Home / Berita / Mengangkat Potret Getir Ketimpangan Sosial di Lapangan Golf, Harlah WTV Membedah Film ’38 – The Last Swing’

Mengangkat Potret Getir Ketimpangan Sosial di Lapangan Golf, Harlah WTV Membedah Film ’38 – The Last Swing’

Fajar Boby Saputra sutradara (kanan) dan Iwan Resdiyanto produser (kiri). ‎(foto: lpmmissi.com/ Iklila)

SEMARANG, LPMMISSI.COM — Memperingati puncak rangkaian Hari Lahir (Harlah), Walisongo TV (WTV) menyelenggarakan acara talkshow perfilman. Talkshow tersebut menghadirkan tim di balik layar film pendek peraih penghargaan ide cerita terbaik dalam ajang Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) 2025, yakni Fajar Boby Saputra sebagai sutradara sekaligus penulis dan Iwan Resdiyanto sebagai produser pada (29/10/2026).

Film yang berjudul “38 – The Last Swing” ini diangkat berdasarkan kedekatan cerita dengan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari. Uniknya, ide cerita ini lahir saat mereka sedang nongkrong di sebuah warung, di mana si pemilik warung menceritakan kisah keponakannya yang sedari kecil mencari dan mengumpulkan bola golf di daerah Candi Golf, Semarang.

Dari obrolan itu, tim produksi memutuskan untuk datang ke rumah si pemilik warung guna mengobrol langsung dengan anak tersebut.
“ide ini muncul di tempat nongkrong guncingan, nah penjualnya cerita tentang keponakan nya yang dari kecil kerjanya mencari golf di daerah candi golf. Dari situ kita memutuskan main ke rumah si Mbah penjual dan ngobrol dengan keponakan nya,” tutur Boby.

Baca juga: Founder @wisatasemarang Dorong Mahasiswa Manfaatkan Media Sosial untuk Branding Diri pada Seminar Taaruf

Film ini mengangkat cerita tentang ketimpangan sosial yang diperlihatkan melalui kemewahan lapangan golf. Berfokus pada Arum anak SD yang ingin mengikuti karyawisata. Tetapi bola golf yang dikumpulkannya masih kurang untuk dijual guna membayar biaya karyawisata tersebut, sedang orang tuanya tidak ada cukup dana.

“Kita ingin membuat cerita yang dekat dengan realita yang ada karena film pendek lebih kuat ceritanya jika ide lebih dekat dengan masyarakat. Cerita kita sendiri tentang anak anak yang tidak bisa mengikuti piknik ditengah gempuran masa yang katanya sudah modernitas ini,” tutur Iwan.

Proses pembuatan film berdurasi 15 menit ini menghabiskan waktu selama dua bulan, yang terbagi atas satu bulan masa praproduksi termasuk agenda Pre Production Meeting (PPM) dan satu bulan pascaproduksi. Sementara proses syutingnya sendiri diselesaikan hanya dalam waktu dua hari.

Iwan Rusdiyanto membagikan pengalaman paling berkesan selama proses produksi. Menurutnya kita harus mempunyai modal kendel atau berani untuk melangkah lebih jauh.

“Modal kita bisa sampai di sini ya karena kendel, dari kita tidak ada yang memiliki latar belakang perfilman, tapi kita punya keberanian untuk membuat film, keberanian itu yang terus kita gunakan,” tutur Iwan

Salah satu mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Aban, mempertanyakan diilema seputar dunia perfilman Indonesia saat ini. “Bagaimana cara kita mempertahankan idealisme di tengah pasar Indonesia ataukah kita harus mengikuti pasar?”, tanya Aban.

Menurut Iwan, film pendek adalah ruang merdeka bagi para sineas untuk menyelesaikan idealismenya secara utuh.
“Film pendek merupakan wadah bagi kita untuk menuangkan cerita kita sendiri,” tutur Iwan.

Ia juga menambahkan bahwa keunikan dari idealisme tersebut harus diperkuat lewat proses observasi.
“Kita juga harus memperkuat observasi yang matang di lapangan agar pesan semiotika yang ingin kita sampaikan bisa tersampaikan dengan baik kepada penonton,” tutur Iwan

Penulis: Iklila Abdiyatus Sholihah
Editor: Ayu Trianasari

Tag:

Tinggalkan Balasan