Krisis Mahasiswa Kritis


Mahasiswa merupakan masa peralihan dari masa remaja menuju dewasa, dari siswa kemudian mendapat imbuhan maha, satu jenjang lebih tinggi untuk pantas lepas dengan sebutan anak mama. Masa di mana otak mulai memikirkan hal-hal kompleks, bukan lagi selesai kuliah pulang. Lebih dari itu yang mahasiswa pikirkan adalah bagaimana caranya hidup dan menata kehidupan. 

Selangkah lebih tinggi dari siswa, mahasiswa akan mengalami perubahan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Hidup jauh dari orang tua, mengatur keuangan dan teman sesuai pilihan, menemukan merek baju andalan, sampai memilih menjadi orang kanan, kiri atau tengah.

Pilihan-pilihan yang akan ditemui dari gerbang kampus sampai masuk kelas, bahkan di angkringan-angkringan sekitar kosan.

Baca juga: Masih Mau Kuliah dan Jadi Sarjana?

Peluang menjadi orang baik atau jahat sangat besar, ketika memasuki masa ini, celah-celah melakukan kesalahan dan kejahatan sangat terbuka lebar. Belum lagi kesalahan mahasiswa yang kadang terlalu polos, menerima semua informasi sekaligus tanpa dicerna dan dipilah. Mereka yang baru masuk dijejali doktrin, yang justru menjerumuskannya dalam kesalahan yang berkelanjutan.

Mahasiswa baru ditarik-tarik mengikuti sebuah organisasi atau mengikuti suatu paham, bukan ditarik paksa, namun ditarik dengan kesenangan mereka. Dengan bekal masa SMA yang tidak mengetahui banyak tentang dunia luar, manajemen diri masih berantakan.

Mahasiswa baru akan lebih muda mengikuti apa yang menurut mereka benar. Tidak dibuktikan dan diputuskan benar atau salah dengan pengetahuan. Tapi dengan perspektif masing-masing. Terseok-seok dan tersesat dalam doktrin banyak orang, dijajah paradigma kampus yang sudah menjadi darah daging dan dijejalkan kepada mereka. Kesalahan yang terus menerus disebarkan, tak terbongkar kebenarannya.

Memang benar, Indonesia pernah memiliki pemuda yang berkualitas, kritis dan berani, para aktivis mahasiswa yang berada pada garis terdepan pemberontakan mahasiswa 1998 silam yang menduduki gedung DPR. 

Berbeda jauh dan berbanding dengan keadaan mahasiswa sekarang. kritis dan bungkam, kritis dan minoritas, kritis dan semakin tak terlihat. Sama halnya dengan masalah di kampus tercinta ini. Kebanyakan mahasiswa menjadi budak dari keadaan zaman. Mahasiswa semakin apatis jangankan terhadap permasalahan nasional bahkan isu yang sedang hangat dan perlu dikritisi di kampus. 

Kuliah untuk mencari kesenangan, terbawa paham ke kampus dengan make-up berlebihan, dan masih banyak lagi. Bahkan mengikuti organisasi di luar kampus, tidak paham betul mengenai organisasi dan didalamnya, asalkan ikut saja, dan ikut menyebarkan ketidakbenaran yang semakin tersebar luas.

Sikap kritis mahasiswa yang semakin terkikis, lama-lama akan habi, dan doktrin ketidakbenaran akan terus tumbuh. Masihkah kita belum sadar? Masih maukah ke kampus hanya bermodal bedak, bukan isi otak?

Oleh: Hijriyati Nur Afni

One thought on “Krisis Mahasiswa Kritis

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: