Kantin Kejujuran Belum Memilki Payung Hukum, Pedagang Merasa Dirugikan

SEPI: Kantin kejujuran di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) lantai dua terlihat sepi, hal itu dikarenakan memasuki masa liburan semester.

SEMARANG, LPMMISSI.COM – Kanti kejujuran yang menempat di depan Perputakaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) belum memiliki payung hukum yang jelas. Hal itu membuat pihak fakultas bisa dengan mudah menertibkan lapak kantin kejujuran. 

Salah satu pedagang, Muhammad Shodiq mengatakan, penertiban dari pihak kampus membuat sejumlah pedagang merasa dirugikan. Pasalnya, tidak ada sosialisasi sebelum lapak ditertibkan.

“Saat dilakukan penertiban tidak ada informasi sama sekali dari kampus kami hanya bisa pasrah,” keluh Shodiq, Rabu (23/1).

Baca juga: Kantin Kejujuran FDK Ditertibkan, Penjual Merasa Rugi

Menurutnya, pihak fakultas seyogyanya menginformasikan terlebih dahulu kepada pedagang agar bisa mempersiapkan diri.

“Setidaknya ada surat pemberitahuan untuk pedagang agar bisa bersiap-siap,” lanjut dia. 

Sebelumnya, Shodiq sudah berusaha untuk berkonsultasi kepada Senat Mahasiswa (Sema) FDK. Namun, tidak menemui jalan keluar,  karena pihak fakultas tidak kunjung memberikan kejelasan.

“Sebenarnya, kami telah mendengar adanya isu penggusuran di bulan Oktober karena ada akreditasi. Namun, kebenaran informasi itu masih simpang siur,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Alfandi membantah kantin kejujuran digusur.

Baca juga: Tanggapan Mahasiswa FDK Soal Kantin Kejujuran 

Menurut Alfandi, kantin kejujuran hanya ditertibkan untuk sementara waktu. Hal itu dilakukan dalam rangka pemenuhan akreditasi agar tidak terkesan kumuh.

“Ketika ada asesor yang datang, kantin kejujuran itu ditertibkan dulu, agar kesannya tidak kumuh. Sebetulnya, lokasi itu bukan tempat untuk berjualan,” ujarnya.

Dia tidak mempermasalahkan jika di semester berikutnya para pelapak masih berjualan di tempat tersebut. 

Menurut Alfandi, meski kantin kejujuran bisa dijadikan tempat belajar berwirausaha, namun harus tetap memperhatikan estetika tata ruang kampus.

“Tidak mengapa berjualan, tapi harus tertib dan tidak menghalangi lalu lintas orang berjalan. Kalau bisa disediakan rak, lalu diberi kata-kata imbauan ketika makan sambil duduk dan lainnya,” tandasnya.

Baca juga reportase lainnya dari Siti Husnul Polisi: Penyebab Kematian korban karena Kelalaian Wujudkan Visi UIN Walisongo Melalui Kampus Inklusif

Reporter: Siti Husnul
Editor: Isbalna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us