Meningkatkan Kualitas Diri di Bulan Suci

Berbagai keberkahan turun di bulan Ramadhan, sehingga umat muslim sangat menunggu kehadirannya. Berbagai perayaan menyambut bulan suci ini masih terasa hingga sekarang. Hingga sepekan lebih Ramadhan berlalu muncul pertanyaan dalam benak saya “Bagaimana sepekan Ramadhan dilalui? Membekas atau tak berbekas?

Rasulullah bersabda “Betapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga.” Hadis tersebut menjadi pengingat bagi kita agar lebih bersungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa sehingga kita semua keluar dari bulan ramadan dengan predikat la’allakum tattaquun. Lantas bagaimana cara agar nilai-nilai Ramadhan kali ini membekas pada diri kita? Quraish Shihab menguraikan perihal apa saja yang perlu dikerjakan saat bulan ramadan agar membekas dalam diri.

Pertama, ketahui segala hal terkait puasa. Mulai dari anjuran dan larangan di bulan Ramadhan. Karena menurutnya, jika seseorang hendak melakukan sesuatu, maka ia harus mengetahui terlebih dahulu apa yang akan dilakukan. Kebanyakan orang berpuasa hanya mengetahu rukunnya saja, tidak makan maupun minum. Hal-hal yang bersifat makruh sering dipandang sebelah mata, seperti hukum menggosok gigi saat berpuasa dan lainnya.

Baca juga: Sambut Bulan Ramadhan, KMJS Adakan Sepak Bola Api

Kedua, tekad. Setelah kita mengetahui apa yang akan dikerjakan, maka langkah kedua adalah tekad yang kuat. Menurutnya, tanpa tekad sesuatu akan sulit dikerjakan, termasuk puasa. Sebagai contoh, banyak orang yang mengetahui kapan waktu salat subuh tapi jarang yang menjalankan, karena kurangnya tekad. Ia menyarankan, agar puasa kali ini tekad untuk meningkatkan kualitas ibadah juga harus ditanamkan, agar kita terhindar dari puasa yang sia-sia.

Quraish Shihab menerangkan isi khotbah yang disampaikan Rasulullah di depan para sahabatnya sebelum memasuki bulan ramadan, bahwa ada empat hal yang harus dipahami. Dua di antaranya apabila dikerjakan Allah akan rida, dan dua lainnya jangan sampai tidak diraih.

Dua hal yang pertama ialah menguap “fa syahaadatu an laa ilaaha illa Allah wa tastaghfiruunah,” bersyadat dan memohon ampunan kepada Allah. Mengucap syahadat, menurut beliau berucap bukan berarti hanya sekedar di lisan saja, akan tetapi lisan berucap, pikiran membenarkan, hati membenarkan, tindakan juga membenarkan. 

Baca juga: Sabrang: Puasa Sebagai Penghubung Alam Kecil dan Besar

“Maka ketika Rasulullah bersabda ‘ucaplah (syahadat)’ berarti anda harus memahami, anda harus ada di dalam hati bahwa itu benar,” katanya.

Kemudian perbanyaklah memohon ampun kepada Allah, karena manusia tidak luput dari dosa setiap harinya. Menurutnya, apabila kita tidak bisa mengingat dosa-dosa kita, maka memohonlah secara umum, maka Allah akan rida.

Dua hal lainnya yaitu memohon agar dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari api neraka. Ia menjelaskan, ketika kita memohon kepada manusia maka kita tidak perlu ikut andil dalam hal tersebut. Misalnya ketika  meminta tolong pada teman untuk mengambikan gelas, maka kita tidak perlu ikut berusaha mengambil gelas tersebut. Namun, berbeda ketika memohon kepada Allah maka kita perlu berusaha terlibat untuk mewujudkannya. 

Baca juga: Sudahkah Kita Bersyukur?

Misalnya ketika memohon diberikan kelulusan setelah ujian, maka kita tetap harus berusaha dan belajar. Berarti sebelum tawakal kita harus ikhtiar terlebih dahulu, seperti sabda Nabi Muhammad SAW “Ikat dulu untamu, baru kamu bertawakal kepada Allah”.

Demikian, hal-hal yang perlu kita lakukan untuk menjadikan ramadan kita lebih berkah dan bermakna. Belum terlambat bagi kita untuk memperbaiki kualitas ibadah di bulan suci ini. Dengan harapan selepas ramadan kali ini kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mari jalani bulan penuh diskon (kebaikan) ini dengan berlomba-lomba meningkatkan kualitas diri.

Penulis: Sakti Chiyarul U

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us