Home / Berita / Di Bawah Langit Gubernuran, Saat Mahasiswa Semarang Menolak Diam untuk Rakyat

Di Bawah Langit Gubernuran, Saat Mahasiswa Semarang Menolak Diam untuk Rakyat

Di Bawah Langit Gubernuran, Saat Mahasiswa Semarang Menolak Diam untuk Rakyat (foto: lpmmissi.com/ Amel)

SEMARANG, LPMMISSI.COM- Jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB ketika aspal di sekitar kawasan Kantor Gubernur Jawa Tengah mulai dipadati oleh warna-warni jaket almamater. Sejak tengah hari, konsolidasi mahasiswa dari berbagai penjuru Semarang sudah bergerak. Mereka melakukan long march, memutar dari Tugu Muda hingga gedung gubernur provinsi Jawa Tengah, Senin (15/6).

Aksi yang digawangi oleh Aliansi BEM Semarang Raya (BEMSERA) ini membawa satu suara bulat yang mereka sebut sebagai “Pantura” atau Panca Tuntutan Rakyat. Diantara riuhnya orasi dan kepulan asap dari aksi bakar-bakaran di satu sudut yang sempat membuat massa bergeser menghindari provokasi, terselip cerita dari mereka yang memilih turun ke jalan.

Bagi Rafli seorang mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang ikut dalam barisan massa, aksi ini bukan sekadar panggung gagah-gagahan mahasiswa. Ada beban realitas masyarakat bawah yang sedang mereka pikul di pundak.

Baca juga: Amalan- amalan di Bulan Muharam

Dari lima tuntutan yang dibawa mulai dari penolakan militerisasi hingga pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) ia menegaskan bahwa isu penurunan harga BBM adalah yang paling krusial.

“BBM itu efek dominonya banyak sekali, mulai dari kenaikan harga bahan pokok, sandang, hingga papan. Ini yang paling memukul rakyat kecil,” ujarnya.

Baginya, sekat antara ‘mahasiswa’ dan ‘rakyat’ harus dilebur. Turun ke jalan adalah bentuk pertanggungjawaban moral sebagai kaum intelektual. “Alasan saya ikut (demo) sendiri untuk rakyat. Selain saya ikut terdampak, saya juga bagian dari rakyat. Kalau ada pemerintah yang zalim dengan kebijakan yang merugikan, sudah kewajiban kita bersuara untuk mengkritik,” tegasnya.

Bergerak ke sisi lain kerumunan, langkah kaki yang sama juga dijejakkan oleh Meira. Mahasiswa Ilmu Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini sudah bersiap sejak pukul 12.00 siang di kampusnya sebelum akhirnya bergabung di titik aksi pada sore hari.

Sebagai mahasiswa yang sehari-hari belajar mengenai politik di ruang kuliah, Meira mengaku sudah tidak bisa lagi menutup mata melihat kondisi politik hari ini. Ada rasa geram yang mendalam yang melandasi langkah kakinya membelah kemacetan Semarang.

Ia menyoroti bagaimana berbagai persoalan bangsa, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga konflik kepemilikan tanah rakyat, tak kunjung menemui titik terang di bawah kepemimpinan saat ini.

“Saya sendiri mahasiswa ilmu politik, dan saya sudah geram. Banyak sekali masalah yang terjadi, tapi tidak ada perkembangan atau perbaikan yang dilaksanakan,” ungkap Meira blak-blakan.

Ia juga melihat di mana gelombang protes terus bergulir di berbagai daerah di kepemimpinan Prabowo.

“Sejauh yang kita ketahui, dari Presiden pertama sampai kedelapan ini, demo paling banyak terjadi adalah di kepemimpinan Prabowo, bahkan saat periodenya belum selesai. Di sini, kita semua, seluruh rakyat Indonesia, menantikan perbaikan dari apa yang telah terjadi,” tutur Meira

Reporter: Nuril Baiti Amilia

Editor: Rafika Luthfia Zahidah

Tag:

Tinggalkan Balasan