh karena harus membantu bayar UKT yang mahal itu pasti juga senang kalau Ipul gak kuliah” batinku. Teringat dengan ayukku yang jualan pempek di batuuraja sana, terkadang ia juga menyisihkan uang untuk membantu membayar uang kuliah. Sayangnya, lagi-lagi sebab Corona itu, warung pempek Ayuk Marni terancam akan menyongsong kebangkrutan karena sepi pembeli.

Baca juga : Alina Tidak Akan Pulang

Ibu yang sedari tadi membungkuk tanpa mau melihatku.
mengangkat kepalanya. Seakan sedang bertanya kepadaku.

Sesungguhnya, aku hanya terkendala bilangan uang semesteran yang cukup tinggi bahkan setelah dipotong 15 persen sekalipun. Lagipula, berapa lah banyaknya penghasilan petani karet yang harganya perkilo jauh lebih murah dibanding sebungkus rokok.

Untuk makan sehari-hari aku bisa mengusahakannya dengan bekerja menjaga angkringan pada malam hari. Sedang siangnya aku bertugas menjadi marbot di sebuah masjid yang tak jauh dari kampus. Tentu, ada banyak sekali yang memberi komentar. Bukannya ada beasiswa? Bukannya bisa minta bantuan ke orang lain? Minjam duit? Gadaikan tanah? Tapi hidup tak semudah itu bukan. Jika tidak benar-benar mau membantu. Tidak usahlah banyak berkomentar!

Aku kemudian teringat kata-kata yang kubaca di media sosial. Kata-kata yang mungkin bisa meredakan tangis ibu yang tak berhenti-hentinya itu. “dengar Bu, aku memutuskan berhenti kuliah aja. Aku yakin ibuku sayang, aku akan sukses. Karena kenyataannya ada banyak orang yang putus kuliah tapi berhasil dalam hidupnya” kataku berdeklamasi. Memotong kalimat yang juga mengatakan “memang banyak yang berhasil tapi juga lebih banyak yang gagal.

Ibu perlahan berhenti sesenggukan, bahunya yang tadi naik turun kini mulai kembali seperti semula. Agaknya tamat sudah perang yang lebih dahsyat dibanding perang Mahabharata dihatinya itu. Ibu kini tajam menatapku, sepertinya ia setuju atau barangkali terhipnotis dengan kataku barusan.

“Se-sebenarnya ibu…” Ibu akhirnya membuka suara, sambil mengusap air mata yang masih menggantung di kelopak matanya.

“Ibu itu…”

“Iya Bu, ibu setuju kan dengan keputusan Ipul?” Tanyaku tak sabaran. Taman ini sudah mulai dibakar oleh cahaya matahari. Aku harus segera pergi ke mushola dan menggemakan adzan Dzuhur.

“Se-sebenarnya ibu video call kamu mau curhat soal Kiki yang dimakan sama kucing tetangga,nak… Bukanya mau ngomongin kuliah kamu”

Ha? Kiki? Ikan cupang Kampret!

Oleh: Ihsanul Fikri

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: