Semarang, LPM MISSI.COM– Perjuangan tiada henti membawa Zanatul Khoiriyah, mahasiswi asal Kudus, Jawa Tengah, meraih predikat wisudawan sekaligus skripsi terbaik tingkat Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).
Judul tugas akhir Zanatul yang mengangkat tema “Tata Kelola Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) dalam Mewujudkan Transparansi Jamaah Haji berdasarkan UU No. 14 Tahun 2025 di Kabupaten Kudus” sempat mengalami penolakan berulang kali sebelum akhirnya disetujui dalam bentuk jurnal.
“Saya sangat terharu, kaget, dan tidak menyangka bisa menjadi wisudawan terbaik dan skripsi terbaik tingkat fakultas, padahal sebelumnya judul saya ditolak terus,” kata Zanatul saat diwawancarai.
Baginya, predikat tersebut merupakan bentuk apresiasi atas kerja keras, doa orang tua, serta dukungan dosen dan rekan-rekannya.
Proses penyusunan tugas akhir tidak lepas dari hambatan. Tema penelitian yang bersinggungan dengan regulasi dan undang-undang membuat Zanatul harus menghadapi birokrasi perizinan yang lumayan rumit.
Baca juga: Sempat Bekerja di Berbagai Tempat hingga di SPPG, Dhini Berhasil Raih Predikat Wisudawan Terbaik PMI
“Saya bahkan pernah menunggu informan hingga malam hari demi mendapatkan data wawancara,” katanya.
Tak hanya tantangan akademis, Zanatul juga harus membagi fokusnya karena menjalani kuliah sambil bekerja sebagai tentor privat untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD).
“Saya membagi fokus antara bimbingan, revisi, dan kegiatan harian saya. Dikarenakan dalam mengerjakan tugas akhir, saya sambil menjadi tentor privat untuk anak SD,” katanya.
Pengalaman unik sekaligus menegangkan juga sempat dialaminya ketika file revisi skripsi lupa tersimpan beberapa jam sebelum jadwal bimbingan.
“Mengatasi burnout, menjaga konsistensi menulis saat jalan buntu, hingga menjaga mood agar tetap membuka laptop itu sangat susah,” tambahnya.
Di balik ketangguhannya, sosok orang tua menjadi motivasi terbesar Zanatul. Melihat perjuangan dan pengorbanan mereka dalam membiayai kuliah menjadi bahan bakar semangat setiap kali ia merasa lelah atau ingin menyerah.
“Melihat perjuangan dan mengorbanan orang tua untuk membiayai serta mendampingi studi, menjadi dorongan terbesar setiap kali saya merasa lelah atau ingin menyerah saat mengerjakan tugas akhir,” kata Zanatul.
Ke depan, Zanatul berharap dapat mengimplementasikan ilmunya secara profesional di bidang haji dan umrah.
“Saya harap bisa berkontribusi bagi masyarakat, serta melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi jika ada kesempatan,” katanya.
Zanatul memberikan pesan bagi mahasiswa lain yang sedang berjuang menyusun tugas akhir.
“Harus konsisten dan kerjakan sedikit demi sedikit setiap hari. Karena tugas akhir yang baik adalah tugas akhir yang selesai. Jangan takut revisi, revisi adalah proses belajar, bukan tanda kegagalan. Tetap perhatikan kesehatan fisik dan mental. Jangan ragu untuk beristirahat sejenak jika merasa jenuh,” katanya.
Penulis: Gelwaz Prakesit
Editor: Muhammad Hasan







