LPMMISSI.COM

Socrates dan Budaya Shareable

Foto: Google


2500 tahun lalu hidup seorang filsuf dunia bernama Socrates. Ia lahir dari pasangan seorang bidan dan pembuat patung di Athena, Yunani. Ia tumbuh besar dengan penuh keragu-raguan. Segala hal di dunia ini memiliki tanda tanya besar baginya. Menurutnya, hanya satu yang Ia ketahui, yakni Ia tidak tahu apa-apa.

Socrates termasuk orang yang tidak puas dengan apa yang dilihat mata. Ia juga tidak begitu percaya dengan kata pendeta, pemuka agama, bahkan pikirannya. Setiap bertemu orang, Ia akan mengajaknya bicara, berdiskusi, memberikan berbagai pertanyaan atas asumsi lawan bicaranya, hingga berakhir dengan kebingungan. Ia yakin hal seperti itu adalah kebijaksanaan abadi bagi manusia.

Baca juga: Saat Media Lebih Penting dari Agama

Meski hidup sudah sangat lama, pemikiran Socrates masih dipakai hingga abad ke 21. Sifat skeptisnya menurut Sahrul Mauludi dalam buku Socrates Café masih sangat diperlukan untuk masyarakat modern. Karena kini masyarakat lebih mudah menyebarkan informasi tanpa verifikasi terlebih dahulu. Sehingga hatespeech dan hoaks sangat mudah disebarluaskan.

Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) 2016 silam, ada sekitar 800 ribu situs hoaks di Indonesia. Pada 2019 ini jumlah tersebut nampaknya semakin bertambah karena maraknya orang-orang yang mencari keuntungan di internet. Kemudian memanfaatkan hatespeech dan hoaks sebagai jalur alternatif.

Jika di zaman Socrates sudah ada smartphone, Ia tidak akan mudah share sesuatu. Karena bagi dirinya tidak ada kebenaran sejati yang dimiliki manusia. Ia akan bertanya seribu kali tentang keakuratan informasi yang didapat, jiwa filsuf yang tertanam pada dirinya adalah mencari kebenaran.

Selain sikap skeptis yang tinggi, hal yang bisa diambil oleh masyarakat modern dari Socrates adalah bagaimana Ia menyebarkan ilmu. Ia tidak pernah mengajarkan filsafat kepada masyarakat waktu itu, tetapi Ia hidup berfilosofi. Secara tidak langsung, Ia lebih suka memberi contoh dalam tindakan dari pada banyak bicara, apalagi menggurui.

Masyarakat modern hampir berbalik 180 derajat dengan Socrates. Di zaman serba gampang ini, orang-orang justru sibuk mengejar popularitas di media. Merasa paling benar, saling bersaing membranding diri dengan mengisyaratkan, “aku lebih baik dari mereka,” Buru-buru memposting apa yang diperbuat, dan menyebarkan informasi tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.

Baca juga: Pilpres 2019, Nalar Machiavelli Hingga Post Truth

Jika hal ini dibiarkan, manusia akan lupa fungsi dari otak. Seperti kata Aristoteles bahwa manusia adalah binatang yang berpikir. Seharusnya, dengan adanya akal, kita lebih cermat dan cerdas menelan segala hal. Agar strata manusia tidak benar-benar sama dengan hewan. Kita perlu meneladani kekhawatiran Socrates perihal kebenaran. Bukan untuk menentang kebenaran itu sendiri, tetapi untuk meyakinkan diri bahwa itu adalah kebenaran.

Banyak yang merasa pertanyaan-pertanyaan Socrates bertujuan menjatuhkan lawan bicara (meski tidak), terlebih para politisi yang menuduh Ia adalah pihak oposisi. Instrumen penyangkalan Socrates ini disebut Elenchus, “menyangkal/menguji,” di mana Socrates menyampaikan kontradiksi dari pendapat mereka sendiri. Namun hal ini juga yang membawa Socrates dihukum mati oleh Meletus (penyair), Anytus (politisi), dan Lycon (ahli retorika) dengan meminum racun.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan menyampaikan pemikiran Socrates. Di antara pengetahuan yang Ia pahami, Socrates juga memahami bahwa persoalan manusia berakar pada pola pikirnya, kualitas pengetahuan, dan moral. 
Semoga kita bisa menerapkan ketiganya dengan semestinya.

Penulis: Isbalna 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact Us

Gulir ke Atas