spot_img
HomeBeritaGema Takbir di Bumi Seribu Pura

Gema Takbir di Bumi Seribu Pura

foto: doc lpmmissi.com

SEMARANG, LPMMISSI.COM — Pukul enam pagi, ketika hawa dingin masih begitu menusuk tulang, lantunan gema takbir perayaan Idul Adha terdengar dari toa menara masjid Al-Falah, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Minggu (10/7)

 

Menara kubah bercat putih hijau setinggi 20 meter itu tak memiliki pesaing suara. Sama seperti daerah Provinsi Bali yang lain, mayoritas masyarakat Pancasari pemeluk agama Hindu. Sedangkan masjid inilah yang menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi sekitar 120 kartu keluarga beragama Islam.

 

Riuh takbir semakin terdengar dari jemaah salat Idul Adha yang mulai memadati masjid hingga ke pelataran.

 

Sedangkan di tepi jalan, tampak TNI serta gabungan Banser dan Anshor membantu menjaga ketertiban, menyeberangkan jemaah dan mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan.

 

Salat Idul Adha dimulai pukul 07.15 WITA, dengan bilal yang dipimpin oleh Andi Yusuf dan Wayan Abdullah sebagai imamnya. Suasana selama salat berlangsung khidmat, hingga selesai disampaikannya khotbah oleh Rosihan Anwar.

 

Seperti tradisi pada umumnya, setelah berlangsungnya salat disambung dengan bersalam-salaman. Sembari melafalkan selawat dan berjabat tangan antar jamaah.

 

Ramah tamah disertai sarapan yang telah disiapkan oleh ibu-ibu setempat, terlihat begitu bergairah. Jemaah tampak saling bertukar bahasan. Apalagi ketika kopi, teh dan makanan cuci mulut dikeluarkan. Mendadak kemelut asap vape dan rokok menjadi penghangat sosial.

 

Setelah hampir satu jam acara ramah tamah, interaksi terjadi begitu cepat dan tergesa-gesa. Acara kemudian berlanjut dengan pemotongan hewan kurban. Terhitung ada satu ekor sapi dan dua belas kambing, yang terkumpul di masjid yang tak terlalu besar ini.

 

Proses pemotongan sapi pun berlangsung harmonis. Meskipun bagi umat agama Hindu sapi termasuk hewan yang dianggap suci, pelaksanaan tetap dilakukan dengan penuh toleransi.

 

Panitia Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) setempat turut membagikan daging hewan kurban kambing kepada pemeluk agama Hindu.

 

Meskipun tersusun atas masyarakat yang begitu heterogen, baik dari suku maupun agama, akan tetapi kehidupan sehari-hari berjalan begitu rukun. Hampir tak pernah terjadi gesekan sosial, semua saling menghormati dan menghargai antar umat beragama.

 

Aglis Djito Sukmono, salah satu sesepuh Muslim di bumi Pancasari yang sudah berumur 72 tahun, mengungkapkan bahwa desa ini merupakan salah satu cerminan miniatur dari Indonesia.

 

“Di sini ada banyak pendatang dengan budayanya. Ada Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Madura, Lombok, Nusa Tenggara, Jawa dan lainnya. Semua hidup aman dari dulu,” ungkapnya.

 

Ia menambahkan, bahwa nilai-nilai Pancasila juga sudah sejak lama menjadi laku moral masyarakat setempat. Sayangnya hal tersebut menjadi keseharian yang tak banyak disadari.

 

“Di sini kita saling bertransaksi. Ketika jual beli sesuatu tidak pernah mempermasalahkan siapa orang yang berdagang. Ketika ada yang butuh bantuan, juga tidak mempertimbangkan dulu ia beragama apa baru kita menolong,” imbuhnya.

 

Bagi warga Pancasari, kekayaan sumber daya alam dan objek wisatanya seakan menjelma sebagai cuaca dingin yang menyelimuti kehidupan sehari-hari dan menciptakan keharmonisan masyarakat.

 

Reporter : Fikri Thoharudin
Editor : Oktaviani Elly M

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

PALING BARU

PALING POPULER