Home / resensi / Atelier: Film Pendek Terbaru Titik Temu Films Siap Terjun ke Festival Film

Atelier: Film Pendek Terbaru Titik Temu Films Siap Terjun ke Festival Film

Atelier: Film Pendek Terbaru Titik Temu Films Siap Terjun ke Festival Film (foto: lpmmissi.com/ Hasan)

SEMARANG, LPMMISSI.COM- Pada Minggu petang (17/05), tepatnya pada pukul 18.00 WIB, Titik Temu Films menyelenggarakan pemutaran perdana film terbaru mereka yang berjudul “Atelier”. Film ini merupakan kritik sosial yang membawakan pesan anti-bullying dan mengajarkan tentang belajar menerima serta mencintai diri sendiri. Begitulah ungkap penulis script, yaitu Zahra Amalia.

Film “Atelier” ini menceritakan tentang seorang pelukis penyendiri bernama Senja yang mengikuti ajang pameran lukisan. Di sana, ia bertemu dengan pengunjung perempuan cantik bernama Tara. Tara kemudian memesan jasa Senja untuk melukis dirinya. Tanpa disadarinya, hubungan itu membangkitkan luka lama dan memunculkan alter ego.

Suara selama film terdengar cukup keras. Bahkan di awal film, saya dikejutkan dengan suara bagasi belakang mobil.

Dalam sesi talk with cast and crew, sang produser, Sang penulis skrip, Zahra Amalia mengungkapkan kalau dia beberapa kali merevisi naskah untuk film pendek “Atelier”. Sementara Akhmad Zidan mengungkapkan kalau film ini digarap begitu lama ketimbang film-film yang telah Titik Temu Films garap sebelumnya.

Sampai enam bulan ungkapnya. Karena mulai dari penyesuain naskah, menyeleksi pemeran yang ada, sampai menyesuaikan karakter-karakter yang ada.

Dalam film tersebut, Senja yang diperankan oleh Andhika Dwi Ramadhan berlaga di depan kamera dengan luar biasa. Ia tampil memukau untuk dua karakter yang ia mainkan, yakni sebagai Senja serta alter egonya.

Tokoh-tokoh lain seperti Tara yang diperankan oleh Amanda Inka Putri, Ferdi yang dimainkan oleh Mustofa, Fatir yang diperankan oleh Syauqi Iqbal Ramadhan, dan Hana yang dimainkan oleh Hafna Ilmy berakting dengan hebat. Dinamika hubungan yang terjalin terasa, meskipun dalam beberapa scene, aksi mereka dapat diperlihatkan dengan lebih maksimal.

“Film ini mengangkat tema yang sebenarnya berada di sekitar kita, namun jarang mendapatkan sorotan,” ungkap Zahra Amlia.

Film ini menceritakan tentang isu pembullyan yang kerap dinormalisasikan dalam masyarakat sekitar. Alih-alih membela korban serta mengadili pembullly seadil-adilnya, korban bullyan kerap dapat cibiran alay, mudah sakit hati, atau berbagai macam ungkapan tidak enak lainnya. Di sisi lain, film ini memberikan pelajaran luar biasa lainnya tentang menerima diri sendiri.

Alur yang dibawakan film dibawakan dengan rapih. Pelan-pelan, tapi bisa dengan rapi tiba-tiba menghadirkan adegan-adegan menggemparkan. Beberala penonton hanya terkejut, bahkan ada yang histeris, sampai menganga tidak percaya. Dan uniknya, bak beberapa film mahal yang sebelum-sebelumnya saya saksikan, film ini melahirkan beberapa teori sehingga tidak selesai begitu saja setelah layar berganti kembali menjadi banner Gala Premiere dan Anniversary.

Film ini rencananya akan diikutsertakan dalam berbagai festival film, mulai dari UNEJ Film Festival, Jogja-Netpac Asian Film Festival, Jogja Academy Short Film Festival, Brawijaya Festival, Festival Film Anak Bangsa, Madani International Film Festival, Lawang Sewu Short Film Festival, dan masih banyak deretan festival film yang akan diikuti film “Ateliere” ini. Mengenai penayanangan film ini, dapat ditilik di sosial media maupun web Titik Temu Films.

Penulis: Muhammad Hasan
Editor: Ayu Trianasari

Tag:

Tinggalkan Balasan