LPMMISSI.COM

Awan Semar Merapi dan Harapan Wabah Berakhir

Foto: lpmmissi.com/ suaramerdekasolo.com 

Awan mendung terus menyelimuti Indonesia. Bagaimana tidak, belum berakhirnya virus corona, pada akhir maret lalu Gunung Merapi meletus tiga kali dalam waktu tak kurang dari satu hari. Salah satu letusannya membuat heboh masyarakat sekitar hingga jagat media sosial.

Letusan Gunung Merapi pada 28 Maret lalu, tampak ada hal yang aneh. Terlihat gumpalan awan membentuk wajah yang mirip Eyang Semar. Konon mitos yang berkembang di masyarakat Jawa ini, ketika Merapi meletus dan letusannya menyerupai wajah Eyang Semar, orang-orang daerah Mataram mempercayai sebagai pertanda jika terdapat wabah atau pagebluk penyakit maka akan segera berakhir.
Seperti kita ketahui saat ini, virus corona sudah berbulan-bulan menjadi wabah yang menakutkan. Kasus yang terjangkit pun tiap hari terus meningkat. Memang terdengar aneh, ketika dikaitkan dengan mitos tersebut. Tapi apakah benar wabah virus corona akan berakhir dengan pertanda ini? 
Gunung Merapi memang memiliki keeratan bagi masyarakat di sekitarnya. Keyakinan lokal melukiskan Merapi bukan hanya tumpukan tanah yang didalamnya terdapat magma yang sewaktu-waktu bisa meletus. Merapi bak seorang tokoh gaib sakti yang sangat disegani dan dihormati. 
Keraton Yogyakarta pun menjadikan ujung utara sumbu garis imajiner dalam pembangunan keraton. Gunung dalam garis imajiner diartikan sebagai lambang hubungan dengan Sang Khalik.
Sedangkan Eyang Semar dikisahkan dalam pewayangan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria. Semar digambarkan sebagai sosok bijaksana dalam situasi dan kondisi apapun. Dengan kebijaksanaannya itu letusan Gunung Merapi mungkin ingin menyampaikan petuah Eyang Semar dalam situasi saat ini.
Semar yang terlahir dari konsep asli Jawa adalah gambaran yang sudah dipertunjukkan dalam permainan untuk mengungkapkan religius, sekaligus mitos kelokalan sebagai inti dari keluhuran budi pekerti, pengabdian tulus, guru tanpa memaksa, serta pemberi semangat dan kekuatan.
Semar sebagai simbol ketentraman dan keselamatan hidup serta simbol masyarakat Jawa. Dalam kitab Jangka Jayabaya, Semar digunakan untuk menunjuk penasihat raja-raja Jawa. Semar merupakan sosok yang sangat misterius, antara nyata dan tidak nyata. Tetapi jika melihat tanda-tandanya orang yang menyangkal akan menjadi ragu.
Nama Semar sendiri berasal dari bahasa Arab, ismar yang artinya paku. Kata tersebut menjadi semar karena pengucapan lidah Jawa dari suku kata is dalam pengucapan Jawa biasanya berubah menjadi se. Dengan nama yang berarti paku, fungsinya sebagai pengokoh yang goyah.

Semar juga dijuluki Badranaya. Badra adalah rembulan, sedangkan naya adalah wajah atau nayantaka. Naya adalah wajah. dan taka berarti pucat. Keduanya berarti menyimbolkan bahwa Semar memiliki watak rembulan dan seorang figur yang memiliki wajah pucat. Artinya, Semar tidak mengumbar hawa nafsu.
Jika dilihat dari bagaimana bentuk wayang Semar yang bulat, Semar melambangkan tekad bulat untuk mengabdi pada kebaikan dan kebenaran. Jari tangan kirinya yang selalu menunjuk memiliki arti selalu memberi petunjuk yang benar. Sedangkan tangan kanannya yang menggenggam mengartikan yang baik itu bersifat subjektif. Lalu mata Semar yang setengah tertutup dan melihat ke atas menggambarkan Semar yang idealis.
Dalam falsafah Jawa, Semar menduduki tempat yang sangat terhormat. Dalam filosofis Jawa, Semar  bukan lelaki, perempuan dan juga bukan banci. Ia melambangkan kebenaran yang hakiki. Dengan demikian, ia merupakan jaminan kemenangan serta kemenangan.
Seorang pelukis Ki Djoko Sutedjo, ia meyakini munculnya penampakan yang menyerupai Eyang Semar ada harapan pertanda wabah Virus Corona di bumi Nusantara akan segera lenyap. 
Coba kita ingat sebelum virus Corona menyebar, rasanya dimana-mana udara panas dan tak terlihat cerah. Kini adanya corona, langit terlihat lebih biru dan segar. Hal itu sebenarnya menjadi pertanda bahwa alam perlu dijaga dan dirawat. Toh kita yang akan mendapatkan manfaatnya. 

Begitupula Gunung Merapi dengan erupsi dan hujan abu di beberapa daerah dan sekitarnya. Seakan ini mengingatkan untuk tidak keluar rumah sebab abu vulkanik bisa menggangu pernafasan.
Lagi pula salah satu cara memutus penyebaran virus corona ialah dengan mengurangi aktifitas di luar rumah. Kalau pun harus keluar rumah, kita harus menggunakan masker karena bencana ini.
Memang percaya atau tidak akan kebenarannya mitos tersebut. Tentu kita berharap pada Tuhan agar wabah virus corona ini segera berakhir dan manusia bisa menjalani kehidupannya sehari-hari.

Oleh: Muhammad Irfan Habibi

Tinggalkan Balasan

Contact Us

Gulir ke Atas
%d blogger menyukai ini: