SEMARANG, LPMMISSI.COM – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah (Jateng) melalui Komisioner Bidang Perizinan, Setiawan Hendra Kelana mengatakan, media informasi menjadi alat untuk penguasa negara.
Menurut Setiawan, para pimpinan media mempunyai syahwat yang tinggi, sehingga dengan media mereka dapat mengendalikan negara melalui informasi.
“Frekuensi media itu milik publik, harus dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, bukan mengklaim salah satu partai,” tuturnya saat mengisi acara Seminar Nasional Literasi Media jilid II di Auditorium 2 Kampus III UIN Walisongo, Selasa (16/4).
Baca Juga : Proses Pemilihan Rektor UIN Walisongo, Tuai Protes dari Mahasiswa
Setiawan mengibaratkan, frekuensi media itu seperti orang yang hobi menonton tayangan sepak bola di youtube. Apabila orang tersebut melihat informasi di media sosial lainnya, maka terdapat iklan sepak bola karena sesuai apa yang sering dia akses.
“Media akan lebih mudah menarik perhatian publik dan melihat kebutuhan yang sesuai dengan yang disukai,” ujar Setiawan.
Acara bertajuk “Political Branding Media” itu diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo tersebut, juga menghadirkan Kepala Seleksi Opini Publik Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) Jateng, Dicky Adinurwanto dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen Semarang, Edi Faisol.
Dalam kesempatan itu, Dicky Adinurwanto menerangkan bahwa media sangat mudah dibuat oleh semua orang. Bahkan, siapa saja bisa menjadi wartawan tanpa memiliki pengetahuan jurnalistik.
Baca Juga : Asap TPS Bikin Latihan PSHT Terganggu
Dicky menjelaskan, media bisa diciptakan layaknya home industri. Mengingat Indonesia sebagai negara pengguna media sosial terbanyak memudahkan orang menjadi wartawan abal-abal.
Sementara Edi Faisol, berpesan kepada peserta seminar untuk berpikir bebas dalam bermedia sosial. menurut Edi, dalam bermedia jangan terlalu berpikir linier.
“Cobalah berpikir bebas dalam menanggapi media sosial,” katanya.
Reporter : Siti Husnul & Sekarwati
Editor : Aditia Ardian