spot_img
HomeesaiDema-U Bak Macan (Pantura) Ompong

Dema-U Bak Macan (Pantura) Ompong

 

Kritikan pedas yang menyebut-nyebut tidak becusnya DEMA-U Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo di akun twitter @uinwsfess patutnya bisa kita pertanyakan. Sebagai salah satu pemegang kursi tertinggi dalam perpolitikan di UIN Walisongo, di manakah DEMA-U hari ini?

 

Tapi sebelum melanjutkan lebih jauh. Agaknya perlu diketahui seperti apakah akun twitter yang menyebar kabar apatisnya DEMA-U tersebut. Akun @uinwsfess sebetulnya bisa dikategorikan sebagai akun menfess. Istilah ini sudah telanjur terkenal di sejagat twitter dan merujuk kepada “mention confess” yang berarti pengakuan.

 

Maksudnya, akun menfess adalah akun kolektif yang menjadi media bagi seseorang secara ‘anonim’ untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Dapat kita yakini, bahwa kritik dan sindiran yang terlontar di akun @uinwsfess berasal dari mahasiswa UIN Walisongo sendiri yang tidak merasakan kehadiran dan lebih jauh kinerja DEMA-U.

 

Supaya lebih jelas, dapat diketahui melalui unggahan twitter yang menyindir-nyindir DEMA-U. Berharap baik pembaca maupun yang bersangkutan dapat menjadikannya pembelajaran. Unggahan pertama muncul pada malam, Kamis (8/4). berbunyi sebagai berikut “Ws! Gerakan DEMA U kok malah mlempem yo rek”.

 

Kemudian yang lain pun bermunculan. Tak hanya menyebut DEMA-U yang gerakannya kian mlempem. Secara anonim, ada juga yang gamblang mengatakan bahwa gerakan yang DEMA-U lakukan tak lebih hanya menempel pada organisasi tertentu, melalui pamflet-pamflet yang beredar di sosial media.

 

“Ws! DEMA U tuh ikut gerakannya nempel doang.. lihat aja ntar pamfletnya ngintil organ lain huhuhu.. payah emg kalo yang megang orang yang banyak kepentingan doang.. Ketuanya alim wakilnya katanya jurusan ilpol.. kontradiksi no wkwk”

 

Selain unggahan di atas, ada lagi unggahan yang mengatakan bahwa DEMA-U hanya menjalankan program kerja (proker) yang memang sudah ada dasarnya. Padahal keinginan mahasiswa sejatinya adalah DEMA-U membuka mata dan melihat realitas mahasiswa. Misalnya menjadi penggerak dalam kegiatan aksi dengan membawa nama universitas dan sebagainya.

 

“Ws! Dema-U Kinerja lu udh gakeliatan, paling cuman jalanin proker yg emng sudah dasarnya, mahasiswa lu cuman minta lu bentuk turun aksi dengan membawa nama universitas, banyak temen yg ga ikut external pengen juga demonstrasi untuk melawan oligarki, masa iya nanti ada yg (contoh)”

 

Bukan tidak mungkin jika akhirnya bermunculan unggahan yang mengarah kepada kritik atas DEMA U yang selama ini dianggap diam. DEMA-U seyogyanya adalah pemimpin mahasiswa yang menjalankan peran eksekutif di kampus. Hal itu bahkan sudah tergambar jelas dalam benak mahasiswa yang sudah acapkali menerima doktrin bahwa kampus layaknya miniatur negara.

 

Maka seandainya kerja DEMA-U hanya duduk di atas singgasana belaka. Tanpa menjalankan agenda kampus sesuai proker yang telah ia janjikan. Apabila DEMA-U tak memiliki daya untuk menampung aspirasi mahasiswa. Maka bukan saja kinerjanya sebagai lembaga eksekutif yang dipertanyakan. Tapi, layakkah mereka yang berada di balik singgasana itu menempati kursinya?

 

Sebagai mahasiswa, terlepas dari sudah benar atau belumnya kinerja DEMA-U, sekiranya ada dua tindakan yang bisa diperbuat. Pertama, memaklumi DEMA-U, bahwa bukan pertama kalinya dalam sejarah pimpinan eksekutif tidak mengayomi warganya, tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya, pergerakannya yang timbul dari kepentingan belaka dan hanya duduk termenung tanpa melakukan apa-apa. Bukan tidak mungkin, hal tersebut terjadi di Indonesia bahkan di UIN Walisongo yang dikenal sebagai macan pantura.

 

Selain memaklumi, ada pun yang dapat kita lakukan adalah membersihkan DEMA-U. Bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi. Bukan dari bawah tapi dari atas tampuk kuasa. Bahwa sejatinya, perkara ini bukan antara yang benar dan salah. Tapi adakah perubahan yang diinginkan. Maka langkah-langkah praktis perlu dilakukan dan hal-hal yang dianggap menganggu jalannya roda birokasi kampus patut dipertimbangkan. Entah itu dengan protes di dunia maya, menuntut klarifikasi DEMA-U terhadap kinerjanya selama ini hingga jika diperlukan, perlu adanya pemecatan dan reshuffel dalam struktural kabinetnya.

 

Siapa tahu bahwa unggahan di twitter tersebut adalah langkah kecil yang mampu mengubah keadaan nantinya. Mungkin saja gesekan tersebut dapat membuat DEMA-U tidak cuma dianggap sebagai macan terkurung dalam kandang yang kenyang dengan memakan daging mahasiswa-mahasiwanya. Tapi juga mengembalikan marwah UIN Walisongo Semarang sebagai macan pantura.

 

Penulis : Ihsanul Fikri

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

PALING BARU

PALING POPULER