SEMARANG, LPM MISSI.COM—Nurina Zain, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, berhasil meraih predikat wisudawan terbaik FDK sekaligus terbaik Prodi BPI dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92, Sabtu (22/8).
Di balik pencapaian tersebut, Nurina sempat berhenti mengerjakan skripsi selama dua bulan.
Saat mengetahui dirinya menjadi wisudawan terbaik, Nurina mengaku tidak percaya. Bahkan, ia sempat mengabaikan pengumuman tersebut.
“Saya merasa enggak percaya. Sudah dua hari pengumuman wisudawan terbaik saya abaikan karena takut itu kesalahan teknis,” ungkapnya.
Nurina menyelesaikan skripsi berjudul “Implikasi Bimbingan Agama Islam sebagai Upaya Mengatasi Kecemasan pada Jamaah Majelis Pengajian Difabel (MPD) Semarang.” Ketertarikannya terhadap topik tersebut berawal dari rasa penasaran mengenai bagaimana penyandang difabel menghadapi kecemasan. Ia kemudian mengetahui bahwa mereka sering mengikuti pengajian. Hal tersebut mendorong Nurina untuk meneliti peran bimbingan agama Islam dalam membantu mengatasi kecemasan.
Dalam pengerjaan skripsi, Nurina menyebut menjaga semangat dan konsistensi sebagai tantangan terbesar. Menurutnya, tugas akhir membuat mahasiswa harus mampu mengatur waktu secara mandiri karena tidak memiliki jadwal dan tenggat seperti tugas perkuliahan.
“Dalam pengerjaan tugas akhir ini enggak ada deadline atau jadwal, jadi benar-benar kita sendiri yang harus pandai dalam manajemen waktu dan menjaga semangat. Menjaga semangat itulah yang sulit,” jelasnya.
Baca juga: Meski Sambil Menjaga Ayahnya yang Sakit, Rima Berhasil Raih Predikat Wisudawan Terbaik KPI
Tantangan tersebut sempat membuat Nurina berhenti mengerjakan skripsi selama kurang lebih dua bulan. Saat itu, ia menghadapi persoalan keluarga karena ayahnya mengalami skizofrenia. Selama masa tersebut, Nurina mengaku tidak menulis maupun membuka laptop untuk mengerjakan skripsinya.
Meski sempat berhenti, Nurina akhirnya kembali melanjutkan pengerjaan skripsi hingga selesai. Selain menjalani perkuliahan, ia juga aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Korp Dakwah Islam (KORDAIS) dan Relawan Kesejahteraan Sosial (RKS).
Dalam membagi waktu, Nurina memprioritaskan kewajiban akademik terlebih dahulu. Setelah tugas perkuliahan selesai, barulah ia menggunakan waktu luang untuk mengikuti organisasi maupun kegiatan sosial.
“Dari awal saya memang niatnya kuliah, jadi saya lebih menekankan pada tugas-tugas dan hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan. Kalau semua praktik atau tugas kuliah sudah selesai, biasanya mengisi waktu dengan bergabung di organisasi ataupun lingkungan sosial,” tuturnya.
Beberapa tokoh publik seperti dr. Aisyah Dahlan, Fahruddin Faiz, Gita Savitri Devi, dan Gita Wirjawan sebagai tokoh yang turut memengaruhi pola pikirnya untuk terus belajar dan mengejar cita-cita. Sementara di lingkungan kampus, Dr. Ema Hidayanti, S.Sos.I., M.S.I. menjadi salah satu sosok yang memberikan pengaruh dalam perjalanan pendidikannya, terutama terkait pesan tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan.
Baca juga: Kolaborasi dengan Letsgowes, Kendal Last Friday Berhasil Ajak 300 Pesepeda
“Walaupun kita perempuan sering diremehkan di masyarakat, terutama di lingkup desa, jangan pernah berpikir seperti itu. Kejarlah cita-citamu. Jadilah manusia biasa yang giat belajar, bekerja, dan berikhtiar, karena kita bukan Rabi’ah al-Adawiyah,” ucap Nurina.
Setelah menyelesaikan kuliah, Nurina berharap dapat menemukan lingkungan baru untuk melanjutkan kehidupannya.
“Menurut saya, perkuliahan itu gerbang utama kita untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Jadi harapan saya setelah kuliah ini saya bisa menemukan dunia baru yang bisa membuat saya hidup dalam artian hidup utuh selayaknya manusia, bukan dikontrol uang ataupun dikontrol ekspektasi,” ujarnya.
Kepada mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir, Nurina berpesan agar tidak takut menghadapi proses bimbingan.
“Jangan pernah takut apapun yang ada di pikiran kamu, tulis. Apapun yang menurut kamu cocok, tulis aja dulu. Masalah benar atau salah nggak usah dipikirin. Yang penting kita bimbingan dan maju terus,” pesannya.
Penulis: Hani Pradita
Editor: Zuhrotun Nisa







