Home / Berita / Euforia Festival Balon Udara Semarang Dibarengi Banyak Persoalan

Euforia Festival Balon Udara Semarang Dibarengi Banyak Persoalan

Euforia Festival Balon Udara Semarang Dibarengi Banyak Persoalan2 scaled

SEMARANG, LPMMISSI.COM -‎ Setelah hujan deras di malam akhir pekan, yang hampir saja menggagalkan Semarang Night Carnival, pada Minggu pagi (3/6) 2025, cuaca nampak bersahabat. Langit cerah namun tidak panas. Angin berhembus segar tanpa ada suatu hawa mencurigakan yang dibawanya.

‎Pagi hari itu, acara Dinas Budaya dan Pariwisata dalam menyambut Hari Ulang Tahun Kota Semarang ke-479 masih berlangsung. Di lapangan Simpang Lima, ada Festival UMKM dan Kuliner, ada pula “Mlaku Bareng” yang diinisiasi oleh pemerintah kota Semarang, Ceremony Lumpia Vaganza, Penampilan band lokal “Recoustic”, dan Lomba Seni Budaya.

‎Sementara itu, di sisi lain kota Semarang juga ada event menarik lainnya. Di lapangan Tembak Universitas Diponegoro (UNDIP), tepatnya di Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Kec. Tembalang, Kota Semarang. Event ini berupa, festival Balon Udara untuk pertama kalinya di kota Semarang.

‎Melalui postingan media sosial yang beredar, festival itu dimulai pukul 06.30 sampai 10.30 WIB. Sayangnya, jalanan UNDIP sesak oleh mobil, motor, dan kendaraan lainnya. Sebagian masyarakat Tembalang, hendak menghabiskan minggu paginya untuk Car Free Day (CFD), sebagian yang lain, lebih banyak datang dari berbagai tempat untuk menyaksikan festival Balon Udara di Semarang.

Baca juga: Hujan Badai Tidak Menghentikan Antusias Warga Semarang Menyaksikan Semarang Night Carnival
‎Kemacetan yang terjadi benar-benar parah. Di dalam pantauan google maps, hampir seluruh jalan di daerah tersebut berwarna merah, menunjukkan kemacetan yang parah. Jl. Jembatan Sikatak yang merupakan akses tercepat menuju lapangan tembak UNDIP dipenuhi lautan manusia yang menikmati CFD, sedangkan akses kendaraan melalui jalan memutar, yakni di Jl. Banyu Putih Raya juga menjadi pilihan yang buruk. Macet Panjang ini, diperkirakan mencapai lebih dari 2 KM.

‎”Seharusnya acara besar seperti ini ada penata jalannya. Jadi, orang-orang yang berkunjung tidak bingung untuk mengakses jalan,” ungkap Dian Nafi, perantauan Demak yang tinggal di Tembalang.

‎Gerutuan itu tidak hanya mencuat dari mulutnya. Tapi juga dari banyak pengendara yang terjebak macet panjang tersebut.

‎Sekitar pukul 10.15 WIB, akhirnya banyak pengendara di Jl. Banyu Putih Raya yang menyerah dan memutuskan untuk putar balik. Beberapa pengendara melipir, menunggu kemacetan parah tersebut reda.

‎”Kecewa, Mas. Udah datang jauh-jauh malah macetnya parah begini, nggak jadi nonton,” ungkap Galuh, seorang ibu-ibu yang berangkat dari Mijen bersama dengan seluruh keluarganya. Mereka melipir ke Muladi Dome untuk menikmati bekal yang dibawa dari rumah.

‎Sementara itu, di lapangan Tembak UNDIP, beberapa orang yang berhasil datang dan hadir pada festival Balon Udara tersebut juga kecewa. Pasalnya, festival Balon Udara hanya mengembangkan balon saja, dan hanya terdapat beberapa balon yang sampai diterbangkan. Bahkan, beberapa balon pecah, terbakar, dan juga rusak.

‎”Sebenarnya cukup senang, karena tidak perlu jauh-jauh pergi ke Wonosobo. Tapi macetnya itu parah banget. Barengan sama CFD. Seharusnya bisa memilih hari lain,” ucap Dimas Zaky Kurniawan, mahasiswa UIN Walisongo yang rela berangkat sejak pukul 05.00 WIB.

‎”Kalau kecewa nggak sih. Toh, ini event pertama yang ada di Semarang. Tidak jadi diterbangkan pun karena kendala cuaca. At least, jalannya diatur dong, jangan malah dibiarin macet sepanjang itu,” ungkap Amrulli, mahasiswa UIN yang berangkat dari Ngaliyan.

‎Dari rangkaian kekecewaan tersebut, maka pihak penyelenggara perlu belajar, untuk lebih memperhatikan keadaan yang akan terjadi. Mulai dari hal-hal teknis seperti balon-balon yang tidak mudah rusak, sampai ke hal-hal non-teknis seperti kemacetan yang mungkin terjadi, tempat parkir untuk pengunjung, dan sebagainya.

Penulis: Muhammad Hasan
Editor: Hanifah Shabrina

Tag:

Tinggalkan Balasan