Home / Berita / Tolak Eksploitasi, LPM Missi Gelar Diskusi dan Nobar Film Dokumenter Pesta Babi

Tolak Eksploitasi, LPM Missi Gelar Diskusi dan Nobar Film Dokumenter Pesta Babi

Tolak Eksploitasi, LPM Missi Gelar Diskusi dan Nobar Film Dokumenter Pesta Babi (foto: lpmmissi.com/ Danish)

SEMARANG, LPMMISSI.COM -‎ Suasana malam setelah hujan, halaman parkir Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang ramai dipadati puluhan pasang mata, bersiap menyaksikan film dokumenter Pesta Babi pada Selasa, (5/5) 2026.

Nonton bareng (NOBAR) dan diskusi yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Missi ini memang ditujukan untuk umum. Sejak pukul 18.30, tampak beberapa penontom baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat sekitar mulai berdatangan.

“Saya pilih nonton disini karena lokasinya dekat dan mudah dijangkau, rasanya senang bisa nonton film dokumenter yang menjadi bukti perlawanan,” ucap Musyarof Azizi yang akrab dipanggil Zizi, salah satu Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Film dokumenter yang disutradarai Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale tersebut menyoroti kondisi realitas perjuangan masyarakat adat Papua Selatan, mempertahankan tanah mereka dari ancaman proyek strategis nasional yang berdampak buruk bagi kehidupan mereka.

Baca juga: Euforia Festival Balon Udara Semarang Dibarengi Banyak Persoalan

Ketua pelaksana nobar dan diskusi, Ayu Trianasari menyampaikan bahwa film dokumenter yang mengangkat kisah nyata masalah di luar pulau jawa seperti pesta babi harus disebarluaskan agar menumbuhkan kepedulian masyarakat.

“Film seperti ini harus disebarkan dan dapag diakses bagi siapa saja, agar menumbuhkan awareness di masyarakat. Saat kita hidup enak, di luar sana ternyata masih ada sekali perlakuan kolonialisme modern,” ujarnya.

Selama pemutaran film beberapa penonton terlihat antusias dan memberikan respon cukup beragam, ketika mengetahui fakta tersembunyi dari Papua Selatan yang mulai terungkap.

Atik Febryaningsih salah satu mahasiswa KPI semester enam membagikan kesan setelah menonton. Ia merasa geram melihat perlakuan pemerintah terhadap masyarakat Papua. Atik juga berpesan untuk terus memperjuangkan dan bersuara untuk hak asasi manusia.

“Ceritanya bikin greget dan jengkel sama pemerintah, ternyata mereka sudah bertahun tahun merusak hutan yang menjadi milik masyarakat papua, pesan dari saya kita terus suarakan hak asasi yang kerap direnggut para petinggi dan jangan sampai kita dibungkam,” ujarnya.

Baca juga: Hujan Badai Tidak Menghentikan Antusias Warga Semarang Menyaksikan Semarang Night Carnival

Disisi lain salah satu mahasiswa Program Studi Falak, Muhammad Zaky Al Anam berpesan untuk mengadakan acara seperti ini kembali sebagai bentuk perlawanan elegan dari Lembaga Pers Mahasiswa terhadap pemangku kebijakan.

“Acara ini bermanfaat banget, mungkin kedepannya LPM Missi bisa meningkatkan lagi acara seperti ini, karena lembaga perst itu implementasi nyata bagaimana melawan pemangku kebijakan dengan cara terstruktur dan elegan,” ujarnya.

Penulis : Nuril Baiti Amiliah
Editor: Ayu Trianasari

Tag:

Tinggalkan Balasan