DEMAK, LPMMISSI.COM – Dalam acara pagelaran budaya “Hikayat Demak” yang diadakan di alun-alun Demak pada Sabtu malam (23/5), seniman dari berbagai bidang dikumpulkan untuk melakukan kolaborasi mulai dari musik keroncong, gamelan, tari, teater, dan banyak lainnya.
Dengan berbagai jenis seni tersebut, “Hikayat Demak” mencoba menceritakan tentang kejayaan Kerajaan Demak. Mulai dari runtuhnya Majapahit, pelabuhan Demak yang menjadi tempat berkumpulnya banyak budaya, berdirinya Kerajaan Demak, Walisongo, puncak kejayaan, sampai cerita runtuhnya kejayaan tersebut.
Sayangnya, dalam acara yang dipersiapkan sedemikian rupa, salah satu penonton dari warga lokal, Balya Kanzul Ma’ali berkomentar tiap kali narator bercerita di setiap segmennya.
”Apakah setiap narasinya ini diisi pakai AI?” celetuknya saat segmen Walisongo.
Bahkan pada salah satu segmen teater, ketika Patih Ronggo Toh Joyo bersama dengan dua punggawa kerajaan, ada momen ketika mereka berdua meminta dawuh dari Raden Patah. Tapi, dalam segmen tersebut, Raden Patah ternyata hadir dalam sebuah rekaman yang ditampilkan di layar latar belakang panggung. Ia hadir memberikan sejarah Demak dan wejangan kepada warga Demak dalam bentuk rekaman video yang telah di generate AI.
”Nggak pure AI. Ini itu bentuk saya yang mengendalikan AI. Bukan AI yang mengendalikan saya,” jelas Indrawan Yepe yang berperan sebagai Raden Patah.
Rehana Dzikrina selaku inisiator acara juga mengungkapkan hal yang sama, bahwa video yang ditampilkan tidak pure AI. Tapi AI itu dikolaborasi dengan teknik visual dari visual designer yang ada.
”Karena kami ingin menyampaikan visualnya juga, jadi kami gunakan AI untuk bahan-bahan yang tidak terdokumentasikan dulu. Jadi, kami harap audiens lebih mudah menangkap sejarah yang ada,” tutur Rehana.
Reporter: Muhammad Hasan
Editor: Ayu Trianasari









