Home / Berita / Lingkungan / LPM Missi Hadirkan WALHI Jawa Tengah untuk Dorong Generasi Muda Berperan Mengawal Isu Ekologi

LPM Missi Hadirkan WALHI Jawa Tengah untuk Dorong Generasi Muda Berperan Mengawal Isu Ekologi

Mahasiswa mengikuti Seminar Ta'aruf LPM Missi yang membahas isu lingkungan bersama WALHI Jawa Tengah (26/09). (Foto: LPMMISSI.COM/doc. pribadi)

SEMARANG, LPM MISSI.COM— Kegiatan Seminar Taaruf Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Missi berkolaborasi dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah menggelar sesi diskusi interaktif tentang pentingnya peran media digital dan keterlibatan generasi muda dalam merespons krisis ekologis yang kian mendesak. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Teater Fakultas Tarbiyyah Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan dibawakan langsung oleh Azalya Tilaar, Manager Kampanye dan Media WALHI Jawa Tengah, pada Jumat (25/09).

Seminar yang bertajuk “Peran Media Digital dalam Mengawal Isu Lingkungan” tersebut menegaskan bahwa krisis ekologis dan perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan iklim dan cuaca semata, melainkan berkaitan erat dengan kondisi ekologi, kebijakan publik, dan tata kelola lingkungan yang buruk.

Baca juga: Bencana Ekologis Mengancam, WALHI: Pulihkan Ruang Hidup Pesisir

Mengkritisi Klaim Industri Hijau dan Greenwashing

WALHI Jawa Tengah mengingatkan masyarakat untuk bersikap kritis terhadap berbagai klaim green investment maupun proyek berkedok “hijau”. Banyak proyek investasi yang diberi label hijau sebenarnya merupakan kelanjutan dari investasi segelintir kelompok yang mengorbankan masyarakat lokal, merusak ekosistem, serta memicu konflik agraria dan wilayah pesisir.

Melihat krisis dengan kacamata ekologi politik sebagai persoalan lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari kontrak politik dan kebijakan yang memprioritaskan investasi dibandingkan perlindungan lingkungan dan Hak Asasi Manusia (HAM). Industrialisasi pesisir, geothermal, hingga tambang pasir laut dan material transisi energi terus memperparah kerentanan wilayah pesisir terhadap banjir rob dan abrasi pantai.

Kelompok yang paling terdampak dalam permasalahan ekologis lingkungan ini adalah kelompok rentan dan perempuan. Tak hanya itu, permasalahan ini semakin meluas dalam lini budaya dan sosial masyarakat.

Upaya mengurangi isu ekologis dapat dilakukan dengan hal yang paling ringan, yaitu melalui gerakan mengurangi plastik, menggunakan transportasi yang ramah lingkungan, dan menjaga kualitas hidup dengan membuang sampah pada tempatnya. Namun, hal tersebut tidak cukup tanpa adanya perubahan yang sistemik. WALHI mendorong penguatan Wilayah Kelola Rakyat (WKR) untuk memperkuat posisi tawar ekonomi komunitas di hadapan negara dan korporasi.

Baca juga: Founder @wisatasemarang Dorong Mahasiswa Manfaatkan Media Sosial untuk Branding Diri pada Seminar Taaruf

Generasi muda dipandang memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan dalam isu ini melalui peningkatan kesadaran kritis terhadap isu greenwashing, advokasi dan kampanye publik menggunakan media digital untuk mengawal kebijakan pemerintah, mengasah critical thinking melalui riset, membuat konten edukatif, dan mengorganisasikan gerakan akar.

WALHI Jawa Tengah menegaskan bahwa etika lingkungan harus bergeser menuju etika kepedulian lingkungan. Hal ini mengandalkan pendekatan pemikiran yang kritis, adil, dan partisipatif.

“Pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat merupakan bentuk tanggung jawab moral demi pertanggungjawaban korporat yang memproduksi plastik dan pemerintah yang tegas membuat kebijakan dalam mengawasi korporasi yang berkuasa,” tutur Azalya.

Penulis: Alya Mahda
Editor: Amiq Fuadi

Tag:

Tinggalkan Balasan