Home / Berita / Sempat Bekerja di Berbagai Tempat hingga di SPPG, Dhini Berhasil Raih Predikat Wisudawan Terbaik PMI

Sempat Bekerja di Berbagai Tempat hingga di SPPG, Dhini Berhasil Raih Predikat Wisudawan Terbaik PMI

Dhini Wahyu Ningtyas, wisudawan terbaik PMI UIN Walisongo Semarang (foto: lpmmissi.com/ dok.pribadi)

SEMARANG, LPMMISSI.COM- Dhini Wahyu Ningtyas, mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, berhasil meraih predikat sebagai wisudawan terbaik PMI pada Wisuda ke-101, Sabtu (22/8).

Dhini mengaku awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya terpilih sebagai wisudawan terbaik. Saat itu, ia hanya diminta menyiapkan teks sambutan wisudawan dan mengira dirinya ditunjuk sebagai perwakilan.

Setelah menerima dokumen yang mencantumkan Namanya, Dhini baru mengetahui bahwa dirinya terpilih sebagai wisudawan terbaik PMI.

“Setelah membaca pengumuman, saya baru tahu ternyata saya salah satu wisudawan terbaik jurusan PMI. Awalnya saya agak kaget. Di sisi lain juga bersyukur dan senang, tapi agak enggak percaya, ternyata saya menjadi wisudawan terbaik terbaik jurusan,” kata Dhini.

Selama menjalani perkuliahan, Dhini sempat bekerja di sejumlah tempat. Ia pernah bekerja di stan minuman di Boja, berjualan makanan melalui kantin kejujuran, hingga bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada bagian persiapan.

Dhini menyelesaikan tugas akhirnya dalam bentuk skripsi berjudul “Pengaruh Pengelolaan Wisata Aliran Kali Kesek terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Desa Sriwulan Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal”.

Baca juga: Di Balik Predikat Wisudawan Terbaik, Nurina Zain Sempat Berhenti Mengerjakan Skripsi Selama Dua Bulan

Dalam proses pengerjaannya, Dhini menghadapi berbagai tantangan. kondisi sang ayah yang beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit menjadi salah satu tantangan bagi Dhini.

“Tantangan terbesarnya selain jarak, waktu, dan biaya, juga kondisi Ayah yang sakit. Saat itu Ayah beberapa kali keluar-masuk rumah sakit, jadi saya harus pontang-panting mengerjakan skripsi di tengah kondisi tersebut,” jelasnya.

Ia juga sempat aktif dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai anggota bidang Hikmah dan Kebijakan Publik pada tahun 2023–2024.

Untuk membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, Dhini memilih mengambil jadwal perkuliahan yang berdekatan agar dapat segera pulang dan bekerja.

“Waktu ngambil jam kuliahnya mungkin saya mepet-mepetin biar bisa pulang dan bekerja. Sebenarnya, setelah KKN, di semester tujuh, itu harusnya sudah bisa ngerjain skripsi. Karena kondisi Ayah sakit, prosesnya cukup pontang-panting dan target lulus tiga setengah tahun belum tercapai. Tapi, Alhamdulillah akhirnya saya lulus empat tahun,” ujarnya.

Kedua orang tua menjadi sosok yang memotivasi Dhini selama menjalani perkuliahan. Baginya, pendidikan bukan sekadar untuk memperoleh gelar, tetapi juga menjadi cara untuk memperbaiki kehidupan orang tua sekaligus memperluas cara pandangnya.

“Tidak ada alasan lain untuk saya sampai di titik ini selain untuk orang tua saya. Saya ingin memperbaiki kehidupan orang tua saya dengan memiliki pendidikan tinggi. Walaupun kuliah tidak menjamin kesuksesan, paling enggak pola pikir saya bisa lebih maju, lebih bagus, lebih berkembang,” kata Dhini.

Pengalaman yang paling berkesan bagi Dhini selama mengerjakan skripsi adalah ketika harus mencari responden penelitian. Karena menggunakan metode kuantitatif, ia mengaku cukup kesulitan mendapatkan responden untuk memenuhi kebutuhan data. Di tengah kesulitan tersebut, pemerintah Desa Sriwulan dan pengelola wisata Kali Kesek turut membantu proses penelitiannya.

Baca juga: Meski Sambil Menjaga Ayahnya yang Sakit, Rima Berhasil Raih Predikat Wisudawan Terbaik KPI

Setelah menyelesaikan perkuliahan, Dhini berharap dapat memperoleh pekerjaan yang baik dan dikelilingi orang-orang baik yang dapat mendekatkannya kepada agama. Ia juga memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2), meski belum menjadi rencana dalam waktu dekat.

Kepada mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir, Dhini berpesan agar tidak menunda pekerjaan, melainkan tetap mengerjakannya sedikit demi sedikit setiap hari dan tidak menyerah menghadapi berbagai rintangan.

Menurutnya, perjuangan menyelesaikan tugas akhir bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai bentuk upaya membanggakan dan membahagiakan orang tua.

“Kerjakan, jangan malas. Meskipun hanya satu atau dua kata, tetap kerjakan setiap hari, karena pasti akan selesai. Kamu yang sudah sampai di tahap tugas akhir ini sudah hebat. Apa pun rintangannya, harus tetap dikerjakan dan diselesaikan. Ingat, orang tua di rumah menunggu dan mendoakan agar kamu berhasil. Jadi, apa pun rintangannya, kamu pasti bisa menyelesaikan skripsi,” pesannya.

Penulis: Hilda Hurriana
Editor: Ayu Trianasari

Tag:

Tinggalkan Balasan