DEMAK, LPMMISSI.COM – Perhelatan budaya di Demak, menghadirkan kembali warisan sejarah Kesultanan Islam pertama di Jawa. Melalui rangkaian seni, seperti teaterikal, musik tradisional, dan seni tari yang menyatu dalam satu panggung, berhasil menarik kehadiran masyarakat dari berbagai usia. Sabtu, (23/5).
Acara ini, dapat menjadi ruang kebersamaan sekaligus sarana menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga warisan budaya.
Pertunjukan utama adalah teaterikal Hikayah Demak. Pementasan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan penayangan dokumenter sejarah Kabupaten Demak, yang menampilkan akulturasi budaya Jawa dan Islam.
Pertunjukan teaterikal dan musikal, menjadi pementasan kedua yang diiringi oleh alunan gamelan serta keroncong, menghadirkan suasana halus namun dalam. Tari tradisional dengan lagu Cublak-Cublak Suweng dan Lir-Ilir turut memperkuat nuansa budaya Jawa yang ditampilkan.
Pada pertengahan pementasan, teaterikal menampilkan sepuluh penari prajurit yang menggambarkan kejayaan Demak dengan latar kemenangan. Instrumen sabung berhasil menambah kesan dramatis, sebelum beralih pada bagian runtuhnya kerajaan.
Lagu Ibu Pertiwi, Desaku, dan Tanah Air juga mengiringi tarian yang menegaskan bahwa budaya tetap lestari meski kerajaan telah runtuh.
Penutup acara ditandai dengan playback oleh MC, serta seluruh aktor yang kembali ke atas panggung sebagai simbol kebersamaan.
Baca juga: Nguri-uri Budaya, Demak Hadirkan Kolaborasi Lewat Pagelaran Hikayat
Pagelaran ini juga dimeriahkan oleh penampilan penari cilik. Salah satunya adalah siswi kelas 5 SD asal Demak, Pradila pramudita atau yang akrab disapa Pradila.
Dalam sesi wawancara, Pradila mengungkapkan bahwa ia tampil dua kali, pertama saat menyanyikan lagu tradisional anak, dan kedua bersama seluruh penari sebelum penutup dengan membawa payung.
“Saya hanya berlatih beberapa hari sebelum pementasan dimulai bersama sanggar Patma Baswara,” ujarnya.
Kehadiran Pradila menjadi cerminan bahwa budaya Demak terus hidup melalui keterlibatan generasi muda.
Pagelaran Budaya “Hikayah Demak Bintoro”, menghadirkan ruang edukasi dan refleksi atas sejarah panjang Kesultanan Demak, sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan.
Reporter: Amalul Abyan, Muhammad Hasan
Editor: Hanifah Shabrina









